Asmar, Presiden dari Selasar Mushallah

Asmar

Oktober kerap dikenang sebagai bulannya pemuda, di bulan ini peristiwa bersejarah itu lahir. Pemuda-pemuda Indonesia se-antero nusantara telah sama-sama berikrar, mengikatkan diri pada kesamaan rasa untuk bertumpah dara, berbangsa dan berbahasa Indonesia. Tak bisa dinafikan betapa pentingnya peran pemuda, pada setiap zaman dan masanya. Kisah-kisah heroik peran dan partisipasi pemuda mengisi zaman, berseliweran di buku-buku sejarah. Dan di sejarah apa saja, kita pasti akan menemukan pemuda.

Kelahiran pemuda-pemuda pejuang pengisi zaman, juga tidak lepas dari peran kampus, tempat ini menjadi cikal bakal lahirnya anak-anak muda yang tak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga mampu memimpin masyarakat. Tentang kampus dan pemimpin muda, pun berseliweran hadir di setiap daerah di Indonesia ini, bahkan trend itu terus memperlihatkan kemajuan, bahwa pemimpin daerah tidak sedikit yang merupakan jebolan dari pemimpin-pemimpin mahasiswa.

Di Tadulako, kita juga tidak kekurang stok anak-anak muda penuh karya dan menginspirasi. Mereka hadir dalam ruang-ruang sempit secretariat kemahasiswaan, mengisi waktu dan menyela aktifitas kuliah dengan berbagai kegiatan, belajar, juga berbagi pada masyarakat. Asmar adalah salah satu diantaranya.

Ketua BEM Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ini mengaku keinginannya menjadi ketua BEM berawal dari melihat kondisi pemuda yang menurutnya telah terkontaminasi dengan perubahan zaman yang merusak norma. Ia dan timnya ingin berperan di wilayah ini secara perlahan.

Selain itu, ungkap anak keempat dari lima bersaudara ini motivasi lainnya saat memutuskan mencalonkan sebagai Ketua BEM, karena ingin selalu menyuburkan nilai-nilai yang telah lama ditinggal. Ia berharap, tampilnya ia sebagai pemimpin bisa menjadi teladan baru akan role mode pemimpin mahasiswa.

“Negera kita ini penuh dengan nilai-nilai mulia, budaya yang tinggi, sayangnya perlahan itu mulai ditinggalkan bahkan oleh mahasiswa yang berkecimpung dengan hal-hal yang ilmiah. Bila kita buka sejarah, kita akan melihat tokoh-tokoh negeri ini tampil dengan karakternya sendiri, karakter Indonesia, dan mereka bangga,” tutur Asmar

Pria berkulit putih ini mengaku mengambil jurusan farmasi juga karena semangat berbagi. Baginya, ilmu yang dimilikinya nanti akan sangat berguna bagi masyarakat. Tak mampu bersedekah dengan harta, bukan berarti tak ada jalan lain untuk berbagi. Itulah alasan yang memantapkannya mengambil farmasi.

“Karena berasal dai keluarga kurang mampu dengan segala keterbatasan, saya tidak bisa bersedekah dengan materi. Tetapi saya bisa bersedekah dengan ide dan tenaga saya. Sehingga dengan melihat sikap terjang dari kefarmasian, tentunya menolong orang lain dari dunia kesehatan menjadi niatan pertama saya memilih jurusan ini,” ungkap lelaki yang hobi olahraga bulu tangkis ini.

Asmar yang pernah menjurai lomba Konservasi Hutan Tingkat Kabupaten pada 2012 lalu dan MTQ pada 2010, bertutur ingin menjadikan disiplin ilmunya sebagai ladang mencerahkan masyarakat

“Insya Allah dengan disiplin ilmu yang saya miliki khususnya di bidang obat-obatan, tentunya dapat bermanfaat untuk orang lain. Saya jadikan ingin jadikan ini sebagi ladang mencerahkan masyarakat. Kita masih melihat budaya-budaya pengobatan yang menimpang di masyarkat sebab ketidatahuan mereka. Ini bisa jadi kesempatan bagi saya untuk menyampaikan dengan ilmu yang ada. Dalam terminologi saya, ini dakwah namanya,” tuturnya sembari tersenyum.

Sebagai pemuda, menjadi pemimpin yang bertanggung jawab adalah bagian dari mengimplentasikan nilai yang terkandung dalam sumpah pemuda. Begitupun Asmar yang terus berusaha bertanggung jawab dengan amanah yang ia emban. Pada masanya, sejauh ini 16 lembaga terbangun sinergitas yang luar biasa. Langkah yang diambil Asmar dan timnya adalah, sekecil apapun masalah yang dihadapi, tidak boleh diputuskan oleh BEM sepihak. Tetapi dibicarakan dengan seluruh lembaga tersebut.  Pada akhirnya solusi yang disepakati dari hasil musyawarah adalah tidak dengan anarkis, dan demo.

Pemilik motto “bermanfaat untuk orang lain” ini mengatakan pemuda khususnya mahasiswa telah mengatasnamakan diri sebagai agen perubahan. Tetapi ia menyayangkan mahasiswa sebagai pemuda yang berkoar-koar hanya sampai pada lisan. Menurutnya, pemuda tidak akan mampu mengubah keadaan sebelum mereka mengubah diri sendiri. Sebab perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri.

“Kita akan mulai dengan perubahan-perubahan yang akan mendekatkan kita pada Tuhan, pada Allah SWT. Karena saya yakin dan percaya Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. Ini suatu penguatan bahwa seharusnya kita berubah,” ucapnya lagi penuh senyum.

Sebagai Presiden mahasiswa di FMIPA Asmar memang terkenal taat beribadah. Tak jarang mahasiswa asal Poso ini terlihat bercengrama di selasar mushallah. Baginya, pemimpin mahasiswa memang harus dekat dengan masjid, dekat dengan agamanya. “Kita harus percaya, agama itu membimbing kita, beribadah itu memberikan ketenangan, dan di sana sumber energi kita dapatkan,” tuturnya.

Sosok pemuda baginya juga adalah pemuda selalu yang berusaha menjaga bingkai keimanannya agar selalu berada pada jalan yang lurus sebagaimana para pemuda-pemuda dahulu yang memperjuangkan kemerdekaan. Di mata Asmar, sosok pemuda yang tak kalah dijadikan contoh adalah Ibrahim. Asmar bertutur dengan senyum yang tak henti-hentinya mengembang bahwa Ibrahim di tengah lingkungannya yang menyembah berhala, ia hadir dengan keberanian.

“Yang perlu kita lakukan di era millennium ini adalah kembali memilih lingkungan yang baik, dan memilih teman yang baik. Kapan lingkungan kita buruk, maka kita akan buruk. Begitu juga dengan teman. Jika kita berteman dengan pandai besi, kita akan terkena percikan apinya. Jika kita berteman dengan penjual parfum, kita akan kecipratan wanginya. Pemuda itu aset, banyak yang bisa terjadi di tangan pemuda. Sehingga, kita perlu tetap di jalan Allah untuk menjadi pemuda yang ideal, termasuk menjadi pemimpin,” ucapnya yang pernah menjadi Dewan Saka Wana Bakti Poso dan Dewan Penasihat TP. Al-Ishlah.

Di balik konsep pemuda berbalut kepemimpinan, Asmar mengaku dirinya termasuk lelaki yang manja pada ibunya. Sambil tersipu hingga sedikit memerah wajahnya, Asmar selalu memilih untuk tidur bersama ibunya jika ia mudik. Begitu juga jika ada masalah apapun, ia selalu cerita pada ibunya. Meski beberapa detik kemudian, ia mengaku mandiri jika sendiri. Ikr/af

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here