DIUJUNG SENJA KAUM MUDA

IMG_5544Sudarsono, A.Md
(Ketua Kammi Daerah Palu)

Aku hidup.

Dalam lamunan aku bertanya,

Tentang arti sebuah kehidupan

Mungkin tak hanya jiwa ini yang memikirkannya

Hanya saja yang lain membisu dalam ketidaktahuan

Di dalam ketidaktauan, akan mendapatkan makna

Bahwa hidup bukan sekedar hidup

Rotasi hari adalah penggambaran kehidupan. Terang adalah masa hidup dan malam adalah kematian. Manusia terlahir dipagi hari bersama dengan munculnya mentari pagi. Kemudian mendekati kematian tepat seperti siang menuju senja hari.

Siang adalah medan perjuangan, pertempuran melawan kemunafikan, yang terhampar di sudut-sudut kehidupan ataupun yang bersemayam di dalam jiwa.

Kita terbangun di pagi hari dengan kesegaran, bersih dan menyenangkan. Menatap kehidupan seperti ingin hidup selamanya. Karena dunia baru kita, cukup indah dibandingkan dengan kehidupan rahim. Sungguh, segala kerahasiaan penuh dengan keindahan. Kemudian, manusia tumbuh besar dengan kecerdasan dan kedewasaan, ada yang menjadi penonton, pengamat, pemain dan ada juga sebagai penghujat. Pemain adalah pejuang.

Hari-hari pejuang adalah hari penuh dengan guratan dan luka pertempuran, terkadang pejuang tak merasakan buah perjuangannya ketika dia masih di dunia. Karena waktu yang ada tidak cukup untuk menyaksikan kemenangan. Tapi hikmah kemenangan sudah diperoleh ketika dia belum bertempur. Hingga dipenghujung senja, akan muncul harapan dan kebanggaan, seperti sebuah pernyataan yang dikutip oleh Paulo Coelho dalam buku Kesatria Cahaya.

“Meski telah melalui semua peristiwa yang pernah kualami, tak kusesali sedikitpun segala kesulitan yang kutemui di jalanku, sebab justru peristiwa-peristiwa sulit itulah yang telah membawaku ke tempat yang ingin kutuju. Sekarang yang kumiliki hanyalah sebilah pedang ini, dan akan kuberikan pedang ini pada siapa pun yang berhasrat melanjutkan perjalannanya. Di tubuhku banyak gurat nestapa dan bekas luka pertempuran semuanya saksi akan derita yang telah kutanggung dan tanda mata dari apa yang berhasil kutaklukkan. Gurat-gurat nestapa dan bekas-bekas luka yang berharga ini akan membukakan pintu gerbang Firdaus untukku. Dulu aku biasa mendengarkan kisah-kisah kepahlawanan. Dulu aku menjalani hidup semata-mata karena keharusan. Tetapi kini aku hidup karena aku seorang kesatria dan karena aku berharap suatu hari nanti aku akan tinggal bersama Dia yang menjadi tujuan perjuanganku selama ini”

Bersyukurlah bagi para pemain, karena hanya pemainlah yang akan merasakan sakitnya pertempuran, sengitnya pertarungan, lelahnya pergerakan dan pedihnya cacian. Merintih tapi tak ada yang menenangkan. Bahkan kadang dihujat. Dan sangat disayangkan karena para pecundang-pecundang di luar wilayah pertarunganlah yang membuat semua ujian itu.

Muda-mudi adalah pemain terbaik. Dia kekuatan di tengah dua kelemahan. Mampu berdiri kokoh menopang kemenangan. Kaum muda harus selalu menjadi pemain. Sehingga kaum muda janganlah bersembunyi di belakang ketakutan duniawi. Karena sejarah kemenangan selalu digaungkan oleh kaum muda.

Ketika kaum muda sudah mulai bangkit dan bergerak, memberikan deklarasi perjuangan. Maka saat itulah senja kemenangan sudah di depan mata. Saya teringat dengan deklarasi Sukarno pada saat berada dalam penjara penjajah, golongan tua datang menjenguknya dan mengatakan untuk berhenti dalam bercita-cita kemerdekaan. Untuk tak lagi bersikap konyol kepada penjajah, untuk tidak lagi bangkit mengecam penjajah. Maka Sukarno dengan tegas menyatakan “Ayam berkokok melihat fajar menyinsing, fajar menyinsing bukan karena kokok ayam. Tuan-tuan ini duduk nyaman di kursi Dewan Rakyat dan makan gaji-gaji negara sehingga bangun kesiangan. Kami ini anak muda yang mencari makan sendiri, sehingga kami ini bangun di waktu fajar dan kami sudah melihat fajar kemerdekaan di ujung timur, maka saya berkokok melihatnya.”

Kaum muda tak rela dibatasi gerakannya, dia menerjang ombak melawan angin laut. Tak berhenti karena badai. Karena idealitas kaum muda adalah idealis perjuangan, bukan idealis individualis. Ketika sukarno enggan menahan nafsu berjuangnya, meskipun ada benturan penjajah berdiri dihadapannya, maka pada saat itu kita melihat kaum muda sesungguhnya.

Lima hingga sepuluh tahun ke depan adalah masanya kaum muda. Masanya kaum produktif yang mampu mendeklarasikan perjuangan. Masa yang telah Allah titipkan kepada Indonesia, yaitu bonus demografi. Bonus demografi adalah dominasi kaum productive (muda) terhadap kaum unproductive (anak-anak dan tua). Saat itulah masanya kaum muda. Menjadi striker dalam setiap pertarungan, dan selalu mengisi kemenangan.

Namun, bonus demografi tak berarti sebuah kebaikan. Karena bonus demografi bisa menjadi bencana. Ketika kaum muda tak dibina dengan baik, kaum muda menjadi kaum melankolis, pesimis, tanpa ghiroh, labil tanpa arah dan dapat menjadi penyulut bencana. Karena kaum muda layaknya pedang, dia memberi manfaat dan memberi kemenangan jika dimanfaatkan dengan benar. Dan dia menjadi bencana ketika tak mampu dikendalikan. Sehingga, kita perlu memperhatikan tumbuh dan berkembangnya kaum muda. Meningkatkan kecerdasan spiritual dan optimalisasi wawasan. Mendidik jiwa kritis dan kepedulian terhadap sosial. Hingga mereka tumbuh menjadi kaum muda intelegensi yang productive.

Renald Kasali menuliskan dalam bukunya Re-Code Change Your DNA “Perubahan pada dasarnya bukanlah menerapkan teknologi, metode, struktur, atau manajer-manajer baru. Perubahan pada dasarnya adalah mengubah cara manusia dalam berpikir dan berperilaku.”

Cara berfikir dan berprilaku kaum muda perlu mendapatkan perhatian agar memiliki orientasi hidup. Tak labil oleh kemilau dunia dan berjuang untuk kesejahteraan manusia. untuk sampai pada sebuah perubahan yang besar (peradaban) maka kita harus memperbaiki cara berfikir dan berprilaku kaum muda. Karena, ketika kaum muda telah sampai pada kematangan berfikir dan berprilaku, dia akan bangkit dan bergerak untuk memberikan pembaharuan teknologi, metode, struktur dan segala aspek-aspek penunjang sebuah peradaban.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada di peringkat 108 dari 187 Negara di dunia. Demikian juga secara Provinsi, IPM Sulawesi Tengah menempati peringkat ke 22 dari 34 provinsi. Padahal IPM itu mempengaruhi kualitas kaum muda di suatu wilayah. Dengan peringkat itu apakah kita sudah siap menyambut bonus demografi? Siap tidak siap bonus demografi akan tiba.

Jika melihat kondisi kaum muda kita saat ini, maka wajarlah IPM kita rendah. Kaum muda kita didominasi oleh kaum muda individualis, kaum muda pragmatis, kaum muda tanpa semangat perjuangan, kaum muda tanpa semangat nasionalis. Itulah wajah pemimpim-pemimpin masa depan. Benar seperti sebuah pepatah arab “pemuda-pemuda saat ini adalah pemimpin-pemimpin masa depan”. Jikalau kita diam dalam keterpurukan kaum muda. Maka sama saja kita diam melihat masa depan Indonesia.

Organisasi adalah salah satu wadah pembentuk semangat perjuangan, semangat nasionalis dan semangat solidarity. Tidak boleh kaum muda kita tak berorganisasi. Dia harus masuk dalam organisasi-organisasi kebaikan, yang membentuk karakter dan cara berfikir. Guru dan sekolah harus mendorong siswa untuk berorganisasi. Dosen dan kampus harus memfasilitasi mahasiswa untuk berorganisasi. Pemerintah dan Negara harus memberikan support terhadap organisasi-organisasi baru, untuk dapat tumbuh dan berkembang.

Sehingga, kita akan mewariskan negeri ini untuk generasi emas yang membawa kepada Indonesia emas. Dan tidur panjang kita tak akan dihantui oleh perasaan bersalah dalam pewarisan generasi masa depan. Karena sejatinya orang-orang yang enggan melihat masa depan adalah mereka yang tak memiliki semangat hidup panjang.

Ingatlah kawan! Malam hanyalah sebuah perpindahan. Senja adalah lorong waktu menuju perpindahan. Manusia akan selalu meragukan kehidupan baru sehingga tak ingin meninggalkan hari siangnya. Meskipun manusia mengetahui bahwa malam adalah gelap, dan gelap adalah objek kebencian. Tapi, manusia tak tahu sejatinya ditengah malam itu Allah telah menyiapkan penyinaran yang penuh dengan kebahagiaan.