07.30 am, FMIPA dan FKIP Sudah Bergerak

Untitled-1

Bila disebagian besar fakultas perkulian baru dimulai pada pukul 08:00 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) melakukan terobosan dengan memajukan jam perkuliahan pada pukul 07:30 Menurut Dr Lukman Nadjamuddin, Dekan FKIP dimajukannya jam perkuliahan ini disebabkan karena jumlah mahasiswa FKIP lumayan banyak sementara jumlah ruangan tidak mencukupi, situasi itu berdampak masih adanya kelas-kelas yang belum digunakan secara maksimal, “Karena itu kuliah kita majukan sehingga bisa efektif empat shift dalam sehari, dan itu kita kontrol perkuliahan jalan apa tidak,” ucapnya.

Dr Lukman mengakui bahwa selama ini memang masih banyak mahasiswa yang sering datang terlambat. “Saya pernah dapat mahasiswa baru datang jam 8 lewat. Kultur ini kan yang belum ditradisikan oleh mahasiswa datang pada jam itu, jadi problem baru juga kita hadapi, karena kalau kita kuliah agak lambat, lambat juga pulangnya. Mungkin ada dosen juga, tapi dosennya kita kontrol,” ungkapnya.

 

Meskipun masih banyak yang lambat, Dr Lukman berharap manfaat dari kebijakan perkuliahan yang lebih awal ini bisa membudaya. “Karena itu cleaning service kita suruh kerja di awal, jam 7 mereka sudah posisi bersih di kampus. Jadi cleaning service juga bergerak lebih awal. Kasubag perlengkapan dan jajarannya juga bekerja lebih cepat. Makanya pagi-pagi pintu sudah terbuka semua. Jika ada yang tidak terbuka, tapi dosen sudah ada, kita posting, sehingga kita mudah koordinasinya,” terangnya.

Terkait jadwal yang dipercepat ini, Hikmah dan Iqra, dua mahasiswa FKIP yang ditemui pada kesempatan lain cukup menyambut baik kebijakan yang dikeluarkan oleh fakultas mereka. Menurut Iqra, kebijakan pemajuan jadwal mata kuliah mulai pukul 07.30 ini cukup tepat mengingat masih kurangnya sarana dan prasarana yang memadai antara lain keterbatasan ruang kuliah. Namun ia juga berharap kebijakan perkuliahan ini juga dibarengi dengan peningkatan sarana dan prasarana.

“Menurut saya pengalihan 07.30 ini tidak lain karena membludaknya mahasiswa FKIP dengan sarana dan prasarana yang tidak memadai. Jadinya sah-sah saja, untuk menanggulangi semua permasalahan dengan jumlah mahasiswa FKIP yang kurang lebih 12 ribu sampai 13 ribu dengan bangunan yang tidak mencukupi, serta sarana-sarana lain yang tidak mendukung. Saya berharap tidak apa-apa kita masuk pukul 07.30 atau masuk pukul 07.00, yang pasti sarana dan prasarana ini ditingkatkan juga.” ujar mahasiswa yang pernah menjabat ketua DPM FKIP tahun 2016 ini.

Meski begitu, menurutnya kebijakan perkuliahan mulai pukul 07.30 ini juga berdampak pada aktivitas kelembagaan yang sedikit terganggu, “Karena kita masuknya dari 07.30 sampai sore hari, belum lagi dengan berlakunya jam malam otomatis aktivitas kelembagaan itu agak sedikit terganggu.”

Sementara itu menurut Hikmah, waktu perkuliahan dirasa masih terlalu cepat, “Kan tiap orang beda-beda, menurut saya cepat. Selain itu kadang mahasiswa sudah on time tapi dosennya yang lambat.” Tutur mahasiswi angkatan 2014 ini.

lanjutnya, kebijakan ini akan efektif jika semua pihak baik dosen, mahasiswa dan staf-staf lainnya konsisten dalam melaksanakan kebijakan ini.

Selain FKIP, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) juga mulai menerapkan perkuliahan mulai pukul 07.30 pada tahun ajaran baru ini. Saat ditemui di ruang Aula Fakultas, dekan FMIPA, Dr. Rusydi Ssi Msi, mengungkapkan  bahwa pihak fakultas merubah jam masuk pada hari Senin sampai Jumat, yang awalnya 08.00-16.00 WITA menjadi 07.30-17.00 WITA di karenakan jumlah ruangan yang tidak memadai, serta protes mahasiswa melalui BEM pada semester sebelumnya, akibat adanya mata kuliah yang masuk di hari Sabtu. “Pertama kenapa jam 07.30? Karena fakultas kita ini jumlah mahasiswanya sekarang lebih banyak. Kemudian ruangan itu tidak ada penambahan, sehingga kemarin di semester satu, kita kekurangan ruangan, akhirnya waktunya tidak cukup dan banyak dosen yang mengajar hari Sabtu. Padahal hari Sabtu itu, student day yang tidak bisa kita pakai, akibatnya, kemarin ada protes dari BEM dan mahasiswa,” ungkapnya.

Rusydi juga menuturkan bahwa jalan satu-satunya agar Student Day tidak digunakan untuk kegiatan perkuliahan adalah dengan menambah waktu perkuliahan pada hari Senin sampai dengan Jumat. “Sehingga jalan satu-satunya supaya kita tidak menggunakan hari Sabtu adalah dengan memperpanjang masa kuliah, karena kalau tidak, terpaksa kita pakai hari Sabtu. Supaya jangan pakai hari Sabtu, maka kita geser ke jam 07.30,” tuturnya.

Masih dalam kesempatan yang sama, ia juga menambahkan bahwa sampai saat ini belum ada protes, baik dari mahasiswa ataupun staf fakultas dengan adanya penambahan masa perkuliahan tersebut, dan bahkan staf yang juga menjadi IRT, mau tidak mau harus bisa menerima kebijakan tersebut dikarenakan kondisi fakultas yang memiliki mahasiswa yang semakin banyak dengan jumlah ruangan yang tidak mencukupi.

Bahkan menurutnya, dengan fakultas menerapkan sistem tersebut, dampaknya justru lebih baik. Bahkan dapat mengurangi kemacetan di pintu gerbang universitas.

“Saya lihat justru ada bagusnya, karena yang sebelumnya dipintu masuk itu numpuk, karena kita semua bersamaan masuknya jam 8. Nah sekarang dengan kita masuknya duluan, ternyata sudah tidak numpuk didepan, bahkan di universitas lain ada kuliah yang sampai jauh malam,” jelasnya.

Dosen Fisika itu juga mengatakan bahwa kebijakan tersebut sebelumnya telah mereka diskusikan dengan pihak BEM dan bahkan pihak BEM juga tidak mempermasalahkan kebijakan tersebut. “Kita sudah diskusikan dengan BEM, kalau kita akan begini, karena mereka yang protes kemarin, jangan pakai hari Sabtu, dan itu kami yang minta bagaimana kalau kita tambah waktu kuliah di hari Senin sampai Jumat dan mereka tidak ada masalah, yang penting hari Sabtu tidak diambil,” ungkapnya.

Rusydi juga menerangkan bahwa setiap semester, fakultas akan selalu melakukan eveluasi terhadap kebijakan tersebut, dan agar setiap program studi (prodi) yang ada dapat menerapkan masuk jam 07.30, karena semua prodi yang ada merupakan satu kesatuan. “Setiap semester akan kita lakukan evaluasi, apakah ini berjalan dengan baik atau tidak, dan akan jadi masalah kalau misalnya salah satu prodi ada yang tidak ikut masuk jam 7.30, karena kita kan satu kesatuan, karena  jadwal itu dibuat bersama, fakultas yang keluarkan karena yang menguasai ruang-ruang itu adalah fakultas. Bukan berarti misalnya, ruangannya ada di Biologi maka orang Biologi yang kuasai, tidak seperti itu, karena bisa saja orang Matematika kuliah di ruangan Biologi, kita satu kesatuan tidak bisa terpisah, walaupun jadwal dari bawah, tapi fakultas yang menentukan ruangannya,” jelasnya.

Dekan FMIPA tersebut berharap, dengan adanya kebijakan tersebut proses pembelajaran di FMIPA bisa semakin baik dan hari Sabtu yang merupakan Student Day tidak lagi digunakan untuk perkuliahan. “Harapan saya mudah-mudahan dengan ini pembelajaran bisa lebih bagus karena lebih cepat masuk, SD saja masuk jam 07.00, masa mahasiswa masuk jam 07.30 saja tidak bisa. Dan semoga dengan adanya ini tidak ada lagi pemakaian hari Sabtu, kalaupun ada mungkin hanya penggantian, sehingga pelaksanaan Student Day bisa berjalan dengan baik,” harapnya.

Ia juga berharap agar para pegawai bisa masuk lebih cepat dan memberikan pelayanan prima kepada mahasiswa. “Semoga pegawai-pegawai yang masuk itu lebih cepat, karena Pak Rektor juga menghimbau bahwa semua pegawai harus melakukan pelayanan prima, karena tuntutan pendidikan yang mengharuskan memberikan pelayanan dengan baik,” imbuhnya. Nr/Vv

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here