Silaturahmi Penghubung Multicutural Communications

Mohammad Annur Tri Putra, S.I.Kom Postgraduate Work Program of Communications Science at Brawijaya University
Mohammad Annur Tri Putra, S.I.Kom
Postgraduate Work Program of Communications Science
at Brawijaya University

Pendahuluan

Hampir setiap hari kita membaca di media online atau melihat di TV, bagaimana orang-orang begitu mudah menyakiti orang lain, membunuh bahkan memporak-porandakan satu negara dengan bom-bom mereka, ada yang hanya karena masalah sepele dan ada juga karena masalah pengambilan wilayah. Keterasingan dan persaingan mungkin yang menjadi hal untuk mendorong orang untuk berbuat agresif dan merusak, termasuk menganiaya dan membunuh orang lain.

Hubungan antara anonimasi dan agresi pernah diteliti oleh Philip G. Zimbardo di Amerika. Ia dan kawan-kawannya meninggalkan sebuah mobil tanpa plat nomor dan tanpa kap di sebuah jalan di Palo Alto, California, juga meninggalkan sebuah mobil serupa di sebuah jalan di kota besar, yaitu daerah Bronx, New York, di mana orang-orangnya tidak saling kenal mengenal dan terasing antara satu dengan lainnya. Dalam dua kasus itu masing-masing mobil berwarna putih dan ditempatkan di daerah kelas menengah dekat sebuah universitas besar.

Di Palo Alto mobil tersebut tidak terjamah siapapun selama seminggu lebih. Kecuali, orang lewat yang merendahkan kap mobil agar mesin mobil itu tidak basah. Di Bronx dalam beberapa jam saja dan pada siang bolong orang-orang dewasa dan anak-anak muda telah mempereteli onderdil-onderdil mobil yang masih bisa dipakai dan dijual. Tidak ada orang yang mempedulikan perilaku mereka. Kemudian berikutnya, anak-anak memecahkan kaca depan dan kaca belakang mobil, lalu orang-orang dewasa menghantam mobil itu dengan batu, pipa dan palu. Tiga hari kemudian mobil itu menjadi barang rongsokan yang hancur tanpa bentuk. Kejadian itu menunjukkan hubungan yang erat antara keterasingan dangan kekerasan.

Kasus tersebut meneguhkan sebuah penelitian sebelumnya, yaitu bahwa dengan adanya percobaan pembunuhan atas para Presiden atau kandidat Presiden Amerika ternyata dilakukan oleh orang-orang yang merasa kesepian dan terasing. Ada ciri yang sama pada orang yang mengancam membunuh para Presiden atau kandidat Presiden Amerika dalam periode 20 tahun, yaitu bahwa mereka adalah orang-orang yang secara sosial terisolasi. Tahun 1972 lelaki yang dituduh mencoba membunuh kandidat Presiden George Wallace secara luas dilukiskan sebagai orang yang selalu kesepian sejak kanak-kanak dan menghindarkan diri untuk berhubungan dengan orang-orang.

Ada juga pengambilalihan wilayah yang dilakukan oleh negara Israel terhadap negara Palestina, dengan memporak-porandakan palestina tanpa merasa dan melihat bahwasanya negara itu mempunyai ratusan bahkan ribuan keluarga yang tinggal. Begitu pun Aleppo yang dikirimi roket-roket oleh negara Rusia, Syria, dan Iran. Itu semua demi kepentingan negara masing-masing demi mendapatkan satu wilayah yang sangat diinginkan.

IMG-20170119-WA0004Silaturahmi dalam Multikultural

Maka dalam konteks ini, kita yang sejak lahir adalah masyarakat sosial harus membiasakan budaya silaturahmi sebagai alat pemersatu antar sesama ummat manusia dan juga ini dapat menjadi sarana untuk menghindarkan diri dari agresivitas dan keterasingan walaupun kita dari negara yang berbeda atau etnis, ras, budaya, maupun agama. Karena silaturahmi sendiri berfungsi mempererat persaudaraan dan persahabatan. Dalam Al-Qur’an, surat Al-hujraat ayat 13, Allah berfirman yang artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.”

Seperti yang kita ketahui bahwa kebutuhan utama kita sebagai manusia, dan untuk menjadi manusia yang sehat tidak hanya secara jasmaniah tetapi juga rohaniah, maka kita membutuhkan hubungan sosial yang ramah, dan saling mengerti dan menghargai satu sama lainnya. Mulai dari cara kita memandang sesuatu maupun mengungkapkan pendapat, demi menjaga hubungan sosial antarkelompok ataupun antaretnis. Menurut salah seorang psikolog terkenal yaitu Abraham Maslow, menyebutkan bahwa satu di antara kelima kebutuhan utama manusia adalah kebutuhan sosial untuk memperoleh rasa aman lewat rasa saling memiliki dan dimiliki, pergaulan, rasa diterima, memberi dan menerima rasa persahabatan. Dan pada dasarnya, manusia yang tidak berhubungan dengan orang lain akan kehilangan rasa kemanusiaannya dan akan berprilaku sama seperti hewan. Contohnya saja, anak liar dari Aveyron yang ditemukan januari 1800 di sebuah desa di Perancis Selatan. Ia tidak dapat berbicara, melainkan hanya meraung-raung dan menjerit-jerit layaknya hewan. Ia tidak mempunyai konsep bahwa ia adalah seorang manusia. Tapi hanya setelah dipengaruhi oleh ibu yang mengasuhnya dan menyayanginya, ia akhirnya mulai sedikit berprilaku layaknya manusia.

Menariknya kita ummat islam telah diingatkan juga oleh Nabi Muhammad SAW untuk selalu berhubungan sosial. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim dan Bukhori, Rosulullah bersabda: “siapa saja yang ingin memperoleh kelapangan rezeki dan panjang umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan dengan keluarganya”. Dan hadits  ini mempunyai implikasi ilmiah kemudian telah didukung oleh banyaknya hasil penelitian. Seperti para peneliti medis menemukan bebagai bahaya yang diakibatkan kekurangan komunikasi, misalnya: orang yang kekurangan hubungan akrab mempunyai dua hingga tiga kali risiko kematian dini, terlepas dari apakah mereka merokok, minum alkohol, ataupun olahraga teratur.

Terkadang kita terkadang dapat dengan mudah menduga bahwa watak tertentu menimbulkan respontubuh tertentu pula. Misalnya, ketika kita melihat reaksi tubuh seseorang yang sedang marah, ia pasti akan menunjukkan muka yang merah, mata melotot, tubuh gemetar, berkeringat, sementara jantungnya berdetak lebih cepat, dan tekanan darahnya meninggi. Dalam konteks ini sebenarnya tidaklah baru bagi kita, tetapi untuk memperteguh ucapan Nabi Muhammad SAW yang merupakan sang ilmuan sejati pada 14 abad yang lalu. Dr. Masaru Emoto merupakan salah satu pakar di Jepang yang menemukan bahwanya air pun ternyata seolah bernyawa saat diperlakukan manusia. Manusia yang “bersilaturahmi dengan air” misalnya berdo’a dan mengucapkan hal-hal yang baik dihadapan air, apalagi ketika sebelum kita meminumnya, akan membuat air itu menunjukkan kristal-kristal yang indah saat membeku. Sebaliknya, jika air diperlakukan buruk, maka kristal-kristal yang terbentuk pun buruk juga. Jika air saja bereaksi atau terpengaruh seperti itu, apalagi kita manusia.

Konteks Komunikasi dalam Multikultural

Maka dari itu, inti dari kehidupan kita (manusia) adalah komunikasi itu sendiri. Karena, dengan komunikasi itulah yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lain di dunia ini. Dan komunikasi yang berlandaskan persaudaraan merupakan suatu kewajiban yang harus kita penuhi apalagi kita ummat Islam, yang begitu banyak tuntunan dalam Al-Qur’an ataupun Hadits. Beberapa ayat dalam Qur’an menegaskan yaitu: “Perbaikilah hubungan di antara sesamamu” (Al-Anfaal: 01). Kemudian ditekankan lagi yaitu: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudaramu” (Al-Hujraat: 10).  “Dan berbuat baiklah kedua orang tuamu, keluarga, anak-anak yatim, orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabiil, dan hamba sahayamu” (An-Nisa: 36).

Kemudian  didukung dengan sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim mengatakan: bahwa tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali persaudaraan.

Pada zaman modern ini, kita dapat bersilaturahmi lewat teknologi komunikasi. Namun teknologi komunikasi, mulai dari telepon hingga internet (termasuk facebook), bahkan teleconference dengan layar lebar dan sistem suara sedahsyat apapun, hanyalah sebuah perpanjangan pancaindra manusia. Sedangkan silaturahmi dengan komunikasi tatap mukanya adalah penyambung hubungan yang paling alamiah. Faktor penunjang adalah sentuhan dan bau wewangian, yang begitu sangat efektif untuk mengakrabkan hubungan. Aroma dan sentuhan jelas tak tergantikan karena tidak dapat diberikan oleh teknologi komunikasi. Memberikan wewangian pada badan ataupun pakaian, meberikan minyak atau yang sering dipakai anak muda sekarang (pomade) pada rambut dan memberikan bedak pada anak, mendekap tubuh mereka, sungguh suatu pengalaman yang membahagiakan. Dan hasilnya adalah silaturahmi tatap muka atau bisa dibilang komunikasi tatap muka, dengan menjaga aturan-aturannya secara islami, sungguh penting kita lakukan hingga kapan pun dan di mana pun kita berada.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here