HALAQAH TAHSINUL TILAWATIL QUR’AN 1437 H, Latih Mahasiswa Menjadi Pementor Cerdas

Adi Nur Alim (Halaqah Tahsinul Tilawatil Qur'an LDK UPIM)
Para peserta wanita dari LDF se-Universitas Tadulako saat menerima materi di Halaqah Tahsinul Tilawatil Qur’an (HTTQ) yang diadakan oleh LDK UPIM Untad di Islamic Center, Untad.

Lembaga Dakwah Kampus Unit Pengkajian Islam Mahasiswa (LDK UPIM) Universitas Tadulako (Untad) menggelar Halaqah Tahsinul Tilawatil Qur’an (HTTQ) dalam rangka agenda pelatihan pementor sekaligus pengajar Al-Qur’an mahasiswa/i se-Universitas Tadulako. Agenda HTTQ dengan tema “Mencetak Pengajar Berkompeten dan Berakhlaq Qur’ani” ini berlangsung selama dua hari, dari hari Sabtu, 1 Oktober sampai Ahad, 2 Oktober yang berlokasi di Islamic Center, Untad.

Sekitar 50 orang peserta yang terdiri dari pria dan wanita, yang mewakili setiap Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) di Untad menghadiri pelatihan ini. Gabungan LDF se-Universitas Tadulako dalam acara HTTQ kali ini merupakan salah satu langkah menuju terbentuknya Pementor yang cerdas. Beberapa LDF yang mendelegasikan pesertanya adalah MPM AL-Jihad FISIP, TP. AL-Ishlah FMIPA, TP. Darul Ulum FKIP, MPM An-Nahl Fapetkan, LPIMK Ar-Rahman Fahutan dan FKI Asy-Syifa FKIK.

Pada kesempatan kali ini mahasiswa muslim dari berbagai LDF mendapatkan rangkaian materi yang diharapkan dapat membentuk pribadi mereka menjadi ‘Pementor Cerdas’, mereka dibekali penguatan terhadap ad-dienul Islam, berupa materi tentang Urgensin Tahsin, Shiroh Sahabat tentang bagaimana kisah para sahabat Rasulullah SAW dalam memperjuangkan agama Islam hingga tersebar sampai saat ini, Pembentukan kelompok tahsin dan evaluasi tahsin (bacaan Al-Qur’an).

“HTTQ merupakan gerbang awal untuk menjadi seorang pemuda yang berkompeten dan berakhlaq qur’ani, pemuda yang baik dalam kepemimpinan dan menguasai kompetensi-kompetensi pengajar Qur’an berkualitas yang dibutuhkan oleh umat saat ini” ungkap Herlangga, Ketua LDK UPIM Untad.

Seperti yang telah diketahui bersama, bahwa Universitas Tadulako memiliki banyak fakultas, ladang dakwah pun menjadi luas untuk para aktivis mahasiswa muslim, maka pelatihan tersebut diharapkan bisa menjadi sarana untuk mengelola dakwah kampus khususnya Untad.

Salah satu pemateri Tahsin atau Bacaan Al-Qur’an, Ustadz Agustan mengajak mahasiswa agar jangan hanya “Membaca Al-Qur’an”, tapi “Memaknai Al-Qur’an”. Menjadi pengajar Al-Qur’an itu tidak boleh asal-asalan, karena bila satu huruf di Al-Qur’an saja keliru maka akan mengubah maknanya. Hal ini sangat penting untuk dijelaskan, karena ternyata ada salah satu ayat dalam surat Al Fatihah, yang jika dibacanya ‘salah’, maka maknanya akan sangat berbeda dan malah bisa menjerumuskan kita dalam jurang kemusyrikan.

“Ayat yang dimaksud adalah ayat 5, ‘Iyyaa Kana’budu Wa Iyyaa Kanasta’iin’. Ayat ini mempunyai arti ‘Kepada Engkau-lah (Allah) kami menyembah dan kepada Engkau (Allah) kami meminta pertolongan’. Apabila bagian tersebut dibaca ‘Iya’ atau disebut tanpa tasydid, artinya adalah ‘matahari’. Dengan demikian, artinya menjadi “Kepada mataharilah yang kami sembah dan kepada matahari kami meminta pertolongan. Mengerikan bukan? Kita berniat menyembah dan meminta pertolongan hanya kepada Allah, namun karena salah tajwid  atau kurang tasydid, sembahan kita melenceng menjadi matahari seperti halnya kaum Mesir, yang menyembah Ra, dewa matahari. Materi tahsin ini sangat penting agar tidak ada kesalahan bacaan yang terjadi di kalangan mahasiswa,” ujarnya.

Ketua Panitia, Asgiarto Montilalu atau biasa disapa Agin mengatakan bahwa beberapa LDF yang berada di Untad ini bertujuan membentuk gerakan dakwah yang lebih cerdas dan massif lagi, dengan bersama-sama berada di kegiatan ini sebab memenuhi fungsi untuk mengekspansi ladang dakwah khususnya di Untad itu sendiri.

“Maka kegiatan pelatihan ini merupakan bukti kesungguhan dari pengurus agar dakwah dapat terus berkembang khususnya di Untad, dimana Untad sendiri memiliki beberapa fakultas yang menjadi ladang dakwah bagi para aktivis mahasiswa muslim,” kata mahasiswa Fisip angkatan 2013 ini.

Di akhir acara, para peserta diarahkan bergabung dengan kelompok/halaqah tahsin yang telah dibagi untuk agenda evaluasi tahsin nantinya. Mereka juga akan terus di follow up agar bisa menjadi muslim cerdas yang menebarkan aroma kebaikan di fakultasnya atau di tempat manapun ia berada.Ana