Mahasiswa Untad Promosikan Kesenian Lalove di Jepang

agungAgung Dermawan, mahasiswa Teknik Sipil yang sebelumnya merupakan pindahan Teknik Elektro ini, baru saja kembali dari Jepang mengikuti program “Japan Autumn Youth Cultural Tour and Studies“.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh APIMUN (Asia Pasific-Indonesia Multi Cultural Understanding Network) ini, berlangsung selama 6 hari sejak 28 Oktober hingga 2 November di Jepang, tepatnya di Kota Kyoto, Kobe dan Osaka.

Agung yang mendapatkan informasi melalui broadcast official line account beasiswa Indonesia, mengatakan dirinya harus melewati 2 tahap seleksi yaitu seleksi berkas dan wawancara dalam bahasa inggris serta penampilan kebudayaan khas daerah, sebelum akhirnya terpilih.

Kemampuan bahasa inggris serta dapat memainkan alat musik Lalove merupakan hal yang ditawarkan Agung dalam seleksi sebelumnya. Alasan mengapa musik lalove menjadi penampilan kebudayaan yang dibawa Agung dalam seleksi, sebab menurutnya, saat ini sulit sekali menemukan pemuda yang mampu memainkan alat musik traditional dengan tingkat kesulitan di antara gempuran budaya global.

“Kesenian khas daerah Sulawesi Tengah yang saya tampilkan terbilang unik. Karena saya memainkan Lalove yang cara bermainnya juga unik. Karena kita harus bisa meniup dan bernafas secara bersamaan. Inilah yang menjadi salah satu poin plus yang saya berikan. Karena banyak anak muda sekarang yang terkena pengaruh globalisasi sehingga melupakan kesenian dan kebudayaan khas daerah mereka. Kesenian itu pula yang saya tampilkan di Jepang,”  ungkap Agung.

Orang-orang Jepang yang menggunakan bahasa negaranya sebagai bahasa sehari-hari membuat Agung dan peserta terpilih lainnya, mendapat pendampingan dari anggota ISA JAPAN (Internatioanl School Asociation Japan) yang mampu berkomunikasi dengan bahasa inggris secara lancar.

Selama berada di Jepang, agenda yang dijalani Agung  adalah penampilan dan perkenalan kebudayaan khas daerah, kelas memasak masakan Jepang yaitu takoyaki dan sobayaki, membuat Mangekyou, kunjungan ke Kiyomizu-dera & Osaka Castle, Study visit ke Kyoto University, serta kunjungan ke KJRI di Jepang.

Selama mengikuti program yang diadakan oleh APIMUN tersebut, Agung mengungkapkan bahwa ada banyak kebiasaan sehari-hari dari masyarakat Jepang yang ingin diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti budaya antri dan menjaga kebersihan. Menurutnya, seperti apapun upaya pemerintah Indonesia menerapkan kedua hal tersebut, jika tak dimulai dari diri sendiri, akan sangat sulit mendapatkan hasil yang baik.

“Kebudayaan antri dan menjaga kebersihan dengan baik adalah beberapa hal yang saya pelajari selama berada disana. Kedisiplinan sumber daya manusia sangat menentukan kemajuan negara atau daerahnya. Jadi, percuma pemerintah kita berusaha keras, tetapi jika sumber daya manusianya tidak disiplin, semua akan sia-sia,” Tutup Agung. RFJ