Belajar dari Makna Mutasi

CaptureMenyimak ragam soal tentang mutasi.

Belum lama ini, 585 tenaga kontrak di Universitas Tadulako dikejutkan dengan adanya mutasi dan rotasi besar besaran oleh pengambil kebijakan. Tentunya hadir suara tanggapan yang beraagam. Ada yang ikut mendukung keputusan pimpinan tersebut, namun ada juga sebagian kalangan memiliki pandangan berbeda.

Menurut Prof Mahfudz, selaku wakil rektor bidang umum dan keuangan, mengutarakn bahwa perihal tentang mutasi adalah soal yang biasa dan telah diatur dalam ketentuan. “Pegawai apapun namanya, mutasi itu merupakan hal yang biasa dan sudah diatur dalam ketentuan. Terutama pada saat mereka masuk diawal, tentu ada kontrak yang disepakati, bersedia ditempatkan disatuan kerja manapun di kampus ini,” ujarnya.

Guru Besar Fakultas Pertanian itu, juga menyampaikan beberapa pertimbangan bijak. Mutasi ini bagian dari langkah penyegaran pegawai. Mungkin sudah jenuh dalam rutinitas tugas kerjanya, maka alangkah baik menurutnya untuk merasakan tugas ditempat lain.“Mungkin sudah jenuh di situ jadi dilakukan langkah-langkah penyegaran. Kan tidak bagus mulai terangkat sampai selesai mengabdi cuma di satu tempat,” ungkap Prof Mahfudz.

Selain itu, ia juga mengutarakan bahwa proses mutasi ini tidak serta merta, ada proses evaluasi yang dilakukan. Evaluasi itu juga hadir dari laporaan masing-masing pimpinan unit, ada pula yang minta pegawai tertentu tetap dipertahankan.

“Namun ada juga bidang yang tidak bisa kita utak-atik. Berkaitan dengan misalnya pada bagian keterampilan tenaga khusus. Misal tenaga laboratorium dan teknisi komputer. Namun hal-hal seperti bidang administrasi saya pikir pekerjaan yang bersifat umum,” terangnya. “Dan saya kira jika para tenaga honorer ini profesional maka ditempatakan di manapun mereka pasti akan terima dan bekerja dengan baik,” imbuhnya.

Senada dengan itu, Kepala Biro Umum dan Keuangan, Dr H Sukran M.Si, menjelaskan bahwa  alasan dilakukan mutasi bagi tenaga kependidikan, yaitu kalau yang namanya mutasi, itu wajib hukumnya. Sebab tidak bisa selama diangkat berada disitu terus hingga tiba masa pensiun. Dimutasi untuk melakukan penyegaran, sudah terlalu lama disitu juga kan merasa jenuh pastinya. Juga untuk memperdalam keilmuan, pengalaman dan pengetahuannya dibidang lain.

Ia juga memberi penegasan, jika sekiranya ada yang tidak terima, ketika dipindah tugaskan ke bidang lain maka mau tidak mau pegawai tersebut dengan keikhlasan harus mengundurkan diri. Sebab di awal proses seleksi, para tenga kontrak tersebut sudah melakukan tanda tangan surat pernyataan yang isinya siap ditempatkan dimana saja.

“Ya memang akan ada yang merasa tidak nyaman dengan proses mutasi ini, namun ini juga akan memberikan pembelajaran bagi para pegawai untuk mendapat ilmu dan pengetahuan baru, selain itu lingkungan kerja yang baru juga sehingga mereka tidak hanya mengenal beberapa orang saja,” jelasnya.

Disisi lain, kebijakan Universitas Tadulako mengenai Rotasi pegawai itu mengundang komentar lain dikalangan pegawai dan mahasiswa. Dimana mahasiswa merasa sedikit dirugikan karena kebijakan rotasi ini, saat di temui oleh awak Media Tadulako, mahasiswa Untad yang tak ingin disebutkan namanya ini mengaku bahwa rotasi pegawai yang dilaksakan oleh pihak universitas berdampak pada pelayanan kemahasiswaan.

“Dengan adanya rotasi pegawai ini mahasiswa merasa sedikit dirugikan, dikarenakan pegawai yang baru ditugaskan di tempat barunya tersebut belum dapat melaksanakan tugasnya dengan maksimal, dimana pegawai yang ditugaskan pada tempat barunya tersebut masih dalam proses belajar sehingga pelayanan yang diberikan belum maksimal,” ungkapnya.

Hal ini pula terjadi di kalangan pegawai, dimana menurut salah satu pegawai yang juga enggan disebutkan namanya, merasakan dampak dari rotasi ini. Ia merasa bahwa rotasi ini membauat mereka para pegawai harus beradaptasi kembali di lingkungan yang baru, dengan orang-orang yang baru, sedangkan disisi lain mereka sudah merasa nyaman dengan lingkungan yang dulu.

Namun, menurut Yusuf, salah seorang pegawai di lingkungan FKIP, menyebutkan bahwa rotasi ini justru berdampak baik bagi kita. Tentu kita akan mendapat pengalaman baru di satuan kerja yang ditempatkan. Sehingga menurutnya, rotasi ini saat kita memandang positif pastinya kita akan mendapati banyak pembelajaran dan makna yang baik.

“Mutasi ini juga akan membuat semangat kerja dan cara berfikir kami semakin baik. Tak ada pilihan lain bagi kami, selain bekerja cerdas, cermat dan tentunya melayani dengan prima dimana saja,” ujarnya.

Menjawab tanya dari telaah mutasi.

Berselang dari beberapa hari diumumkannya mutasi dan rotasi tersebut. Rektor Universitas Tadulako, Prof Dr Ir H Muhammad Basir SE MS, menyampaikan catatan pandangannya, sebagaimana telah dimuat di laman untad.ac.id beberapa waktu lalu.

Dalam catatannya tersebut, rektor mengungkapkan bahwa amat sederhana alasan di balik rotasi besar-besar 585 tenaga kontrak honorer yang ada di Universitas Tadulako. Terkesan mengejutkan memang karena selama 35 tahun Universitas Tadulako berdiri sebagai PTN, tenaga honorer tidak pernah tersentuh yang namanya rotasi, mutasi unit kerja, dan lain yang bermakna sama. Menurutnya wajar, bila kebijakan ini “mengguncangkan perasaan” sebagian besar tenaga kontrak dan/atau juga atasan tempat di mana tenaga kontrak itu selama ini melalui hari-harinya dalam pengabdian.

Masih menurut rektor, dimensi yang tak kalah pentingnya adalah menumbuhkan motivasi dan menciptakan Pelangi Pengetahuan bagi semua tenaga kontrak agar jangan terpaku pada pengetahuan dan pengalaman hanya dalam satu bidang saja.

Dalam memahami pelangi pengetahuan tersebut, ia menerangkan bahwa bila tempat mereka bekerja berbasis bidang layanan, semisal administrasi akademik, maka alangkah tidak adilnya bila tenaga kontrak tersebut sejak mengenal Universitas Tadulako dalam pengabdiannya di bidang administrasi akademik menjadi warna pengetahuan satu-satunya hingga tenaga kontrak tersebut memasuki purna bakti dan meninggalkan Untad pada saatnya. Demikian pula bagi mereka yang hanya memiliki warna pengetahuan di bidang administrasi keuangan. Sungguh sebuah petaka sosial dari perspektif pengembangan komptensi SDM bila kita membiarkan suasana itu berlangsung secara terus menerus tanpa ada sentuhan instrumen kebijakan.

Dengan rotasi tahap awal ini jelasnya, minimal mereka akan mendapatkan dua warna pengetahuan setelah menempati unit lain dalam lingkungan Universitas Tadulako. Jika seorang tenaga honorer telah dirotasi ke sejumlah unit, maka dipastikan pengetahuan mereka akan terus bertambah. Mereka akan paham administrasi akademik. Akan paham administrasi keuangan. Akan mengerti tatakelola persuratan. Bahkan akan paham warna warni perilaku atasannya yang berubah-ubah.

“Dari pendekatan ini, tenaga honorer memang berstatus kontrak tetapi tetap akan kaya dengan pengetahuan dan skill. Inilah hakikat dari ‘Pelangi Pengetahuan’ yang diperoleh dari empirik karena perjalanan waktu dan dari beragam tempat mereka mengabdikan diri,” terang Prof Basir.

Diakhir catatanya, Prof Basir memberikan dorongan spirit kepada seluruh pegawai. Baik yang dimutasi maupun tetap berada di unit kerja sebelumnya, untuk terus bersemangat memberi karya terbaik dalam tugas pengabdiannya. Tentunya dalam memahamii dengan hati yang lapang makna dari Pelangi Pengetahuan dalam basis ketadulakoan. Wrd/Ash/Rf

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here