Alumni Untad Sambangi lagi Boras, Swedia

fiqih borasKota layak pemuda yang di gagas oleh Kemenpora baru-baru ini, sepertinya tidak salah menempatkan Kota Palu sebagai salah satu kota percontohan layak pemuda. Dukungan pemerintah daerah terhadap potensi pemuda di Kota Palu, menjadi salah satu indikator penilaian yang ditetapkan oleh Kemenpora.

Penghargaan yang diraih Kota Palu sebagai kota layak pemuda, sudah selayaknya dikantongi sebab pemerintah Kota Palu termasuk aktif dalam mendukung gerakan kepemudaannya. Salah satu yang cukup membanggakan tahun ini adalah dukungan pemerintah kepada Fiqih Aprilya, yang merupakan alumni FKIP UNTAD ke Boras, Swedia.

Menurut penuturan Fiqih, perjalanannya ke Boras bermula dari undangan pemerintah Palu melalui Bappeda untuk komunitas-komunitas kepemudaan yang sudah bekerjasama dengan pemerintah kota. Saat itu, tepatnya tahun 2015, Fiqih memaparkan project KOIN-nya (Kompleks Impian). Rupanya, pemerintah Boras tertarik terhadap proyek yang dipaparkan Fiqih. Sehingga kesempatan untuk belajar dan bekerjasama dengan pemerintah Boras, datang untuk Fiqih dan beberapa guru di Kota Palu.

Sehingga sepulangnya dari Boras, dibuatlah rancangan proyek baru dibidang pendidikan. Fiqih sendiri memilih SDN Kawatuna dan SDN 1 Impres Kawatuna sebagai lokasi pengabdiannya. project kursus tukar sampah juga membawa Fiqih menjadi konsultan pendidikan pada proyek pembangunan Sekolah model Raman Anak Ramah Lingkungan, sekaligus menjadi guru Pendidikan Lingkungan Hidup pada 2 Sekolah tersebut.

Tahun ini, tepatnya tanggal 16 oktober sampai 5 November, Fiqih kembali mendapat undangan ke Boras. Jika awalnya undangan ke Boras agendanya mewakili Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI), sedang yang kedua adalah undangan sebagai anggota pada kerjasama bilateral dua kota yakni Palu dan Boras.

Selama 20 hari berada di Swedia, Fiqih berpindah kota mengunjungi beberapa tempat termasuk sekolah-sekolah di Swedia. Diantaranya, Engelskavret School, Orby school, Orust school, Vanberg school, dan University of Boras. Selama mengunjungi sekolah-sekolah tersebut, diakui fiqih bahwa ia belajar banyak hal. Termasuk atmosfer akademik di Swedia.

“Saya belajar Dan melihat langsung Bagaimana pendidikan di sana diselenggarakan. Konsep komunikasi dalam organisasi baik antar guru dan guru atau guru dan siswa. Konsep mengajar bukan dikelas tapi outdoor. Study perbandingan sejarah kurikulum Indonesia dan swedia serta aplikasinya,” Terang Fiqih

“Kedisiplinan, kreatifitas, dan cinta tanah air. Juga merupakan hal yang saya pelajari selama berada di sana. Karena segala Sesuatu yang saya lihat dan pelajari itu, tidak serta merta bisa diadopsi. Baiknya Diadaptasi saja agar sesuai dengan nilai sosial serta budaya masyarakat Indonesia khususnya palu,” Sambung Fiqih.

Dibeberapa kesempatan, baik itu acara kepemudaan maupun wawancara bersama Media Tadulako, Fiqih kerap menyemangati pemuda lainnya agar terus berprestasi dan produktif. Fiqih berharap pemuda Sulawesi Tengah khususnya Kota Palu, menghadapi Era global dapat menjadi pribadi yang pemebelajar, kreatif dan bermoral. Sebab, ketiga elemen tersebut sangat penting untuk menghadapi persaingan dimasa sekarang dan akan datang. RFJ