Dr. Golar, S. Hut.,M.Si, Nakhoda Baru LPPMP : “Semangat Belajar yng Tak Pernah Mati”

Dr. Golar

Dr. Golar, S. Hut., M.Si, pria kelahiran Jakarta, 24 Februari 1973 ini baru saja dilantik sebagai Ketua Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPPMP) Universitas Tadulako. Golar, sapaan akrabnya memulai karir di Kampus Kaktus ini sejak tahun 2000. Dengan senyum yang terus mengembang, ia berkisah tentang awal kedatangannya di pusat peradaban kota Palu ini yang telah mencetak ribuan sarjana.

Kala itu, kurang lebih 16 tahun yang lalu Golar menginjakan kakinya di Universitas Tadulako dan menjadi seorang dosen di Program Studi Manajemen Hutan. Sebelum kemudian dipercayakan sebagai Direktur Hutan Pendidikan Universitas Tadulako sejak tahun 2008 sampai 2011. Lalu di tahun 2011 sampai 2012, suami dari Dr. Hasriani Muis, S.Hut., M.Si ini diamanahkan sebagai sekretaris Pusat Penjaminan Mutu Untad. Pusat Penjaminan Mutu Untad berubah menjadi Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan, dengan Golar tetap menjadi sekretaris mendampingi Dr. Muhammad Nur Ali.

“Saya di Untad itu sejak tahun 2000. Saya diterima di program studi Manajemen Hutan, sekarang Fakultas Kehutanan. Saya tertarik di Untad saat itu karena kehutanan di Sulawesi Tengah ini cukup prospek untuk dikembangkan ke depan,” jelasnya.

“Saya sempat menjabat sebagai direktur hutan pendidikan setelah selesai sekolah S3. Pada 2008, Rektor menugaskan saya sebagai direktur Hutan Pendidikan sampai tahun 2011. Lalu 2011 saya diminta bergabung dan mendampingi pak Nur Ali sebagai sekretaris. Dulu namanya Pusat Penjaminan Mutu, langsung di bawah rentang kendali Rektor. Saat itu Dr. Nur Ali sebagai ketuanya.. Pada 2012, Pusat ini diubah namanya menjadi LPPMP,  dan kami masih dipercaya untuk meneruskan tugas hingga dipenghujung 2016. Nah, pada awal 2017, alhamdulillah saya masih dipercayakaan untuk menggantikan Pak Nur Ali menjadi ketua LPPMP, menurut Surat Keputusan yang tertera,” ucapnya ramah.

Ayah dari Misykah Aulia Golar, Ahmad Fadlan Aufa Golar, dan Putri Malika Khairin Golar ini menyelesaikan studi S1 nya di Universitas Hasanudin, bidang Ilmu Manajemen Hutan pada tahun 1996. Kemudian melanjutkan studi pada Universitas yang sama bidang ilmu Manajemen Lingkungan tahun 1997-1999, dan S3nya di Intstitut Pertanian Bogor (IPB) pada 2003 sampai 2007 dengan bidang ilmu Ilmu Pengetahuan Kehutanan.

Selama menempuh studi, sejak S1 hingga berhasil memperoleh gelar Doktor, Golar menemui banyak pergolakan batin. Diantaranya adalah dalam memilih jurusan. Pria berdarah asli Selatan Sulawesi ini sempat berkuliah selama satu semester di Trisakti jurusan Teknik Perminyakan. Jurusan ini adalah keinginan ayahanda Golar yang seorang Pelaut. Ayahnya menginginkan anak-anaknya menimba ilmu pada bidang berorientasi Kelautan. Namun, Golar akhirnya memilih untuk memutuskan kuliahnya di Trisakti dan melanjutkan di Makassar atas restu sang Ibu.

Saat banting stir di Unhas, awalnya Golar lulus pada jurusan Biologi FMIPA konsentrasi Mikrobiologi. Tetapi karena jiwanya tidak dapat terkungkung dalam satu ruangan, dan lebih banyak suka bereksplorasi di alam bebas, Golar akhirnya memilih Kehutanan. Menurutnya, Kehutanan itulah yang paling pas dengan jiwanya. Sebab ia dapat berinteraksi tidak hanya pada hutan tetapi dengan masyarakat di sekitar hutan itu.  Bidang kehutanan adalah bidang ilmu yang benar-benar dari hatinya.

Anak dari A. Baso Picunang dan Hj. Sitti Arifah (almh) memang sangat dekat dengan ibunya. Hampir seluruh waktunya ia habiskan dengan ibunya, sebab ayahnya terbilang jarang pulang karena terus berlayar dengan rute pelayaran yang tidak dekat. Sehingga Sang Ibu terus ia bawa serta meski telah berumah tangga. Bahkan saat menempuh studi S3. Sebagai anak satu-satunya dari istri pertama bapaknya, Golar terus mempersembahkan keberhasilan pada ibundanya sebagaimana keinginan sang ibu.

“Saya ini dari ibu pertama adalah anak satu-satunya. Dan punya saudara 3 dari ibu yang berbeda. Jadi darah yang mengalir pada tubuh saya adalah darah pelaut. Sehingga kendala saat menempuh pendidikan adalah karena keinginan orang tua. Bapak saya ingin saya melanjutkan sekolah di bidang pelayaran. Atau minimal yang berhubungan dengan itu. Karena itu saya sempat kuliah di Trisakti satu semester,” tuturnya yang pernah aktif di Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat kuliah.

“Sebenarnya saya sudah menunaikan keinginan bapak untuk berusaha mewujudkan cita-citanya. Namun,  satu semester di Trisakti itu, saya lebih banyak menghabiskan waktu di jalan. Saya tinggal di Jakarta utara dan sekolah di Jakarta selatan. Juga pergaulan yang tidak terkontrol. Di Trisakti saya mengambil jurusan perminyakan. Perminyakan itu keinginan bapak saya. Tapi akhirnya saya banting stir karena sudah mulai terpengaruh dengan suasana Jakarta. Mungkin kalau ditanya hati kecil, beliau pasti kecewa. Tetapi saya buktikan dengan benar-benar kuliah di Unhas mengambil jurusan Manajemen Hutan,”  lanjut salah satu kontributor dalam buku Situs Keramat Alami (Peran Budaya Dalam Konservasi Keanekaragaman Hayati) yang diterbitkan tahun 2009.

Soal memilih jurusan Manajemen Hutan, akunya memang bertentangan dengan keinginan bapaknya. Tetapi kemudian ia tidak terlalu terbebani karena dua adiknya dari ibu kedua, kini menjadi seorang pelaut.

Keseriusan Golar untuk kuliah sungguh-sungguh terbukti dengan ia meraih beasiswa saat studi. Ketika S1 ia menerima beasiswa Van Depenter yaitu beasiswa dari Belanda yang dikumpulkan dari mantan-mantan penjajah, atau bisa katakan orang-orang yang ingin membayar kesalahannya karena menjajah Indonesia. “Tapi beasiswa Van Depenter ini sifatnya suplement. Kita diberi uang SPP dan uang jajan. Untuk mendapatkan beasiswa ini kita membuat essai terkait dengan bagaimana Indonesia membangun pasca penjajahan. Lalu S2 saya mendapatkan beasiswa full dari Bappenas, melalui program URGE” ungkapnya.

Soal kedekatannya dengan sang ibu, mata Golar berkaca-kaca di balik kaca matanya saat mengenang kisah bersama ibunya. Suasana di ruang kerjanya itu berubah sendu. Ibunya yang berdarah Palopo itu sangat ia kasihi. Karena bapaknya seorang pelaut, Ibunya hanya menghabiskan waktu berdua saja dengannya. Jika pun berjumpa dengan bapaknya, hanya sekali dalam enam bulan atau setahun sekali.

“Saya sangat dekat dengan ibu saya. Dan keinginan saya adalah menghadiahkan gelar Doktor padanya waktu itu. Karena Ibu saya ingin sekali melihat anak semata wayangnya berhasil. Makanya saya cepat-cepat sekolah karena ibu saya sudah usia senja. Tetapi, tidak kesampaian karena ibu saya meninggal jelang saya ujian saat itu di tahun 2006. Saya sempat mengantarnya ke Makassar dari Bogor karena beliau minta untuk berjumpa dengan adiknya. Saat mau kembali ke Bogor, beliau terkena disentri dan di opname 3 hari. Saat saya ingin bawa ke Bogor lagi, beliau sudah berkata bahwa tak bisa balik lagi,” Kenangnya.

Berdasarkan pengalaman kehidupannya, yang begitu rindu pada bapaknya, Golar mewanti-wanti pada anak lelakinya untuk tidak sedikitpun melirik di bidang pelayaran. Hal ini berdasarkan banyak hal, salah satunya karena kerinduannya pada bapaknya yang seorang pelaut dan jarang bertemu dengannya. Dan Golar tak ingin anak-anaknya merasakan apa yang ia rasakan. Sebab itu, kesyukuran luar biasa ketika ia menjadi seorang dosen. Ia punya banyak waktu untuk anak-anak dan istrinya.

Golar yang lahir dan besar di Jakarta memiliki sejumlah pengalaman baik pengalaman penelitian, Pengalaman Pengabdian, maupun pengalaman penulisan artikel dalam jurnal. Pengalaman-pengalaman tersebut pastinya melahirkan sejumlah karya. Pada Pengalaman penelitian dalam 5 tahun terakhir, Golar yang mengaku jarang pulang ke kampung orang tuanya, kecuali jika ada hajatan, memiliki 6 judul penelitian (melalui pembiayaan DIKTI) yakni Implementasi Model “NESP” Berbasis Spasial Dalam Upaya Peningkatan Kesejahteraan Komunitas Masyarakat Rawan Konflik Di Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), Pengembangan Model Kolaborasi Adaptif Dalam Pengellaan Sumber Daya Hutan Sebagai Alternative Resolusi Konflik dan Pemberdayaan Ekonomi Peladang Di Taman Nasiolan Lore Lindu (Tahun II), Pengembangan Model Kolaborasi Adaptif Dalam Pengellaan Sumber Daya Hutan Sebagai Alternative Resolusi Konflik dan Pemberdayaan Ekonomi Peladang Di Taman Nasiolan Lore Lindu (Tahun I), Kajian Lanskap Agroforestry Pada Komunitas Asli dan Pendatang Di TNLL, Desain Tata Hutan dan Pengelolaan Kph Dampelas Tinombo, dan Inventaris Potensi Social Dan Budaya Masyarakat Dongi-Dongi.

Selain itu, ditahun 2006, Golar pernah memperoleh anugerah sebagai Young Scientists dari Unesco, program Man and the Biosphere, setelah karya tulisnya memperoleh penghargaan sebagai pemenang I tingkat nasional dengan Judul: “Adaptive Strategy of Toro Community: A Study of Local Institution Strengthening for Managing and Utilizing Fores Resources in Lore Lindu National Park.

Sedangkan pengalaman pengabdian, Golar memiliki pengalaman yang tidak kalah banyak dengan pengalaman penelitiannya. Salah satu judul pengabdiannya adalah Nara Sumber Penyusunan Rencana Tahunan Pengelolaan KPHP Pogugul Kabupaten Buol pada tahun 2015. Sementara salah satu judul artikel ilmiahnya dalam jurnal yaitu The Use Of Subjective Criteria For The Poverty Assessment Of Communities Near Lore Lindu National Park (2016).

Pemilik motto “Mengalir seperti air” dan “di atas langit masih ada langit” memiliki trik-trik untuk menghadapi mahasiswanya yang beragam karakter. Baginya bisa menyatukan diri dengan mahasiswa adalah kunci untuk mengajar dan mendidik serta dapat melakukan banyak hal dengan baik. Ia juga tidak pernah memposisikan dirinya di atas dan mahasiswa di bawah. Ia selalu mencoba untuk lebih dekat dengan mahasiswanya yang dapat membantunya mentransfer ilmu dan sebagainya.

Namun, tidak dapat dipungkirinya, bahwa menjadi dosen memiliki kendala dalam berinteraksi dengan mahasiswa. “Dari sisi kendala berinteraksi dengan mahasiswa, bahwa memang kita tidak bisa menutup mata,  mahasiswa itu kan memiliki kapasitas dan kemampuan yang berbeda-beda. Tetapi disinilah tantangannya. Selama ini saya mencoba untuk memberikan apa yah istilahnya, menanamkan minat dulu ke mereka. Itu yang penting menurut saya. Kalau belum apa-apa kita sudah memberikan kesan bahwa sesuatu itu sulit dan sebagainya maka mereka tidak berani,” ucap Golar yang terus menerapkan yang terbaik.

Sebagai seorang dosen yang memiliki tugas tambahan, Golar menyadari bahwa tugas mengajarnya tidak maksimal. Karena harus membagi tugas. Karena itu ia tidak menutup ruang untuk mahasiswanya berdiskusi dan membicarakan banyak hal, selama di kampus dan bisa ditemui.

Golar yang mengaku suka menghabiskan waktu bersama keluarga dan hobi nonton film ini, juga memiliki cara sendiri dalam membimbing mahasiswanya menyelesaikan Tugas Akhir, khususnya S1.  “Saya mentreadment mereka, mahasiswa yang saya bimbing menyelesaikan Tugas Akhir. Langkah pertama yang saya lakukan ketika mereka menghadap dan mengutarakan keinginan untuk meneliti, saya coba untuk mengeksplor keinginan mereka itu. Karena biasanya mereka latah. Khususnya Mahasiswa S1, biasanya hanya buka skripsi teman, kemudian ingin melakukan penelitian yang serupa atau coba ikut-ikutan,” terang mantan pecinta Alam ini.

“Langkah selanjutnya, saya mengumpulkan mereka dalam satu kelompok yang penelitiannya sama tetapi objek berbeda. Lalu saya minta mereka saling berbagi informasi. Jadi satu orang saya push dengan sangat maksimal dan mereka berdiskusi dengan yang lain. Juga jika ada mahasiswa yang butuh perhatian khusus, kita harus siap untuk membantu dan membimbing. Memang di awal susah, tetapi jika kita telah membuat mereka paham mereka akan menyukai. Meski penelitian mereka sangat sederhana jika itu dari hati, maka mereka akan menyelesaikannya dengan lebih mudah” tutur Golar mengakhiri kisahnya.