MAPANE (Pahlawan Perempuan)

“Tugas mencari asal mula nama sebuah desa akan dipresentasikan pekan depan. Setiap satu kelompok, membahas satu desa.” seorang Ibu paruh baya memberikan arahan 28 anak-anak yang duduk teratur dibangku mengenakan seragam putih abu-abu.

“Ibu, pake power poin?” tanya seorang anak laki-laki berambut keriting gondrong, mengenakan baju putih yang kecoklatan, seperti tidak dicuci selama dua pekan.

“Ee, Taruf,  kau lihat ada tempat colokkan dikelasnya kita ini. Bara nabaya kau ini, sejak kapan disekolahnya kita pake power-power begitu.” timpal seorang anak laki-laki lainnya yang berpenampilan tidak jauh beda dengan anak pertama.

“Saya cuma bercanda Mading, majalah dinding.” sahut anak berambut keriting, melototi temannya yang sedikit sewot.

“Jangan lupa, pekan depan semua harus presentasi, kalau ada anggota yang pasif, ketua kelompok catat namanya dan kasih ke saya.” Ibu paruh baya itu mempertegas perintahnya tanpa memerdulikan ocehan kedua muridnya. Mengumpulkan perlengkapan mengajarnya, berjalan mendekati pintu, lalu hilang dari pandangan murid-muridnya.

Suasana kelas mulai gaduh dengan sorak-sorai murid-murid kelas XII IPA SMA Negeri 2 Balaesang. Deretan kursi yang tadinya tersusun rapi, kini acak-acakkan seperti kapal yang baru saja terhantam badai.

“Tias, desa mana yang mau kau teliti?” seorang anak perempuan lainnya menepuk bahu Tias yang sedang berdiri dibangkunya, merapikan perlengkapan belajarnya.

“Desa Labean.” Jawab Tias singkat tetap sibuk dengan tas dan buku-bukunya yang sedang dirapikan.

“Marni sudah boking itu.”

“Iiisss.” Tias berdesis,menarik nafas.

***

Ketika surya telah terbangun dari tidurnya sebelum ia sempurna menghangatkan bumi, embun-embun mulai menggelayut didaunan hijau subur. Pepohonan yang tumbuh dengan baik beberapa menghasilkan buah yang segar ada yang telah beranjak ranum dan memerah. Hamparan pedesan terlihat indah terbungkus selimut putih sejauh mata memandang. Desa kecil, dikelilingi hutan hijau dan memiliki ladang sawah yang luas. para penduduk rata-rata berprofesi sebagai petani dan sebagiannya berternak. Begitu tenang, begitu teduh.

Ketika senja hampir tiba dengan aura yang begitu sempurna, rombongan burung-burung yang tak pernah alpa bermain dilangit-langit persawahan berkali-kali melintasi kening langit yang tak pernah berhenti meninggalkan suara berisik. Para pecangkul yang seharian menggarap sawah, telah diguyur deras air tubuh, mulai mengakhiri pentasnya dan beranjak pulang ke keluarga yang telah siap dengan nanakkan nasi di tungku. Tetapi semua ketenangan ini telah berubah hanya hitungan sekali mata berkedip. Desa yang tadinya binar kini punah dilesaki gurat-gurat kecemasan. Serdadu dan bunyi letusan mulai merobek langit dengan suara-suara yang mendebarkan hati. Tak ada lagi suara kecipak riang ditelaga sawah. Tak ada lagi decit anak pipit di area perhutanan. Tanah yang dulunya subur dengan air hujan, kini banjir air mata dan darah. Tepat pada tahun 1943, tepat 1 tahun Jepang menjajah Indonesia. Desa ini, kehilangan kebahagiaannya.

***

“Mau kemana lee?” tanya seorang Ibu tua, berbaju kusut, memegang sapu lidi di tangan kanan, dan tangan kiri melingkar kebelakang.

“Mau pigi ba-ajar (Mengajar), Tante.” jawab seorang wanita berwajah mulus kecokelatan,  berstelan rapi, dengan rambut ikal dikuncir keatas,

Nasemangat mpu ranga komiu.( Anda, sangat bersemangat.)”

Iye, ala mapandeja ngana manggubine ri kampung kita hei. (Iya, agar anak perempuan dikampung ini menjadi pintar.)”

Kana mohati-hati le.(Berhati-hatilah)” Ibu tua memandang wanita tersebut, sambil menggerakkan tangannya yang menggenggam sapu lidi menyapu pekarangan rumahnya.

“Iye.” wanita itu berlalu meninggalkan Ibu tua.

Mapane adalah wanita berwajah coklat, usianya telah menginjak 25 tahun. Keturunan bangsawan kaili yang kerajaannya berpijak di Tavaili. Setiap subuh, ia telah bangun menyiapkan pakaian yang akan dipakainya esok. Seterika besi berbahan bakar arang adalah alat yang digunakannya untuk mengusir kusut dipakaiannya. Jika pagi telah tiba, ia berjalan menyusuri rumah penduduk, lalu pematang sawah menuju sebuah bangunan petak, berdinding gabah, berlantaikan tanah, beratapkan daun kelapa kering yang tersusun rapi dilangit-langit. Tas pinggang yang terbuat dari karung kopra tidak pernah alpa menemaninya menenteng buku-buku kusam dan sebuah pensil. Bermodalkan ilmu dari buku-buku pemberian sahabat bangsa Belanda kepada Ayahnya yang merupakan adik dari raja yang berkuasa. Ia datang ke desa kecil tak bernama ini, dengan niat menyusuri setiap suku yang terdapat di wilayah kekuasaan raja pada saat itu untuk diajarkan tentang cahaya kehidupan yang harus diraih yaitu ilmu.

Pagi ini, ia berjalan seperti biasa, senyum tipis tidak pernah berhenti melukis wajah mulus coklatnya ketika berpapasan dengan penduduk desa. Berjalan dengan tenang menuju gedung yang beberapa menit lalu telah ada 8 remaja menanti kedatangannya untuk mengenalkan mereka kosa kata baru, atau hanya mendengarkan beberapa kisah. Disanalah, tempat Mapane mendidik remaja wanita dikampungnya. Tak ada murid laki-laki, beberapa pemuda desa telah diambil oleh tentara-tentara Belanda. Sampai setelah Belanda berhasil diusir mundur oleh Jepang pada Maret 1942 tahun lalu, para pemuda desa ini, tidak juga kembali. Meski tidak ada pengrusakkan yang dilakukan Belanda, namun merebut anak laki-laki mereka telah mencabik-cabik hati dan kehidupan para penduduk desa.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Roa, naratamo Tante. (Kawan, Ibu sudah datang)” teriak Ramlah, anak remaja berambut merah memanggil 7 temannya yang asyik bermain di mata air panas di belakang bangunan gabah. Melemparkan ranting-ranting kering kedalamnya.

Wei, nariamo i Tante. (Hei, Ibu telah tiba.)”  beberapa remaja yang berdiri di bibir sumur mulai berlarian cekikikan menuju bangunan gabah tua.

Para remaja putri yang tetap setia menimba ilmu dari sumur gabah tua hanya berpenampilan seadanya, kadang datang dengan kaki telanjang tanpa membawa buku, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat mereka sedikitpun untuk menyerap apa saja yang disampaikan oleh guru mereka. Duduk teratur berlantaikan tikar anyaman daun enau kering, tanpa meja, tanpa bangku. Di depan mereka berdiri sosok wanita sederhana dan selalu ikhlas mengajar mereka, tidak ada upah bulanan. Senyum dan antusias para muridlah yang menjadi upah tidak ternilai.

“Hari ini, kita belajar membuat puisi bahasa kaili.”

Beriva toka etu? Eva nasusah etu Tante? (Caranya bagaimana? Sepertinya sangat susah.)” tanya Leha gadis remaja dengan dagu terbelah, kulitnya sawo matang, wajahnya mulus, mata beningnya memantulkan cahaya matahari yang merambat dari lubang kecil pada atap. Wajah bingungnya tidak sedekitpun membuat mata yang menatapnya lelah.

Rai nasusa, ane komiu poro mosungguh-sungguh belajar. (Tidak akan susah, jika kalian bersungguh-sungguh dalam belajar.)” Mapane berusaha meyakinkan murid-muridnya.

Kedelapan murid Mapane mulai mengeluarkan alat tulis pensil yang terbuat dari ranting tumbuhan Tambu yang diruncingkan. Tumbuhan tambu adalah pohon andalan masyarakat di desa ini. Rantingnya yang apabila ditajamkan dan dituliskan pada sebuah kertas putih, ia akan meninggalkan warna coklat, mirip seperti crayon. Kulit pohonnya, jika dikeringkan dapat dijadikan sebagai media tempat menulis pengganti kertas. Inilah alat tulis-menulis yang digunakan murid-murid Mapane. Namun, selain sisi baik itu, tambu memiliki racun mematikan pada buahnya. Berbentuk bulat seperti biji buah pala, buah tambu dapat membuat orang mati seketika apabila meminumnya, memakannya, dan menghirup uapnya jika dipanasi, walaupun perkembangan racun tambu jika diuapi tidak secepat memakan atau meminumnya tetap saja racun yang dimilikinya 100 kali lebih mematikan daripada bisa ular. Masyarakat didesa ini, sangat berhati-hati dengan buah tambu.

Tante, beriva momulaina hei. (Ibu, bagaimana cara memulainya?)” ujar Hara, remaja berambut lurus. Memaksa remaja lainnya untuk diam, dan menatap ke arah Mapane, menunggu jawaban dari pertanyaan tersebut.

Belum sempat Mapane menjawab pertanyaan Hara, tiba-tiba di luar bangunan, suara-suara gaduh teriakkan orang terdengar begitu ramai. Memaksa Mapane untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi. Kedelapan muridnyapun berlarian ke bingkai pintu bangunan tua yang berdinding gabah tersebut.

Sudah 10 bulan Jepang berada di desa kecil ini. Pelajaran puisi kaili adalah pelajaran terakhir yang diberikan Mapane kepada murid-muridnya, sejak datangnya puluhan kapal perang tentara Jepang di teluk Mapaga, yaitu di daerah pantai desa kecil ini. Mapane hanya bisa merintih melihat penderitaan wanita-wanita muda dan remaja-remaja putri dikampungnya. 10 bulan yang terasa bagai 10 tahun, jumlah penduduk yang hanya berkisar 180 orang kini telah menjadi budak tentara Jepang.

Bangunan gabah yang dulu adalah kelas mereka sekarang telah menjadi bangunan berdindikan bata dengan bak mandi besar didalamnya. 8 remaja murid-murid Mapane menjadi babu dibangunan gedung bata tersebut. Setiap hari mereka menimbah air dari sumur mata air panas membawanya ke dalam gedung dan memasukkannya ke dalam bak, untuk tempat berendam orang-orang Jepang..

Jepang semakin bertindak sadis sejak 3 bulan terakhir, perempuan-perempuan muda di kampung ini, tidak hanya menjadi babu secara fisik tetapi mereka juga menjadi budak seks, termasuk Mapane dan murid-muridnya.

Mapane dan perempuan-perempuan muda di desa tersebut, dikurung dalam tempat yang mirip sebuah kandang. Mereka dibiarkan terlelap di dalam tanpa selimut, kasur, dan bantal. Baju mereka yang acak-acakkan, wajah yang kusam, tubuh yang kurus akibat hanya makan sisah orang Jepang, kulit penuh dengan goresan bekas luka cambuk. Darah-darah kering masih menempal diluka mereka. Sebuah pemandangan yang menyayat hati, tidak ada tentara Indonesia yang menolong, tidak ada perlawanan yang berarti. Di desa ini, dengan sedikit pemuda, mereka hanya bisa pasrah.

Tante, tolongi yaku. (Ibu, tolong saya!)” suara serak seorang remaja yang terbaring lemas menarik rok Mapane dengan sisah-sisah tenaga. Nafasnya tersengal-sengal.

Nakuya iko Leha? (Leha, ada apa denganmu?)” Mapane menyentuh tubuh anak remaja tersebut. “Napane koromu. Oh Pue, tolongi ranga Kami. (Badanmu demam. Ya Allah, tolong selamatkan kami.)” Bulir-bulir itu tidak lagi sanggup dibendungnya, begitu deras menetes, berjatuhan kepipinya.

Belum sempat hilang sesak dadanya menyaksikkan kedelapan murid dan perempuan-perempuan di desa ini tersiksa, kini luka dihatinya kian nganga melihat Leha menderita. Apa yang mesti dilakukan. Memberitahu orang Jepang? Hanya akan membuatnya semakin parah, Leha akan diseret keluar, dibiarkan kedinginan bertemankan malam pekat dan suara kelelawar. Seperti yang telah orang Jepang lakukan pada penduduk desa yang sakit sebelumnya. Orang itu meninggal dengan sangat menyedihkan. Jasadnya lalu dibakar. Bahkan dalam kondisi telah meninggalpun mereka masih mendapatkan penganiayaan.

Mapane mengangkat kepala Leha yang terbaring disampingnya, meletakkan di pahanya. Tangan kanannya mengusap-usap rambut Leha, dan tangan kirinya diletakkannya di bahu Leha.

“Praaakkkkk…”  pintu kandang berdebam, dibuka dengan kasar oleh algojo Jepang.

“Heh, Kau keluar.” sosok lelaki muda bermata sipit, hidung pesek, kulit putih, berbadan tegak, berdiri dibingkai pintu kandang, lidahnya terdengar belum akrab dengan bahasa yang digunakan Indonesia pada saat itu, jari telunjuknya mengarah ke Leha.

Seorang pemuda lain memasuki kandang, melewati pemuda bermata sipit tadi. Tanpa bicara, ia langsung menarik satu wanita desa dari dalam kadang keluar. Lagi, satu pemuda datang, mengambil wanita desa yang lain. Pemuda sipit itu masih berdiri dibingkai pintu, membiarkan teman-temannya mengambil tawanan.

“Kau, cepat keluar.” bentaknya. Memandang Leha lebih geram.

“Tidak. Tolong jangan, Leha sedang sakit, badannya panas.” Mapane mengiba, tangannya memeluk erat tubuh Leha yang hangat. Mapane tahu persis mereka yang telah diseret keluar akan melayani nafsu bejat para penjajah tersebut.

“Cepat keluar.” lagi, pemuda itu lebih keras membentak, tangannya menarik tangan Leha, memaksanya menuruti keinginannya.

“Jangan, Leha sedang sakit. Dia tidak akan bisa melayani Tuan, biar saya yang gantikan dia. Saya bisa gantikan dia.” Mapane terisak, air matanya tumpah di wajah Leha yang terbaring lemas dipangkuannya. Sakit di hatinya kian nganga merelakan dirinya ditiduri lelaki bejat demi menyelamatkan muridnya.

Di luar kandang, perempuan-perumpuan desa yang masih berusaha melawan, berkali-kali kena cambuk, namun bedan di tubuh mereka tak seberapa dengan luka di hati yang kian nganga menanah. Lafaz-lafaz Allah tidak pernah kering di lisan mereka yang sudah mandi darah, berharap sebuah keajaiban, malaikat, atau apalah yang dapat menolong mereka dari kebrutalan orang jepang.

Tawanan yang masih tetap dalam kandang saling memeluk lutut masing-masing hanya menunggu giliran kapan mereka akan diseret keluar. Leha yang masih terbaring lemas, memandang penuh sesal ke arah Mapane yang keluar kandang dengan pasrah, tanpa diseret Ia rela tubuhnya dijama, asalkan Leha tidak disentuh. Sedang Leha kini lelap dengan isakkannya.

Sekawanan kelelawar menggantung di pucuk  ranting pohon Tambu, suara mereka seakan-akan ikut terisak menyaksikan penderitaan Mapane dan penduduk desa. Bulan yang kian matang, cahayanya terlihat meredup ikut berduka.

“Leha, bangun.”

“Hhhhssss…” desis Leha, mata katupnya terbuka perlahan oleh suara seorang wanita.

“Leha, Lari.” perintah suara itu.

Mata Leha terbuka sempurna, tak ada lagi orang di dalam kadang selain dirinya dan wanita muda itu.

“Bangun, cepat lari.”

Leha masih memandang bingung, wajah cokelat yang tidak asing itu kian pucat, bibirnya yang dulu merah, kini membiru.

“Dimana orang-orang.” Leha bergumam dalam hati.

***

“Tias, sudah kau dengar kabar tentang Kakek yang di Mapane, Narasumber penelitianmu?”

“Belum, memangnya Kakek itu kenapa?”

“Meninggal dia tadi malam.”

“Innalillahi wa innailaihi rooji’un.”

Tias memandang ke layar laptop di bagian kanan bawah, pukul 11:21 pm. Sms yang berasal dari teman sekelompoknya itu memaksa ia menghentikan jemarinya yang sedang asyik menekan keyboard. Ia pun menshut down laptopnya. Melentangkan tubuhnya di atas kasur. Memandang ke langit-langit kamar. Bulir-bulir hangat menetes dari mata maniknya, membentuk bulatan basah pada sarung bantalnya. Di benaknya terbayang wajah Mapane, seperti apa cokelat kulitnya, mulus wajahnya, dan tulus hatinya. Ia tidak menyangka ternyata di desa yang menjadi tempat pertama kalinya Ia datang ke bumi sejak tahun 1993, hingga ia menetap didesa ini hingga tahun 2010 sekarang. Ternyata ada seorang pahlawan yang tidak tertulis namanya dalam buku sejarah. Namun telah berjasa menyelamatkan beberapa wanita di negeri merah putih ini dengan mengorbankan dirinya sendiri. Ia meninggal sebagai pahlawan perempuan dari suku kaili yang menyelematkan perempuan-perempuan di desanya. Meski yang Ia selamatkan hanyalah beberapa orang saja, tetapi itu tidak bisa menutup fakta bahwa Mapane juga termaksud pahlawan perempuan Indonesia.

Setiap orang adalah pahlawan untuk desa, keluarga dan dirinya sendiri.” Benak Tias.

***

“Tias hari ini presentasi, bagaimana dengan tugasnya kita?” Taruf  berusaha mengejar Tias yang berjalan didepannya.

“Tugas kita sudah selesai.” Tias terus berjalan, menjawab pertanyaan Taruf tanpa memandangnya.

Di dalam kelas, 28 murid XII IPA telah siap dengan hasil penelitian mereka.

Kini giliran kelompok Tias.

Malam itu, sebelum Mapane diseret keluar kandang untuk mengantikan posisi Leha. Ia telah mengatur rencana untuk membasmi kependudukan Jepang di desanya. Sore sebelumnya, ia menyuruh Ramlah mengumpulkan tumbuhan Tambu yang berguguran, menemukan buahnya tidak susah di desa ini, pohon tambu tumbuh lebat 500 meter dari sumur air panas. Saat perempuan-perempuan desa diperintah untuk menimba air panas, Mapane menyuruh Ramlah dan Hara berpura-pura mengumpulkan ranting ditengah hutan sebagai bahan bakar, diam-diam masuk ke dalam hutan, sangat hati-hati, mengingat Jepang yang terus mengawasi mereka. Sedangkan Mapane berdiri dipinggiran sumur, menimba air dari dalamnya, dan mengisi deretan ember di depannya, beberapa perempuan desa bolak-balik mengangkat ember tersebut.

Senja kian matang, Ramlah dan Hara pulang membawa tumpukan buah tambu yang disembunyikan dalam bajunya. Ketika sang Surya tenggelam sempurna, Mapane menuangkan semua biji tambu ke dalam sumur air panas. Orang-orang Jepang tidak menyadari bahwa air tempat mereka berendam telah teracuni. Racun tambu yang menjadi uap lalu terhirup akan menyatu dengan segala jenis cairan yang ada dalam tubuh, seperti keringat, air kencing, darah dan sperma. Cairan ini juga akan menjadi racun jika berpindah ke tubuh yang lain. Tubuh yang terkena racun tambu akan membiru sebelum akhirnya dingin tak bernyawa.

Para perempuan desa yang melayani tubuh orang Jepang yang teracuni juga ikut terkena bisanya, termaksud Mapane. Sejak saat itu, sumur mata air panas berubah warna menjadi hitam pekat seperti kopi karena racun tambu. Tempat itupun dinamai Mapane oleh masyarakat setempat. Hingga 2005, Mapane dimekarkan menjadi sebuah desa.

Di dalam kelas, setelah presentasi.

“Tias, pulang sekolah kau mau kemana?” Marni menghampiri Tias yang masih asyik memperhatikan makalah yang baru beberapa menit lalu dipresentasikannya.

“Saya mau berkunjung ke sumur air panas, Mapane.”