Pemuda Hari Ini, Cerminan Pemimpin Masa depan

IMG_5557Memasuki bulan oktober, tentu sebagian dari kita akan mengingat bahwa bulan ini adalah bulan bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Bulan dimana 88 tahun yang lalu, pemuda Indonesia menggaungkan diri untuk bersatu demi bangsa.

28 Oktober 1928, pemuda dari seluruh pelosok Indonesia berkumpul dan bersatu demi cita-cita bersama. Masihkah kita ingat kalimat dibawah ini, yang kerap kali kita temui dalam buku pelajaran sejarah?

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia. Teks sumpah pemuda yang menjadi pengikat bagi pemuda dari seluruh Indonesia, diwakili oleh berbagai organisasi kepemudaan Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb.

Pentas sejarah pemuda-pemudah bangsa, telah berhasil melahirkan sejumlah karya nan elok nan mempesona. Lihatlah persitiwa Rengasdengklok, atau tumbangnya rezim orde baru di tahun 1998, semua adalah sejarah indah yang telah di toreh oleh pemuda-pemuda kala itu di zamannya. Ya…Suara pemuda, adalah suara bangsa
Mengenang peristiwa-peristiwa bersejarah, terlebih di bulan yang identik dengan moment sumpah pemuda, Media Tadulako mengundang  tamu special, tokoh pemuda dengan peran dan kiprahnya masing-masing di Sulawesi Tengah. Mereka adalah Sudarsono,A.Md (Ketua KAMMI Daerah Palu) dan Andi Apriyaldi (Founder PORITARI).

Mengenang pergerakan pemuda di masa lampau dan kemudian berbincang jauh menyoal pergerakan pemuda hari ini, Kamis (13/10), Sudarsono yang merupakan Alumni Akademi Kimia Analisis Bogor, memulai perbincangan pagi itu dengan pepatah arab Pemuda hari ini, adalah pemimpin masa depan

Menurut Sudarsono, Jika pemuda Indonesia memahami pepatah tersebut, maka satu persoalan bangsa ini sudah selesai. Sebab regenerasi masa depan bangsa ada di tangan pemuda saat ini. Maka kiranya tepatlah pepatah arab tersebut. Jika saja semua pemuda Indonesia memahami makna pepatah arab itu, maka akan semakin banyak pemuda yang berjuang untuk Indonesia di masa depan. Perjuangan dan pergerakan yang tentunya berbeda dengan masa pra kemerdekaan.

Ketua KAMMI daerah Palu ini kemudian menerangkan terkait siklus hidup maphyanusia dan kaitannya dengan karakter serta pergerakan. Manusia memiliki 3 siklus hidup yakni lemah, kuat dan lemah kembali.

“Saya coba berpikir tentang siklus hidup manusia yang digambarkan Allah SWT dalam Alquran. Pertama siklus manusia itu lemah, kuat dan lemah kembali. Lemah yang pertama dialami ketika kita di masa anak-anak. Kedua kuat yakni masanya pemuda dan yang terakhir lemah kembali pada masa telah menjadi orang tua atau lansia. Kita coba pikir, karakter apa sih atau pola pikir apa yang muncul dari ketiga siklus hidup tersebut.  Ternyata saya mendapatkan bahwa mereka yang remaja dan anak-anak adalah tipikal idealis dan individualis. Sebab kebanyakan anak-anak dan remaja akan melakukan apa yang mereka pahami benar. Entah benar itu, hanya persepsi mereka. Namun buruknya bahwa tipe individualis yang dimiliki remaja dan anak-anak menjadikan mereka manusia yang akan melakukan apa saja yang mereka senangi. Sedangkan pola pikir pemuda yaitu idealis dan sosialis. Idealis yang dimaksudkan adalah selalu berpikir konsep benar atau konsep yang harus ditegakkan dengan benar. Namun luar biasanya pemuda juga memiliki sifat sosialis yakni lebih mementingan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri.” Terang pemuda kelahiran Donggala 24 tahun silam tersebut.

Sudarsono pun kemudian mengaitkan siklus hidup kuat dengan menyinggung pergerakan yang tengah dilakukan Andi Apriyaldi dan beberapa kelompok pemuda lainnya di Sulawesi Tengah. Menurutnya, apa yang dilakukan Apriyaldi dan kawan-kawannya menunjukkan bahwa pemuda memang memiliki karakter idealis dan sosialis.

“Apa yang dilakukan teman-teman ini bersama kelompoknya telah menunjukkan adanya kepedulian sosial di jiwa mereka. Kepedulian sosial inilah yang lebih banyak ditunjukkan oleh kaum muda di siklus hidupnya yang masih kuat. Beda lagi dengan kaum tua dengan siklus kembali lemah. Kaum tua merupakan kaum yang realistis dan sosial. Orang tua jarang ada yang berpikir idealis. Mereka kebanyak berpikir realistis. Contoh ketika kita menujukkan satu teori, mereka akan lebih cenderung melihat fakta dilapangan. Namun juga tetap sosialis layaknya kaum muda. Mereka tetap mementingan kelompok, pertemuan keluarga atau apapun yang bersifat sosialis.” Imbuh Sudarsono dengan terus menerangkan siklus hidup hingga masa dimana manusia kembali lemah.

Oleh karena itu, Sudarsono melanjutkan bahwa dari dulu hingga sekarang, baik dari masa pra kemerdekaan hingga saat ini, pergerakan bangsa selalu digawangi oleh kaum muda.

sudarsonoSudarsono coba menyinggung anekdot yang beredar di masyarakat saat ini, bahwa jika dulu Presiden kita meminta 10 pemuda untuk mengguncangkan dunia, lain halnya sekarang “Beri aku 10 pemuda maka akan kubuat boyband” seperti itulah kira-kira bahasa yang diplesetkan dalam salahsatu karya meme comic yang biasa kita temui diakun sosial media.

Sudarsono mengingatkan kembali, agar pemuda masa kini menjadi pemuda yang kuat, sebab seperti pepatah arab yang diucapkannya diawal diskusi, bahwa pemuda adalah pemimpin masa depan, maka sikap pemuda saat ini merupakan cerminan pemimpin Indonesia dimasa depan.

Melanjutkan diskusi yang diawali oleh pemaparan padangan dari pemuda yang bergerak dengan keorganisasiasiannya di KAMMI, diskusi kepemudaan media tadulako dilanjutkan dengan pemaparan pandangan dari pemuda yang bergerak dengan proyek sosialnya (social project). Adalah Andi Apriyaldi, mahasiswa Fakultas Kehutanan yang bergerak untuk membangun Indonesia dengan berbagai prestasi dan sosial project-nya.

Apy, sapaan akrab Apryaldi, memulai pembicaraannya dengan mengungkapkan satu kalimat motivasi, bahwa pemuda adalah motivator untuk pemuda lainnya.

“Pemuda itu motivator, dengan karyanya mampu memotivasi orang lain untuk berbuat hal kebaikan yang sama.” Ungkap Apy.

Apy memberi contoh dengan menyinggung bagaimana pergerakan social project Pondok Rimba Lestari (Poritari) yang digawanginya, mampu memotivasi pemuda lainnya untuk turut memberi kontribusi bagi bangsa.

Project yang bermula dari proposal yang diajukannya untuk mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa, membawanya dan kedua orang temannya mampu memotivasi anak muda lainnya untuk terlibat dalam pembentukan rumah baca dan penyemaian dini di berbagai desa binaan PORITARI. Berkat kemampuan motivasi yang ditularkan Apy dan kedua kawannya kepada pemuda lainnya membuat mereka, merangkul hingga 45 volunteer yang setia bersama membangun dan menjaga Poritari hingga kini.

‘Pemuda itu adalah motivator untuk pemuda lainnya. Dengan menyadari peran kita sebagai pemuda tentu kita tidak akan tinggal diam dan melakukan hal-hal kebaikan seorang diri. Contohnya ketika kami memulai project Poritari yang mendapat bantuan dari PKM, saya dan kedua kawan yang memulai project ini menyadari bahwa kami membutuhkan peran dan bantuan dari anak muda lainnya. Maka dari itu, kami mencoba memotivasi teman-teman yang lain untuk terlibat dengan menunjukkan serta memberi tahu apa itu PORITARI. Alhamdulillah, kami telah merangkul 45 volunteer hingga saat ini.” Ungkap Penerima Beasiswa Bidik misi 2015 ini.

Berbagai pertanyaan dari peserta diskusi terkait project sosial dan pergerakan Apy sebagai pemuda Sulawesi Tengah, dijawabnya dengan apik secara satu persatu. Salahsatunya pertanyaan dari reporter baru Media Tadulako, vivi. Vivi menanyakan bagaimana Apy mampu menjaga persatuan kelompoknya untuk terus membangun PORITARI.

Memulai dan mengembangkan sebuah social project, diakui oleh Apy bahwa dinamika berkelompok tidak lepas dari masalah. Namun kemampuan, komitmen serta komunikasi yang baik adalah kunci keberhasilan sebuah kelompok dalam menjalankan visi misinya.

“Sebuah organisasi itu tidak lepas dari berbagai permasalahan. Permasalahan sebuah organisasi merupakan dinamika yang harus kita lewati. Menyatukan kelompok dan melimbatkan setiap anggota adalah hal yang penting. Sebab keberadaan mereka adalah motor penggerak bagi keberlangsungan sebuah kelompok. Memang, kita semua memiliki kesibukan masing-masing terlebih sebagai mahasiswa dengan kewajiban belajar yang utama. Fleksibel memberi ijin kepada anggota juga merupakan salah satu cara agar kita tetap bisa bersinergi. Menanyakan kabar dan memberi kabar terkait organisasi, kepada para anggota merupakan salah satu cara founder untuk membuat teman-temannya tetap merasa dilibatkan. Sebab komitmen dan komunikasi yang baik merupakan kunci keberhasilan sebuah kelompok.” Terang Founder Poritari.

Mewakili pandangan pemuda terkait pergerakan anak muda Sulawesi Tengah, Apy menilai bahwa saat ini sudah mulai banyak anak muda yang giat dan mau bergabung dalam berbagai komunitas sosial. Ia berharap bahwa pergerakan pemuda tidak hanya berhenti sampai masa muda mereka berakhir dan memasuki masa tua.

Menanggapi harapan Apy, Sudarsono pun berharap, akan semakin banyak komunitas kebaikan di Sulawesi Tengah. Sudarsono bahkan memberi saran atas pertanyaan salah satu peserta diskusi, terkait bagaimana cara agar dapat konsistensi dengan sikap idealis meski sudah memasuki usia tua. Serta peluang untuk mengembangkan proyek sosial di Sulawesi Tengah.

“Peluang untuk mengembang proyek sosial di Sulawesi Tengah, masih sangat besar. Harapannya, dengan begitu akan semakin banyak pilihan komunitas kebaikan untuk pemuda-pemudi di Sulawesi Tengah. Agar terus konsisten menjaga karakter idealisnya, teruslah berkumpul dan  bersatu dengan orang-orang yang memiliki pandangan yang sama.” Tutup Sudarsono. RFJ

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here