BERANGKAT DARI KEPRIHATINAN, DIWUJUDKAN MENJADI PENELITIAN

P1040854

Ekosistem  mangrove mempunyai peran penting dalam ekologi. Salah satunya yakni mangrove dapat menjadi greenbelt untuk ekosistem darat dan juga ekosistem perairan. Mangrove juga mempunyai nilai mitigasi dengan adanya daya penyimpanan karbon yang cukup cepat.Namun saat ini, sebagian besar ekosistem mangrove telah terdegradasi dan hal ini menjadi ancaman yang cukup serius untuk keberadaan ekosistem mangrove. Hal inilah yang mendasari Dr Bau Toknok SP MP untuk melakuakn penelitian yang berfokus pada kajian ekosistem mangrove.

“Melihat kondisi ekosistem mangrove kian terdegradasi, maka saya berpikir bahwa sangat perlu adanya upaya perbaikan. Maka dari itu saya tertarik untuk melakukan kajian terhadap ekosistem mangrove,” Tuturnya.

Penelitian dengan judul “Model Restorasi Ekosistem Mangrove”Bersama dua orang rekan timnya Dr Ir Hj Warda MFSc dan Ida Aryaningsih ST MP yang kesemuanya merupakan dosen di Fakultas Kehutanan Untad, mendapatkan bantuan pembiayaan dari Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) sejumlah 136 juta rupiah dalam waktu selama empat tahun sejak 2013 sampai 2016.

P1040858Kemudian pada tahun 2016 ini, dosen yang juga merupakan alumni Program Pascasarjana Ilmu Kehutanan Universitas Mulawarman ini pun, kembali melanjutkan kajian mengenai ekosistem mangrove secara fundamentaldengan judul penelitian yaitu,“Kajian Variasi Komponen Biofisik Ekosistem Mangrove dalam Mereduksi Energi Gelombang Laut”, dan kembali mendapatkan bantuan pembiayaan dari Dikti sejumlah 50 juta rupiah. Dalam mengerjakan penelitian ini, Dr Bau Toknok Bersama dengan timnya antaralain Dr Ir Hj Warda MFSc dari fakultas kehutanan dan Dr Ir Abd Hadid M.Si dari fakultas Pertanian Universitas Tadulako.

Menurut Dr Bau Toknok, bentuk perbaikan mangrove ada bermacam-macam, baik penanaman, maupun hanya dengan memerlukan perbaikan hidrologi.“Ada yang memerlukan perbaikan hidrologi tanpa perlu penanaman, ada yang sudah sangat terbuka sehingga membutuhkan tindakan penanaman untuk mempercepat perkembangan vegetasi mangrove. Untuk sistem hidrologi, kebanyakan yang terjadi adalah aliran sungai digunakan untuk lahan tambak dan pertanian, sementara dari laut pun tidak berjalan sebagaimana mestinya,” jelasnya.

Sulawesi Tengah memiliki 5 geomorfoligi yaitu pantai, muara, pulau, laguna dan darat. Hal ini menjadikan Sulawesi Tengah sebagai daerah yang potensial akan ekosistem mangrove. Beberapa daerah mangrove di Sulawesi antara lain Togean, Luwuk, Banggai khususnya diBanggai Laut.

“Masing-masing daerah itu mempunyai jenis mangrove yang bervariasi dan bahkan mangrove pada ekosistem di dareah yang sama pun akan bervariasi. Sehingga, tidak bisa untuk disama-ratakan perlakuannya. Masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri,” ujarnya Dr Bau Toknok.

Kebanyakan masyarakat saat inibelum mengetahui akan manfaat ekosistem mangrove. Adapun yang tau, belum mempunyai pengetahuan untuk dikembangkan ke skala industri. “Disinlah peran kita untuk terus mengkaji, lalu mesosialisasikannya. Sehingga daerah ekosistem mangrove tidak lagi dianggap sebagai tempat yang tidak berguna, kumuh, atau bahkan dijadikan hanya digunakan sebagai tempat pembuangan sampah. Padahal apabila ekosistem mangrove dirusak, maka dampaknya cukup besar bagi keberlangsungan hidup manusia. Hal-hal seperti ini yang perlu untuk menjadi perenungan kita bersama,” tegasnya.

Masih menurut Dr Bau Toknok, fasilitas yang disediakan oleh pemerintah untuk mendukung kegiatan penelitian, dalam hal ini Dikti cukup banyak. Namun kemauan untuk memanfaatkan peluang-peluang tersebut masih minim. Untuk itu, diperlukan adanya upaya saling memotivasi. Ia berharap melalui hasil penelitian yang dilakukannya dapat menjadi bahan rekomendasi kepada pemerintah tentang pengelolaan wilayah pesisir. (Wn)