Kolonel Inf. (Purn) Drs. H. Rusdy Toana Sosok Teladan dan Perintis Provinsi Sulawesi Tengah

untitled-1

Jodoh, rezeki, dan kematian tidak seorangpun yang tahu. Ketiga hal tersebut adalah garis kehidupan yang seperti kepergian dan kepulangan. Begitu pula H. Rusdy Toana yang akrab disapa Rusdy. Pria asal Desa Tokorondo, Parigi Selatan ini lahir pada 23 September 1930 dan wafat pada 09 Agustus 1999 di Ujung Pandang.

Kepulangan memang menyisakan luka. Tapi tidak sedikit yang menyisakan kenangan dan decak kagum karena karya-karya, juga perjuangan, dan cerita hidup. Begitu pula dengan Rusdy yang dikenal dengan sapaan Tonakodi sejak menulis di harian Mercusuar rubrik “Omong…punya…omong”. Lebih dari itu, Rusdy bersama rekan-rekannya dan masyarakat Kota Palu berhasil memperjuangkan Sulawesi Tengah menjadi Propinsi yang berdiri sendiri. Berawal dari hijrah melalui perjalanan panjang Rusdy dari Gorontalo-Yogyakarta-Jakarta, lalu kembali ke Palu. Kala itu, Rusdy hendak melanjutkan studynya di Amerika Serikat sebagai hadiah dari pemerintah Amerika Serikat sebagai juara 1 karya Tulis Lima Tahun PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) di Indonesia. Tetapi karena pergolakan politik kala itu, Rusdy kembali ke lembah Palu tidak dengan kekecewaan tetapi dengan semangat juang yang baru.

Ayah dari Drs. Munawir Toana, M.Si (alm), Kemal Toana (alm), Tri Putra Toana, Sri Kemala Dewi Toana, Rahmi Mashita Toana,Sopia Imawati Toana, Windon Syafaat Toana (alm), dan Ahmad Averus Toana, memulai perjuangannya melalui dakwah dan media serta pergerakan pemuda muhammadiyah. Dikepalan semangatnya, juga bersamma putra daerah lainnya, Propinsi Sulteng dapat berdiri, Peradaban Ilmu Pengetahuan dapat dirasakan masyarakat dengan hadirnya Universitas Tadulako dan Universitas Muhamadiyah. Juga hadir harian Mercusuar.

Sosok Lincah yang Menjadi Tokoh Pers, Lalu Rektor

Sosok Rusdy meski telah tiada, tapi tetap membekas di hati orang-orang yang pernah mengenalnya. Suami Hj. Dewi Cendana yang lebih dulu menghadap Illahi ini, menikah lagi dengan Hj. Rohanisa Nursin. Rusdy saat berusia 9 tahun, oleh ayahnya dimasukkan di sekolah HIS (Hollandsche Inlandse Scool) Muhamadiyah di Poso. Pada usia inilah, ayahnya, Abdul Wahid Toana menanamkan jiwa nasionalisme dan gemar membaca. Maka tak heran, jika Rusdy kemudian menjadi salah satu tokoh perintis berdirinya propinsi di tanah Kaili ini. Juga tak mengherankan pula, jika hobynya berkembang di bidang Jurnalistik dan menjadi Tokoh Pers.

Tahun 1942, mertua dari Drs. H. Andi Maddukelleng, M.Si ini dikirim ke Manao untuk mengikuti sekolah di Nippon Gokka. Lalu ia melanjutkan study setelah lulus SMA di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Hubungan Internasional di Yogyakarta.

“Sejak awal keberadannya sebagai mahasiswa, Rusdy dikenal sebagai mahasiswa yang sangat lincah juga pintar. Ketetarikannya pada dunia Jurnalistik, pada tahun 1953 ia ditunjuk PB HMI untuk memimpin majalah Media, bersama Bustanul Arifin dan SK. Efendi. 2 tahun selanjutnya, 1955 ia menjadi staf redaksi pada harian Suara Umat-Yogyakarta. Kemudian dipanggil PB HMI ke Jakarta untuk memimpin harian Abadi yang dibredel tahun 1971,” tulis Andi Maddukelleng dalam buku Biografi H. Rusdy Toana.

Sebelum kembali ke Palu, akhir tahun 1960, Rusdy Toana tergabung dalam panitia penuntut dan pembangunan berdirinya Propinsi Sulteng, di Jakarta. Dari sinilah perjuangan lembah Palu ini berawal. Sekembalinya dari Jakarta, ia menerbitkan mingguan “Suara Rakyat” Palu pada 1 September 1962 melalui Yayasan Suara palu. Empat tahun kemudian, mingguan ini dirubah namanya menjadi “Mercusuar” dan dikenal hingga saat ini.

Dalam dunia kewartawanan, Rusdy Toana memulai karirnya di surat kabar pelopor yang dipimpinnya tahun 1948 dan aktif di Harian Abadi (Yogyakarta sejak tahun 1957-1959) sebagai wartawan. Pernah menjadi sekretaris, Redaksi Masjarakat.

Rusdy yang kini dikenal dengan panggilan akrab Pak Haji, pernah menjadi asisten dosen Fak. Sosopol Untad (1968). Lalu menjadi dosen tetap dan pernah menjadi Dekan FISIP Untad (1975-1978) sebelum Untad melepaskan diri dari Unhas. Pada masa kepemimpinannya, Rektor Untad  masa itu : Drs. Hj. Sahabudin Mustafa, M.Si (alm) memberi penghormatan dengan nama gedung olahraga di Untad dengan nama “PKM H. Rusdy Toana”. Selanjutnya anggota DPRD Sulteng periode 1982/1987 ini menjadi Rektor Unismuh Palu sejak 1983 hingga meninggal. Bahkan pernah merangkap jabatan Rektor Unismuh sekaligus Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tengah.

Rusdy Toana dan Perhatiannya Pada Pendidikan dan Kebudayaan

Kepergian Rusdy Toana, patutlah menjadi kenangan sekaligus spirit sepanjang masa. Sebab ia meninggalkan ketelanenan dan sikap optimis yang patut diteladani. Hidupnya betul-betul diabadikan bagi kemajuan sosial masyarakat Sulteng. Ia dikenal pula sebagai tokoh Agama, tokoh Pendidikan, budayan, dan sejarawan.

Dalam dunia pendidikan, Rusdy memiliki perhatian besar. Pernah menjadi direktur SMA diponegoro Kotawates, Yogyakarta tahun 1955 dan pernah mengajar bahasa Jerman di HIS SMA Muhammadiyah Poso selama 2 tahun. Kemudian tahun 1968 menjadi Direktur SMA Muhamadiyah Palu.

Lahirnya Universitas Tadulako cabang Unhas (1963) hingga mandiri pada 1981, Rusdy Toana menjadi salah satu tokoh penting dalam pendirian dan pencetus ide nama Tadulako. Lalu, masih pada dunia pendidikan, ia juga termasuk salah seorang perintis berdirinya Unismuh Palu.

Selama hidupnya, sosok Rusdy dikenal seabagai kaum cendekiawan yang selalu memikirkan kemajuan daerah Sulawesi Tengah baik itu lewat pendidikan maupun aspek budaya. Tahun 1933 ia sempat melontarkan sebuah gagasan tentang perlunya dibentuk satu kesatuan “Kebudayaan Tadulako” untuk kesatuan etnis di Sulteng.

Gagasan ini menuai kritik dan berujung polemik diawal, tetapi menjadi inspirasi bagi kaum muda untuk menggali potensi budaya yang dimiliki Sulteng sebagai sebuah kekayaan pemersatu. Menurut Rusdy (dalam buku biografinya), Propinsi Sulteng saat ini (ketika itu) bentuknya baru dari segi administrasi dan politik yang bersatu. Tetapi dari segi budaya dan etnis belum. Sehingga perlu ditampilkan satu wujud budaya yang bisa mempersatukan.

Bahkan dalam harian Mercusuar yang dipimpinnya, Rusdy mempopulerkan dan mensosialisasikan ide “tadulako-nya” itu pada masyarakat. Gagasan kebudayaan tadulako dicetuskan pada 13 April 1996 untuk refleksi HUT ke-32 Propinsi Sulteng.

Anak ketiga dari sembilan bersaudara ini juga merupakan pembaharu Sulawesi Tengah. Pemikiran akan kemajuan masyarakat Sulteng dalam segala bidang merupakan cita-cita yang selalu ia gemakan. Pentingnya pendidikan untuk memajukan masyarakat Sulteng menjadi agenda awal setelah kepulangan dari Jakarta. Bersama Letkol M. Yasin Danrem pada waktu mempelopori berdirinya Universitas Tadulako cabang Unhas pada 8 Mei 1963 sebagai Perguruan Tinggi swasta dengan Rektor Drs. Nasri Gayur.

Perhatiannya pada pendidikan, mendorongnya memberikan nama korem Sulteng dengan nama korem 132 Tadulako. Juga mengaktifkan Muhammadiyah Cabang Palu sampai terbentuk Muhammadiyah Wilayah Tingkat I Sulawesi Tengah. Dengan terbentuknya Muhammadiyah wilayah Tingkat I Sulteng, Rusdy kemudian merintis dan membangun amal usaha Muhammadiyah dalam bidang pendidikan dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi.

Tidak hanya Untad dan Unismuh, Rusdy juga menjadi salah satu personil yang menjadi panitia pendirian atas keberadaan STAIN Datokrama yang kini menjadi IAIN Palu.

Rusdy Toana di mata Rekan-rekannya

Di mata rekan-rekannya, Rusdy yang menjadi pembina HMI dan Pelajar Islam Indonesia (PII) adalah sosok yang luar biasa. Menurut Takbir Launtina (dalam buku biografi H. Rusdy Toana yang diterbitkan pada 2015), Rusdy adalah tokoh yang disenangi anak muda. Tuturnya, Rusdy adalah tokoh sejarawan yang sangat apresiatif dengan para pemuda yang memiliki potensi. “Sebagai seseorang yang hoby tulis menulis, menjadikan saya semakin akrab dengan almarhum. Pengalaman hidup saya menjadi bermakna karena tempaan dan didikan yang selalu menganjurkan pelajaran sejarah dan menanamkan jiwa juang untuk kepentingan negara yang juga menjadi perhatian Rusdy,” ungkap Takbir dalam tulisan Andi Maddukelleng.

Di mata Ishak Moro, Rusdy adalah sahabat seperjuangan. Ishak Moro pertama kali berjumpa dengan sosok Rusdy di asrama Bintara  Yogyakarta, asrama mahasiswa Sulteng. Baginya, dari sosok kawannya itu ketekunan dan semangat juangnya yang berapi-api atas berdirinya satu Propinsi, berdirinya Perguruan Tinggi sendiri, hingga melupakan diri sendiri.

Lagi, dalam tulisan Andi Maddukelleng (menantu Rusdy Toana), Ishak Moro bertutur bahwa semangat juang kawan-kawan waktu itu adalah karena semangat Rusdy yang sangat menginspirasi. “Itulah yang membuat teman-teman pada waktu itu bersemangat, karena dia selalu menjadi inspiratif dan mendorong teman-teman lain untuk bersatu padu demi perjuangan daerahnya. Sejak itulah, saya mengagumi beliau,” ungkapnya.

Kekaguman Ishak Moro pada Rusdy tidak hanya cerita belaka. Sejak tahun 1950 hingga Rusdy meninggal, mereka adalah sahabat yang tidak bisa dipisahkan. “Kami dan teman-teman lainnya merasakan suka duka perjuangan. Dan memang Rusdy adalah sosok pejuang tulen yang tidak pernah menuntut pamrih. Beliau dalam perjuangannya tidak pernah bercerita tentang apa buah dari hasil perjuangannya. Dia adalah sosok panutan yang tidak pernah mau dikasihani, tidak pernah terbetik di hatinya untuk mengejar jabatan. Beliau juga tidak pernah saya dengar menuntut untuk dihargai, diberi penghormatan, dan semacamnya,” jelas Ishak.

Tokoh masyarakat yang pernah menjadi sekretaris Organisasi Al-Khairat, hanya bekerja untuk ummat dan selalu untuk ummat. Itulah yang selalu tersebut olehnya pada setiap perjuangannya. Kepentingan ummat sangat mempengaruhi dirinya dan bahkan keluarganya. Pendirian Rusdy sangat kuat, terutama prinsip.

Menebar inspirasi, tidak hanya ia tinggalkan sebagai jejak untuk dikenang orang lain saja. Tetapi pada keluarganya pula. Di mata Ahmad Averus Toana, Rusdy adalah ayah yang mendidik dengan keteladanan dan menginspirasi keluarga. Sementara di mata menantunya (Andi Maddukelleng), Rusdy adalah sosok teladan. Di mata HB. Paliudju, Rusdy Toana yang turut dalam pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Sulteng, adalah tokoh panutan generasi Sulawesi Tengah.

Rusdy yang mewarisi perjuangan ayahnya juga turut mendirikan masjid-masjid sebagai tempat dakwah dan basis perjuangan, seperti masjid Al-Furqon, dan masjid Al-Haq yang merupakan bagian dari kompleks Mummadiyah.

 

*Referensi : Semerbak Toana Kodi : Biografi & Lika-Liku Kehidupan H. Rusdy Toana. Penulis : Drs. H. A. Maddukelleng, M.Si. Tahun 2015.