Mahasiswa Baru dan Pilihan Jurusan

 

DSC05585
Ika Novitasari (Pemerhati Pendidikan, Kader Forum Lingkar Pena Sulteng)

Menjadi mahasiswa baru adalah momen yang berkesan. Saat dimana seorang siswa bermetamorfosis menjadi “Maha”, “Siswa”. Maha, sebuah sebutan untuk sesuatu yang agung. Misalnya, Maha  Karya, Maha Penolong dan Maha Esa. Maka wajarlah jika mahasiswa baru dipenuhi euforia saat memasuki dunia kampus. Akan tetapi, banyak diantara mereka yang melupakan sesuatu yang seharusnya sudah dipertimbangkan jauh sebelum mereka menjadi bagian dari civitas akademika.

Banyak mahasiswa yang memilih jurusan tanpa alasan jelas. Sehingga, pada semester tertentu mereka merasa salah memilih jurusan. Alasan memilih jurusan pun beragam.

Pertama, setia dengan teman se-geng. Alasan mengikuti teman dalam hal memilih jurusan rasanya kurang tepat. Contohnya: Si A berteman dengan si B sejak SMA. Karena si A memilih jurusan tertentu maka si B juga memilihnya. Alasan seperti  ini sering sekali  kita jumpai saat bertanya kepada mahasiswa baru kenapa memilih jurusan tersebut. Alasan seperti itu menyiratkan kebimbangan. Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa sebenarnya si B belum punya keputusan akan memilih jurusan apa. Dari pada berpikir panjang yang akan menguras waktu dan tenaga, maka dia memilih jalan instan, mengikuti teman.

Menurut salah seorang netizen dengan nama 4muda, jurusan kuliah adalah pilihan cabang ilmu yang dipilih calon mahasiswa (seharusnya) berdasarkan minat/bakatnya yang telah ia gali sendiri selama sekolah (TK sampai SMA), atau dipilih untuk mendukung karir (profesi)nya dikemudian hari. Demikianlah definisi yang seharusnya menjadi alasan seorang mahasiswa baru memilih jurusan saat memasuki dunia kampus seperti yang dikutip dari http://4muda.com/. Jadi, jika mahasiswa baru telah memikirkan alasan memilih jurusan sejak dini akan sangat bermanfaat untuk masa depan mahasiswa tersebut.

Kedua, karena pilihan orang tua. Disatu sisi, mahasiswa baru mempunyai tanggung jawab sebagai seorang anak. Seorang anak haruslah berbakti kepada orang tuanya. Menyenangkan hati orang tua merupakan salah satu jalan untuk membuktikan bakti tersebut. Umumnya para orang tua akan senang jika anaknya mengikuti pilihan mereka termaksud dalam hal memilih jurusan saat kuliah. Disisi lain, jika hal tersebut bertentangan dengan keinginan si anak yang bersangkutan, maka akan terjadi konflik. Baik itu konflik secara frontal maupun konflik batin. Sehingga, proses penyerapan materi pada saat menimba ilmu tidak maksimal karena tidak dilakukan dengan ikhlas, sepenuh hati.

Weiten (1995:215) menjelaskan bahwa terdapat dua kemungkinan respon perilaku yang muncul dalam penyelesaian masalah sebagai proses adaptasi. Pertama adalah menghadapi secara langsung (fight), kedua adalah menghindar (flight). Dalam hal ini, jika seorang anak menghadapi masalah pertentangan keinginan dengan orang tua, maka yang terjadi adalah anak tersebut menjadi seorang pembangkang secara langsung seperti membantah orang tua maupun secara tidak langsung seperti tidak masuk kelas saat mata kuliah berlangsung.

Kesadaran dari diri sendiri dalam belajar sangatlah dibutuhkan. Karena jika hanya terpaksa mengikuti perintah orang tua maka hasilnya pun tidak maksimal. Fahrul (2014:137) menjelaskan bahwa kalau bukan dari kesadaran diri kamu sendiri memang belajar terasa berat. Bukannya jadi pintar tapi malah menjadi beban tersendiri. Kalau tidak segera dicari solusinya, bukan tidak mungkin kamu malah jadi stres dan anti sama aktivitas belajar. Jadi, jangan sampai belajar menjadi momok yang menakutkan bagi seorang mahasiswa baru.

Ketiga, pasrah, asal bisa masuk universitas negeri terkenal saja sudah syukur. Pendapat seperti ini sering pula kita dengar dari para mahasiswa baru. Ketidakpercayaan diri bahwa dia mampu memasuki jurusan yang dia idolakan. Memang masuk ke Universitas Negeri yang terkenal menjadi dambaan para calon mahasiswa baru. Persaingan memperebutkan kuota dalam SBMPTN sangat ketat. Hingga ada sebagian calon mahasiswa baru yang pasrah dengan apapun jurusan yang dipilihnya. Cenderung memilih secara “asal-asalan” dan memilih jurusan yang dianggapnya paling mudah. Akibatnya, saat sudah diterima menjadi mahasiswa baru, semangat belajarnya pun pudar. Kembali lagi mental “asal-asalan” itu muncul, asal bisa lulus, asal bisa dapat ijasah, asal bisa kerja.

Mahasiswa baru yang memilih jurusan tertentu haruslah mempuyai alasan yang tepat hingga mental pasrah menerima masuk di jurusan apapun bisa dihilangkan. Fungsinya untuk mencapai tujuan yang tepat pula saat menyelesaikan kuliah. Schwartz (2007:348) mendefinisikan bahwa tujuan adalah sasaran, cita-cita. Tujuan lebih dari sekedar mimpi; tujuan adalah mimpi yang diwujudkan. Tujuan lebih dari sekedar pernyataan kabur, “oh, saya berharap dapat.” Tujuan adalah  pernyataan yang jelas “Inilah apa yang saya usahakan agar tercapai.” Sehingga, ada target real yang akan dicapai mahasiswa dalam hal kemampuan akademisnya.

Mahasiswa baru berarti energi baru untuk mengemban amanah sebagai agent of change (agen perubahan). Membawa perubahan dalam tatanan masyarakat, perubahan yang lebih baik dari kondisi sebelumnya. Perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Memilih jurusan yang tepat adalah pondasi perubahan diri sendiri. Untuk melangkah ke perubahan-perubahan besar dalam masyarakat di masa yang akan datang.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here