Angkatan 1971 Bicara Tentang Untad di Masanya

wasdwasd

Proklamator negeri ini pernah ingatkan kita dengan kalimat yang sering dikenal lewat singkatan JASMERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Seorang bijak berkata, bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Sejarah bukan hanya tentang memori manis yang selalu indah dikenang, tapi sejarah adalah sarana menghargai proses, media mengukur diri, juga di ruang waktu yang telah lampau itu, ada motivasi yang bisa dibawa kemasa kini.

Kampus ini pun memiliki sejarahnya, ada masa saat kampus ini hadir dalam kondisi yang serba terbatas, semuanya berjalan apa adanya, sebab Tadukako tidak dibangun dengan sim salabim, tapi dengan proses dan jerih payah mereka yang pernah ada di masa itu. Hal itulah yang diungkapkan Prof. Anhulaila bersama tim Media Tadulako ketika disambangi di Ruang Guru Besar Ilmu Ekonomi Sosial Pembangunan (IESP) , FEKON, Untad. Prof, yang mulai mengenyam pendidikan sarjana mudanya di Universitas Tadulako pada tahun 1971 ini, memulai nostalgianya dengan cerita tentang jumlah gedung pembelajaran yang masih sangat minim.

“Waktu itu, baru ada satu gedung yang sekarang dialihkan menjadi gedung pertemuan. Fakultasnya juga hanya ada empat, yakni  hukum, ekonomi, Ilmu sosial dan  politik, serta peternakan.  Dulu masih banyak pohon kelapa, jalanan tak beraspal, masih berbatu dan model kampus juga masih sangat sederhana.” Cerita Prof. Anhulaila

gagaghaeageGuru besar IESP ini kemudian menceritakan pengalamannya terkait perkembangan untad dari masa ke masa, dimulai sejak beliau masih duduk di bangku kuliah hingga akhirnya menjadi Professor. Menurut ceritera dari Prof. Anhulaila, pada tahun 1971, total jumlah mahasiswa hanya berkisar seratusan orang. Itupun merupakan jumlah keseluruhan mahasiswa dari empat fakultas.

Proses pembelajaran saat itu juga masih sangat terbatas. Mahasiswa belum mengenal adanya internet. Seluruh proses pembelajaran dilakukan dengan cara konvensional.

“Saya bisa katakan, pada masa itu, proses pembelajaran kami masih sangat konvensional. Tapi kami sangat rajin dan disiplin sesuai ukuran pada masa itu.” Terang Ketua Ikatan Alumni Untad ini.

Keterbatasan dalam hal pembelajaran, tidak saja dirasakan dalam kacamata mahasiswa. Prof. Dr. Sutarman Yodo, SH., MH., yang pada 1985 menjadi dosen di Untad mengungkapan keterbatasan yang hampir sama, meski periodenya cukup jauh. Ketika menjadi dosen,. Prof. Sutarman mengungkapkan bahwa kerap kali dirinya memanfaatkan kesempatan ke luar kota untuk membeli buku-buku pembelajaran untuk mahasiswanya. Sehingga tidak jarang ia harus menyisihkan pendapatannya agar dapat membagikan ilmu yang update untuk mahasiswanya.

“Dulu, setiap kali ke luar kota. Contoh ketika ada diklat di Surabaya, saya memanfaatkan kesempatan itu untuk membeli banyak buku. Koper saya biasanya tidak lagi berisi pakaian, tapi buku. Sebab sangat sulit mendapatkan referensi pembelajaranpada masa itu. Toko buku di kota ini belum ada.” Terang Prof. yang kini menjabat sebagai Wakil Rektor bidang akademik.

Kembali pada cerita Prof. Anhulaila, pada masa ia kuliah, diakuinya dalam urusan akademik, tak ada yang namanya belanja SKS. Mereka dituntut menyelesaikan seluruh mata kuliah yang dijadwalkan dari Induk. Setiap semester juga diadakan ujian, namun dilakukan dalam tiga kali.

“Untuk akademik, tak ada sistem belanja mata kuliah seperti saat ini. Tak ada penawaran mata kuliah. Seluruh pembelajaran telah terjadwal sesuai dengan apa yang harus kami pelajari setiap semesternya. Ujian semester tetap ada namun dilakukan dengan 3 gelombang, artinya, jika gelombang pertama tidak lulus otomatis harus mengulang ke gelombang berikutnya.” Ungkap Mantan mahasiswa jurusan ekonomi ini.

Begitu konvensionalnya proses pembelajaran kala itu, diakui Prof. Anhu seringkali dirinya dan kawan-kawan harus merasakan perkuliahan pada waktu subuh. Namun proses tersebut diakuinya sebagai salahsatu cara untuk melatihnya lebih disiplin, terbukti seluruh mahasiswa kala itu terbilang rajin dan sangat disiplin.

“Saya pernah mengikuti jadwal perkuliahan subuh. Kala itu, dosen mengatakan bahwa jika kami ingin mengikuti mata kuliah manajemen, kami harus datang pada waktu subuh. Sehingga banyak dari mahasiswa yang memilih untuk sholat subuh di dekat tempat perkuliahan, agar tak ketinggalan kelas. Waktu itu produk untad masih sebatas gelar diploma muda atau BSc. Tapi tidak terbatas bahwa kami harus kuliah hanya dalam waktu tiga tahun seperti saat ini. Dulu, kami belajar bisa sampai tujuh tahun.  Dan itu tidak berarti kami tidak disiplin.” Terang Mantan Ketua Dewan Mahasiswa Untad periode 1978.

“Sebab, persoalan prestasi juga tak kalah. Meskipun kami kala itu hanya mengenyam pendidikan di cabang universitas hasanuddin, namun prestasi kami tak kalah dengan mahasiswa unhas. Karena kami memang disiplin dalam hal belajar. Ketika selesai dari bangku kuliah program sarjana muda, kami melanjutkan pendidikan ke induk kita yakni Unhas selama 2 tahun untuk program strata1 dan kami mampu meraih nilai yang setara dengan mahasiswa di kampus induk.” Sambung Prof. Anhulaila.

Disinggung terkait pergerakan mahasiswa kala itu, Prof. Anhulaila menuturkan, bahwa suasana perpolitikan dulu berbeda dengan saat ini. Dulu, Dewan mahasiswa lebih banyak bergabung dengan dewan perwakilan rakyat. Hampir setiap urusan pemerintah melibatkan pertimbangan dewan mahasiswa, sebab dewan mahasiswa dituntut untuk dapat berkontribusi dengan mengemukakan pendapatnya.

“Pada tahun 1978 saya merupakan ketua dewan mahasiswa yang saat ini disebut dengan BEM, tetapi suasana perpolitikan sangat jauh berbeda. Kalau dulu, Dewan mahasiswa lebih banyak bergabung dengan DPR. Hampir  setiap urusan pemerintah melibatkan pertimbangan dewan mahasiswa, sehingga memang kami itu dituntut pola pikirnya bisa berbeda dan bermanfaat.” Akuh Prof. yang begitu ramah ini.

Meski pada suatu waktu, keberadaan dan proses belajar mengajar pernah mengalami pemboikotan dari pihak tertentu namun bersama seluruh mahasiswa, Prof. Anhu dan kawan-kawan mampu menduduki kembali kampus dan memulai proses pembelajaran seperti sedia kala. Terutama ketika pihaknya harus pindah ke kampus baru, yang sekarang menjadi Induk Untad.

asfafasf

“Dulu, normalisasi kehidupan kampus pernah terjadi dan juga dirasakan oleh mahasiswa Untad pada tahun 1978, tepat ketika saya memimpin dewan mahasiswa. Kami pernah merasakan kampus kami ditutup sehingga proses pembelajaran terhambat. Tapi kami berusaha mencari jalan agar perkuliahan tetap terlaksana. Salah satu cara dengan mengumpulkan mahasiswa di depan kampus untad saat ini, sehingga tak ada alasan bagi pihak manapun melarang proses pembelajaran kami.” Ungkap Prof. Anhulaila

Pernah mengalami pelarangan hingga sinisme dari pihak-pihak tertentu tentang eksisnya untad pada suatu hari nanti, juga kerap kali didengar oleh Prof. Anhu kala itu.

“Ketika Untad pertama kali diarahkan untuk pindah dan belajar di Tondo, kondisi fisik lingkungan kampus memang sangat memprihatinkan. Gersang dan hanya diisi oleh kaktus. Rumah-rumah dosen juga hanya ada beberapa. Sehingga suatu waktu pernah ada yang mengatakan bahwa hanya orang gila yang akan tinggal di kompleks tersebut dan belajar di Untad. Namun bahasa itu pada akhirnya bisa saya kembalikan bahwa gila orang jika tidak ingin tinggal disini.” Terang Prof. Anhulaila.

Episode perjalan Universitas Tadulako, kebanggaan kita bersama nyatanya pernah mengalami banyak cerita. Baik yang sedih maupun membahagiakan. Jika kita menyandingkan kondisi masa lalu dan masa kini, tentu masa lalu adalah sebuah kondisi yang sangat kontras jika disandingkan dengan Untad saat ini. Namun perubahan tersebut merupakan perkembangan yang patut diapresiasi.

Perjalanan Universitas Tadulako hingga kemudian dikenal hingga ke level internasional bukanlah perjalanan tanpa cerita herois dari orang-orang yang membersamai awal mula pergerakannya. Saat ini, mahasiswa universitas tadulako tidak lagi berjumlah ratusan, namun ribuan. Suatu hari bisa saja mencapai ratusan ribu. Dalam hal akademik, proses pembelajaran pun mengalami perubahan yang diyakini Prof. Sutarman sebagai sebuah perkembangan. Maka, Guru besar bidang tersebut berpesan agar kiranya mahasiswa dapat memanfaatkan kemudahan fasilitas untuk meningkatkan prestasi agar dapat lebih gemilang.

“Mahasiswa saat ini yang dengan mudahnya mengakses informasi dan bahan belajar, sudah sepatutnya menjadi mahasiswa yang lebih berprestasi.” Pesan Prof. Dr. Sutarman Yodo, SH.,MH.

Suatu kalimat menarik yang senada juga menjadi pesan dalam diskusi ilmiah kami dengan Prof. Anhulaila. Bahwa dengan kemudahan akses informasi saat ini, besarnya alokasi dana yang disediakan pemerintah dan swasta untuk pendidikan, maka sudah sepatutnya setiap mahasiswa mengupayakan beasiswa dengan jalan yang disediakan.

“Termasuk merugilah kamu para mahasiswa jika tak dapat meraih beasiswa. Sebab kemudahan akses informasi dan dana alokasi pendidikan yang disediakan pemerintah dan pihak swasta, bisa didapatkan baik sebagai mahasiswa berprestasi maupun sebagai mahasiswa dengan kemampuan ekonomi lemah. Oleh karena itu, kalian harus terus belajar dan berprestasi.” Tutup Guru Besar IESP. RFJ