Belajar dari Budaya Jepang

Penyerahan Plakat ke pemateri perwakilan OAF di Indonesia " Dianni Risda, M.Ed Dengan Prof. Dr. H. Hanafie Sulaiman, MA mewakili Dekan FKIP (Foto : Akhmad Usmar/ Humas)
Penyerahan Plakat ke pemateri perwakilan OAF di Indonesia ” Dianni Risda, M.Ed Dengan Prof. Dr. H. Hanafie Sulaiman, MA mewakili Dekan FKIP (Foto : Akhmad Usmar/ Humas)

Pada senin (13/02) Untad kembali mengadakan kuliah umum One Asia Foundation (OAF), kuliah umum ke-8 ini akan terus dilaksanakan hingga mencapai 13 kali pertemuan. Kegiatan yang bertempat di Media Center Untad ini diikuti oleh 150 peserta, terdiri dari 100 perwakilan mahasiswa FKIP dan 50  mahasiswa diluar FKIP.

OAF merupakan sebuah Komunitas Asia Raya yang bergerak di bidang pendidikan dalam upaya pencerdasan kaum intelektual muda bangsa-bangsa di Asia. Setiap Negara anggota melaksanakan Kuliah Umum dan dihadiri oleh para mahasiswanya.  Kegiatan ini sudah diselenggarakan di 30 Negara dan 250 Universitas di kawasan Asia, termasuk di Indonesia.

Kegiatan yang mengusung tema “Work Culture to Strengthening Asia” ini menghadirkan Dianni Risda Med sebagai pembicara dalam kuliah umum tersebut. Sebagai orang yang pernah tinggal lama di Jepang maka pada kesempatan kali itu, dosen Bahasa Jepang UPI ini meyampaikan materi terkait budaya kerja Jepang yang patut untuk ditiru oleh mahasiswa, salah satunya adalah budaya kerja Jepang yang memiliki rasa malu cukup tinggi. Dimana orang-orang Jepang akan malu jika ketahuan berbuat kesalahan sehingga mereka enggan untuk berbuat kesalahan.

“Ada banyak budaya orang Jepang yang patut ditiru oleh kita, salah satunya adalah budaya malu yang mereka miliki, dimana mereka akan sangat merasa malu jika ketahuan melakukan kesalahan. Sehingga mereka enggan untuk melakukan kesalahan. Hal inilah yang saya rasa penting untuk kita terapkan. Selain itu budaya orang Jepang yang patut untuk di tiru adalah kebanggaan mereka terhadap budaya mereka, dan tidak malu untuk menunjukkan identitas mereka sebagai orang Jepang,” pungkasnya.

Dalam closing statement-nya dosen UPI ini mengajak mahasiswa yang hadir pada saat itu untuk dapat menghadapi perbedaan yang ada dengan cerdik sehingga menjadikannya sebagai sebuah kekuatan baru.

“Bila kita cerdik dalam menghadapi perbedaan maka perbedaan itulah yang akan menjadi sebuah kekuatan baru,” tutupnya. (Wrd)