Fakultas Tanpa Asap Rokok

_MG_1052

Memasuki Fakultas Kesehatan dan Ilmu Kedokteran (FKIK) Universitas Tadulako, seketika juga kita merasa tersuasanai dengan lingkungan yang bersih, menariknya, fakultas ini bahkan terang mengajak mahasiswa serta seluruh civitas akademikanya untuk tidak merokok di lingkungan FKIK. Kalimat-kalimat ajakan untuk tidak merokok terpajang di setiap pojok fakultas. Untuk melengkapi ajakan agar tidak merokok disembarang tempat, pihak fakultas memasang SK Rektor dalam bentuk penguman yang besar.

Kondisi asri serta keunikan FKIK yang berhasil menerapkan kawasan bebas rokok kurun waktu tiga bulan terakhir, menarik tim media tadulako Kamis, (16/9) bertandang langsung ke kantor Dekan FKIK, berbincang serta mengupas rahasia sukses beliau menciptakan kawasan bebas rokok.
“Sebenarnya kami hanya mengikuti aturan yang sudah ada, aturan perundang-undangannya kan sudah ada, peraturan gubernur juga ada, SK rektor juga ada, jadi kami ini pada prinsipnya tinggal mengikut,” tutur Dekan FKIK dr. Mohammad Mansyur Romi

Menurut dr Mansyur, kebijakan kawasan bebas rokok yang ia lakukan di fakultasnya juga merupakan upaya meningkatkan Indeks Pembangunann Kesehatan Masyarakat di Propinsi Sulawesi Tengah. Seperti yang dituturkannya, berdasarkan data tahun 2013 Indeks Pembangunann Kesehatan Masyarakat Propinsi Sulawesi Tengah berada di urutan ke-30 dari seluruh propinsi di Indonesia. Data tersebut mengacu pada beberapa indikator yang salah satunya adalah pola hidup sehat, termasuk merokok.

Ajakan masif agar tidak merokok di lingkungan FKIK juga merupakan upaya melindungi orang-orang yang tidak merokok. Dalam bincang santai sore itu, alumni Universitas Gadjah Mada ini menuturkan bahwa perokkok pasif bisa jadi lebih akan mendapatkan dampak yang lebih berbahaya dari pada perokok aktif.

_MG_1048“Perokok pasif itu bahkan lebih berbahaya dari pada perokok aktif, repotnya kan kita sering segan¬† melarang orang yang merokok di samping kita,” jelasnya.

Angka perokok yang terus bertambah di Indonesia, menurut dr Mansyur mestinya ditekan bila pemerintah mau serius membatasi iklan rokok. Baginya, iklan rokok yang masuk di hampir semua lini, memiliki andil yang sangat besar pada pertumbuhan jumlah perokok.

“Iklan ajakan merokok, dengan kampanye untuk meninggalkan rokok memang tidak sebanding. Iklan rokok mereka punya sumber dana, sekarang kita mau iklan meninggalkan rokok dananya dari mana,” inilah yang menurut dr Mansyur bila ada keinginan serius dari pemerintah, ada harapan untuk menekan angka perokok.

“Nah, yang bisa kita lakukan hanya semacam ini, apa yang kami lakukan di FKIK hanyalah sebuah ikhtiar kecil. Saya pun kalau jalan masih sering menemukan puntung rokok. Kami sadar, ini bukan kemudian serta merta orang akan merokok, tentu tidak,” terang dosen yang juga pengajar di Fakultas Kedokteran UGM ini.

Ditanya tentang ruang merokok yang ada di sejumlah tempat, Dekan FKIK ini menanggapi bahwa tempat tersebut memang dibutuhkan selama masa transisi. Ia juga berharap, ruang merokok itu dipakai oleh para perokok.

“itu dibutuhkan selama masa transisi, hanya saja, tidak boleh berhenti disitu. Baiknya ada program susulan agar betul-betul orang berhenti merokok,” tuturnya.

  1. Mansyur bersyukur, Universitas Tadulako sudah memili SK Rektor tentang larangan merokok di sembarang tempat. Menurutnya aturan tersebut bisa ditindaklanjuti dengan menggunakan pendekatan reward.

“Tidak perlu mungkin memberikan punishment pada yang melanggar, bisa juga dengan memberikan reward bagi yang taat aturan, menyelenggarakan lomba baik antar fakultas, atau lembaga,” imbuhnya.

Bincang-bincang yang berjalan santai itu memunculkan ide menarik dari tim media tadulako yang ikut serta bertandang ke kantor dr Mansyur. Vivi Sasmita, mahasiswa FMIPA ini mengusulkan tempat konsultasi bagi mahasiswa atau dosen yang ingin berhenti merokok.

“mungkin ada orang di kampus ini, baik dosen, pegawai atau mahasiswa yang ingin berhenti merokok, tapi tidak tau mau konsultasi kemana. Dia mungkin ingin tau lebih jauh tentang bahaya merokok, bagaimana cara berhenti merokok, atau zat-zat apa saja yang menyebabkan penyakit di dalam rokok,” tutur Vivi.

Usulan itu mendapat respon positif dari Dekan FKIK, agar ide itu bisa dibawa ke ranah mahasiswa. Baik dengan membentuk sebuah wadah komunitas, atau bisa dalam bentuk program lembaga kemahasiswaan.

Menyoal tentang rokok, dr Mansyur mengatakan bahwa ini menjadi tanggungjawab semua orang, semua disiplin ilmu. “Soal kesehatannya itu sudah jelas, kita tidak akan berbeda pendapat lagi, ini bisa dibahas dari sisi ekonomi, sosial, hukum, pendidikan, semua disiplin ilmu,” harapnya.

  1. Mansyur berharap, gerakan untuk menciptakan lingkungan bebas asap rokok bisa menjadi gawe semua pihak. Sebab menurutnya, seperti yang tertera dalam kemasan rokok, bahwa rokok benar-benar membunuhmu.

Tidak terasa, hampir satu jam kami berbincang dengan dr Mansyur, meresapi langsung ilmu secara ekslusif dari dekan FKIK ini. Kami pulang menyisir lingkungan FKIK yang bersih, lengkap dengan kalimat Selamat Datang di fakultas bebas rokok. (af)

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here