Untuk Semesta Laut

CaptureOleh : Nadia Almairah

Bau amis, bangkai, reremahan, sampah, berbalut lumut hijau kehitaman tebal menepi dibibir tanggul. Kotoran apa yang tidak ada di teluk kurungan kecil ini. Biru laut yang terhampar saban tahun lalu kini tak ubahnya jalan buntu pembuangan limbah masyarakat yang tak terkendali. Jangan tanya bau apa yang menyengat hidung kala senja hari dimana air laut mulai pasang. Reklamasi yang berujung petaka. Ah, jangan terburu-buru menghakimi.

Seorang gadis remaja kurus meniti titian kayu lapuk hati-hati. Berusaha tetap seimbang dengan ember hitam sedang penuh limbah dapur di tangan kirinya hendak di ungsikan kebalik tanggul. Bercampur sesampahan lainnya. Sedang tangan kanannya di renentangkan guna menjaga keseimbangan. Karena jatuh berarti mandi lumpur hitam penuh sampah plastik dan kotoran. Ini baru satu. Beberapa menit lagi agenda rutin menumpuk sampah ini akan diikuti oleh masyarakat lainnya.

Sementara jingga mulai membungkus langit. Bias cahaya oranye kemerahan membentuk siluet seorang remaja tanggung tengah tepekur di bibir timbunan. Adin namanya. Sebagian tubuh juga pakaiannya mulai kering ditiup angin selatan yang berhembus tenang. Tatapnya sendu menghadap senja yang tengah merayap perlahan menuju rebahan sementaranya di barat sana. Seharusnya ia menggigil jika baru naik dari laut di jam seperti ini, namun kali ini agaknya ada yang lebih dingin hingga membuat Adin bahkan tak bergeming dari duduknya. Kakinya ia goyang-goyangkan membentur bibir timbunan yang belum jadi ini. Proyek reklamasi yang dijalankan sejak lima tahun lalu dan belum menemui titik kejelasan arah pembangunan hingga kini.Ironisnya malah menciptakan pembuangan sampah di sekitar teluk yang terkurung.

Adin ingat sekali bagaimana pedih mengiris batinnya.Bagaimana sebuah kalimat meluluhlantakkan ekspektasinya saat menyampaikan keluhnya.Mengenai daerah pesisir tempat ia menghabiskan hidup 17 tahun terakhir yang tak lagi menyenangkan.Lewat pidatonya pada peringatan hari lingkungan hidup, kemudian dibabat begitu saja dengan argumen dusta tikus-tikus kantor pengelola lingkungan hidup tak tahu diri itu. “Kami sudah menyediakan tempat sampah seperlunya di daerah pesisir.” Ucap salah satu juri pada kesempatan tersebut. Mungkin pria setengah baya itu sedang berkelakar di saat yang tidak tepat.

Isi pidato Adin dianggap terlalu tajam. Ketika peserta lain mengangkat kejayaan laut masing-masing kecamatan, remaja tanggung berperawakan kurus tinggi serta berkulit gelap ini malah membahas kritikan kepada pemerintah terkait keadaan pesisir kompleks rumahnya. Bagaimana mungkin sebuah kelurahan yang masih masuk daerah ibu kota kabupaten bisa seberantakan itu. Masyarakat sekitar juga jelas bertanggung jawab atas sesampahan yang memenuhi teluk terkurung itu, lalu dimana peran pemerintah mengarahkan, memperbaiki keadaan tersebut?

Gulana masih setia membuntuti Adin hingga perjalanan menuju rumah panggung kumuh yang berjarak lebih kurang 20 meter dari timbunan. Rumah pesisir dewasa ini tidak lagi beitu menguntungkan. Dengan pencemaran yang makin tidak terkontrol, membawa permasalahan baru. Tiap pagi mesti bercumbu dengan bau amis yang bercampur bau laut. Siangnya ketika laut mulai surut, tumpukan sampah teronggok menyedihkan, menempel di dinding tanggul, serta sesekali digiring ombak memutar teluk. Gerakan-gerakan yang coba ia lakukan juga belum membawa perubahan berarti. Teluk kecil yang terkurung akibat reklamasi itu sudah terlanjur menjadi pembuangan sampah masyarakat. Toh, masih belum tersedia pilihan lain.

Sesampainya di rumah, Adin mendapati Uleng, kakaknya baru saja selesai mengemasi barang. “Cepat ganti baju, kau berangkat lepas magrib.” Ujar Uleng. Ada keengganan yang kentara dalam kalimat yang baru saja ia ucapkan. Hei, ini pertama kali dalam tahun-tahun hidupnya berpisah denga adik tak sedarahnya ini.

Adin sendiri memendam sedikit kekhawatiran, tapi, sudah saatnya ia meninggalkan daerah dan pergi ke ibu kota. Ibu kota yang sesungguhnya. Untuk mencapai mimpinya memperbaiki daerah. Dengan bekal beasiswa, Adin melanjutkan studi ke ibu kota propinsi.

***

Matahari meninggi. Pengap mengungkung udara di tengah sengatan terik. Beberapa kawan mulai merapal mantra kekesalan, sebagian sibuk melipat kertas membentuk kipas, atau apapun yang dapat membantu sirkulasi udara dalam benda persegi panjang berwarna biru tua ini sebisa mungkin. Baik, ini abad millenium dan masih ada sekelompok mahasiswa yang menaiki bus tanpa AC.

Sebagian lainnya memilih merapatkan kelopak mata, melepas sisa kantuk semalam menyelesaikan setumpuk dokumen entah apa agar bisa berkumpul saat ini. Sebagian lagi sama sekali tidak peduli. Katanya sudah terbiasa dengan karakter khas orang kita, ngaretan!

Disudut kiri bus, Rere berdiri gelisah. Koordinator lapangan satu ini paling disiplin urusan waktu. Hanya saja Rere kadang kurang tenang menanggapi celah-celah permasalahan dalam kelompok, individu pun. Sedang keberangkatan sudah tertunda sepuluh menit. Wajah mungil gadis kurus berhijab merah muda cerah itu mulai lusuh, belum lama ia terdiam dan menurunkan berhala kecil manusia zaman ini yang disebut smartphone berwarna putih dari telinga, suara serak basahnya mulai terdengar lagi hingga ke bagian tengah bis, sepertinya seseorang diseberang telepon sana baru saja menerima wejangan darinya. Rere bukan tipe gadis pemarah, hanya saja seperti penjelasan diawal, kurang tenang dalam situasi genting.

“Minum dulu, Re. Suara serakmu makin menyeramkan.” Ijol dengan gaya cool-nya menyodorkan sebotol air mineral kearah Rere. Topi hitam yang sengaja dibalik, ransel coklat brand kenamaan salah satu perusahaan produk outdoor bertahta pas dipunggung lebarnya. Didukung tinggi semampai juga wajah teduh menyenangkan. Bagaimanapun kesalnya Rere, luluh juga oleh karibnya yang satu itu.

Rere meraih air mineral tadi lalu beranjak mencari tempat duduk, dibuntuti Ijol tentu saja. “Keras kepalamu baik pada banyak kesempatan. Tapi, ingat Re, jika kau tidak sanggup menjaga stamina, tidak ada yang bisa kau selesaikan. Aku percaya padamu.” Ucap Ijol.

“Terima kasih. Kau yang terbaik, Jol.” Rere menyeringai. “Hei, dimana temanmu itu? Kita berangkat sekarang!”

“Tunggu sebentar lagi. Aku yakin dia ikut.”

“Kita sudah menunggu lama, Jol. Kamu yakin dia bisa jadi volunteer?” Ucap Rere sambil melirik jam tangan.

“Aku yakin dia akan datang.”

“Lima menit lagi kita berangkat, dengan atau tanpa dia.” Ucap Rere tegas.

Tak lama kemudian muncul seorang pemuda dengan sepeda tua. “Itu dia. Adin.” Ucap Ijol.

“Baik. Kita berangkat.”

***

Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam, rombongan yang tergabung dalam satu komunitas peduli penddikan pesisir ini tiba di sebuah desa pesisir yang masih asri dan cukup terawat. Ijol lebih dulu mampirke salah satu rumah warga. Pembawaannya yang menyenangkan membuat Ijol mudah diterima siapa saja, termasuk masyarakat desa.

Secara kebetulan, Rere memilih rumah yang sama dengan Adin. Nenek pemilih rumah tampak sedang menjahit pakaian. Awalnya maksud mereka singgah di tempat itu ingin mencari tahu tentang kekayaan alam apa yag terdapat di desa tersebut. Tapi, menurut penuturan sang nenek, dirinya bukan penduduk asli desa tersebut. Bahkan sang nenek mengira Rere dan Adin adalah petugas kesehatan dari ibu kota. Karena memang pelayanan kesehatan di daerah tersebut masih sangat kurang. Di akhir perbincangan, sang nenek sempat berpesan sedikit kepada Rere dan Adin. “Sekolah itu penting. Bersyukur zaman ini pendidikan semakin mudah di dapatkan. Orang-orang berpendidikan itu harusnya bisa memberi sesuatu, minimal bagi daerah asalnya.” Tutur sang nenek.

Sementara di sudut lain beberapa anak kecil tengah bersaing memamerkan loncatan terindahnya. Tertawa riang dengan satu sama lain. Di tengah laut, tampak siluet kecil perahu-perahu nelayan yang sedang menjalankan tugas mencari nafkah dengan memanfaatkan sumber daya laut yang tersedia. Sementara ibu-ibu mengeringkan ikan hasil tangkapan suaminya. Di seberang, terdapat pulau yang menjadi tujuan wisata baik wisatawan lokal maupun manca negara. Transportasi menuju pulau tersebut juga menjadi salah satu mata pencarian penduduk.Lihat? Betapa laut bisa menyatukan banyak hal, banyak kehidupan.

Selain itu, tingkat pendidikan di desa inimasih lebih baik di banding desa-desa pesisir lainnya. Hampir semua anak yang ada di desa tersebut sedang mengenyam pendidikan sekolah dasar. Mereka menunjukkan antusias yang tinggi pada kedatangan Rere dan rombongan.

Dek, kalo sudah pulang sekolah biasanya ngapain?” Tanya Rere.

“Ke laut cari ikan.” Jawab Fadel, si kecil diantara teman-temannya.

Ada ikan apa aja emang?” Tanya seorang teman Rere.

Ikan Putih, Ikan Kerapu, Ikan Sunu.” Sambar Suci, si cantik yang katanya pintar bahasa inggris.

Betapa bahagianya ketika masyarakat bisa bersinergi dengan pemerintah setempat secara baik. Banyak hal yang bisa di kembangkan, khususnya di daerah pesisir yang memiliki limpahan kekayaan alam. Pendidikan sedini mungkin kiranya dapat menyambung harapan hidup masyarakat.

Ketika manusia dapat berinteraksi dengan alam secara baik-baik, maka semesta, termasuk laut, tidak akan mengkhianati. Masih banyak pekerjaan rumah untuk desa ini, tapi setidaknya, Rere dan kawan-kawan bisa menjadi semakin optimis untuk menjalankan program bantuan pendidikan bagi anak-anak pesisir.

Adin memisahkan diri dari rombongan menuju dermaga kecil di ujung desa. Seperti yang pernah ia lakukan saban hari lalu, Adin menjulurkan kaki ke laut. Kebetulan sedang pasang. Sensasi aroma laut yang khas membawanya membuka loker-loker kenangan masa kecil yang bahagia. Menceburkan diri ke laut tanpa peduli apa yang akan menanti di bawah sana. Meskipun satu dekade kemudian, sebagian lautnya bermetamorfosis menjadi ‘tempat pembuangan sampah’. Ironi yang menyakitkan tentu saja.

***

Layaknya hujan yang selalu jatuh kebawah, kenangan juga selalu bersemayam di hati pemiliknya. Kadang, semakin lama, kenangan justru semakin awet dan semakin kukuh mempertahankan eksistensinya dalam memori sang pemilik ingatan. Setelah kunjungan ke desa pesisir kemarin, Adin memutuskan untuk pulang kampung. Pulang kampung yang tiba-tiba.

Masih belum ada yang berubah dengan keadaan sekitar rumah Adin. Teluk pembuangan sampah masih belum mendapat solusi sepertinya, hanya semakin parah tercemar. Kabar baiknya, Uleng sudah menikah dengan putri tetangga dan sudah pindah ke daerah lain. “Sudah dapat pekerjaan layak.” Katanya.

Saat matahari beranjak turun, Adin melanjutkan perjalanan menuju timbunan tempat ia menyaksikan matahari terbenam dulu. Anak-anak kecil baru saja naik dari ritual mandi laut sorenya. Adin duduk sendiri di bibir tanggul timbunan yang tidak kunjung selesai ini. Kemudian sebuah siluet muncul tak jauh dari sisi kiri Adin, seorang gadis sebayanya. Gadis pembawa ember penuh limbah rumah tangga. Gadis kurus yang suka membuang sampah di teluk kecil itu. Adin mengenalinya, Yana. Gadis itu kini sudah terlihat jauh lebih dewasa. Dan tetapa anggun seperti yang Adin kenali. Gadis itu duduk tepat di sebelah Adin.

Yana satu-satunya gadis yang berhasil dekat dengan Adin semasa sekolah. Bukan karena pemilih, tapi dengan sifat dingin Adin dan ketertutupannya, hanya Yana yang berhasil bertahan.

“Masih mengenalku?”

“Tentu saja, gadis pembuang sampah.”

“Jahat sekali. Oh iya, kau tidak melewatkan dua pipa besar di ‘tempat pembuangan sampah’ itu’kan?”

“Maksudmu?”

“Aku dan beberapa orang teman sedang bekerjasama dengan pemerintah setempat membuat aliran baru untuk teluk ‘pembuangan sampah’ itu. Kau tidak melihat dua pipa besar disana? ”

“Ah, begitu. Aku tidak memerhatikan.” Sebenarnya Adin cukup terkejut. Tapi, hanya seperti itu cara dia memberi respon.

“Dan, perpustakaan terapung yang kau dirikan 3 tahun lalu, sekarang sudah berkembang cukup pesat. Kau tahu, putri kecilku sangat menyukainya.” Yana menjelaskan dengan wajah berbinar.

Putri? Sebagai pemuda yang masih bergetar saat bertemu tatap dengan gadis di sampingnya ini, Adin tentu terkejut. Bagaimana mungkin?

”Maksudmu kau sudah menikah?” kali ini Adin tidak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya.

Anggukan mantap Yana menjadi jawaban yang paling jelas. Keduanya diam. Sementara detik tak kenal kompromi menerabas setiap belukar angka dalam arloji hitam yang melingkar di lengan kiri Adin. Ombak selatan yang cukup bergejolak mulai undur diri perlahan-lahan. Sampai panggilan Tuhan menggema lantang ditengah mega berangsur kehitaman ini pun tak satu pun kata meluncur dari bibir Adin atau Yana.

“Siapa?” Suara serak Adin akhirnya terdengar lagi.

“Juri lomba pidato yang kau sebut menyebalkan itu.”

“Oh, begitukah?”

“Ya. Beberapa program termasuk perpustakaan terapungmu bisa berjalan karena adanya ikatan itu.”

Napas Adin tersekat seketika.

“Kadang harus ada yang di korbankan untuk mendapatkan sebuah keseimbangan. Meski aku tidak benar-benar merasa menjadi korban disini.”

Lonceng malam berdentang menyambut temaram, ditutup deburan ombak selatan yang sempat mundur teratur. Dan Adin yang berhasil melepas satu napas tertahan tadi.