Mahasiswa Farmasi Ciptakan Aplikasi Inkompabilitas Bahan Obat

3. Berita Farm - Vivi

Mahasiswa farmasi berhasil menciptakan sebuah aplikasi yang mampu menganalisis kemampuan ketidakcampuran bahan obat yang sangat berguna dalam bidang farmasetika. Aplikasi yang diberi nama EXC-Sol itu, mampu membuat mereka masuk dalam pemberitaan Farmasetika.com milik universitas Padjajaran. Apliaksi yang baru dirilis itu telah banyak mendapat pesanan dari mahasiswa lain.

Wadek bima FMIPA, Dr Rustan Effendi Ssi Msi, mengungkapkan bahwa ia sangat mengapresiasi karya mahasiswa farmasi tersebut, hanya saja sampai saat ini pihak fakultas belum memberikan bantuan apapun karena belum mendapat pemberitahuan dari mahasiswa yang bersangkutan, tetapi baru mengetahui hal tersebut dari mulut ke mulut serta ia juga menghimbau kepada mahasiswa jika terdapat kegiatan pengembangan kreativitas seperti itu, agar langsung dikordinasikan ke pihak fakultas.

“Sampai sekarang fakultas belum tahu secara resmi tentang aplikasi buatan anak farmasi ini, sebenarnya sebelumnya sudah perna dengar dari mulut ke mulut, tapi untuk pemberiatahuannya dari mereka sendiri belum ada, kita respon dengan positif, pasti kita akan dukung dengan sumber daya yang ada. Saya kira itu suatu kreativitas yang bagus, dan bisa terus dikembangkan, tapi karena belum ada pemberitahuan secara resmi, jadi fakultas juga belum melakukan apapun untuk membantu mereka, makanya saya sangat menghimbau kalau ada kegiatan-kegiatan pengembangan kreativitas seperti itu, bisa langsung dikordinasikan dengan fakultas, sehingga fakultas juga bisa berperan lebih aktif lagi,”ungkapnya.

Asmar, ketua BEM FMIPA mengungkapkan rasa bangganya kepada Kahar dan teman-temannya yang telah berhasil menciptakan sebuah aplikasi yang mampu merubah paradigma masyarakat tentang anak farmasi dan juga dapat membantu mahasiswa terutama farmasi dalam pelaksanaan praktikumnya.

“Yang pertama saya merasa bangga bahwa ternyata seorang mahasiswa mipa khususnya farmasi, coba mengubah paradigma yang ada di luar, bahwa farmasi itu tidak hanya menjual obat, dengan adanya yang seperti ini, bisa membuktikan bahwa farmasi juga mampu menciptakan hal-hal yang baru termasuk aplikasi. Hal ini sangat membantu teman-teman mahasiswa khususnya yang ada disemester 3,4, dan 5 bisa terbantu dengan menggunakan ini,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa pihak BEM sangat mengapresiasi karya dari EXCTeam tersebut, dengan berusaha membantu mereka menginformasikan kepada media yang dapat membantu mensosialisasikan EXC-Sol.

“Dari BEM sendiri sampai hari ini bentuk apresiasi secara fisik memang belum ada, tetapi apresiasi dalam bentuk lain kami berikan untuk mendorong mereka, dan kami membantu mereka untuk memperkenalkan apa yang menjadi karya mereka dengan menginformasikan karya mereka kepada media yang bisa membantu mereka, misalnya kami dari BEM sudah merekomendasikan liputan di Untad TV, juga di info Tadulako, kita juga coba lakukan, sehingga kedepan hal ini akan tetap didukung,” imbuhnya.

Mantan ketua Al-Ishlah itu juga berharap agar Kahar dan timnya bisa lebih meningkatkan kemampuan dan kualitas EXC-Sol lagi, serta ia juga berharap agar mahasiwa lain bisa menghargai dan memanfaatkan EXC-Sol dengan baik.

“Harapan saya bagi teman-teman yang melakukan langkah yang demikian betul-betul bisa lebih memperbaharui secara continu aplikasinya dengan referensi yang lengkap dan terpercaya. Dan untuk mahasiswa yang lain betul-betul bisa menggunakan dengan baik, karena ini murni karya dari mahasiwa dan hal ini juga akan membawa dampak besar bagi jurusan maupun fakultas terutama dalam bidang agreditasi,” harapnya.

Abdul Kahar selaku ketua EXCTeam, sekaligus pencetus ide pembuatan aplikasi EXC-Sol, ketika ditemui di Sekeretariat HIMAFAR, pada Senin (13/02) menjelaskan bahwa ide awal pembuatan aplikasi tersebut berasal dari keinginannya untuk membuat sebuah aplikasi yang mampu menganalisis inkompabilas bahan obat, tanpa harus membaca buku berkali-kali.

“Awalnya saya berniat bagaimana  caranya supaya saya tidak membaca bekali-kali data bahan obat. Saya berpikir bahwa komputer pasti bisa menganalisis bahan-bahan yang inkom, tinggal bagaimana kita masukkan datanya. Jadi mulai saat itu saya belajar cara membuat aplikasi di youtobe, semakin lama akhir saya dapat cara bagaimana aplikasi ini bisa menganalisis dan membaca data base mana yang inkom dan mana yang tidak,” jelasnya.

Kahar juga menambahkan, bahwa aplikasi buatannya untuk saat ini masih ditandai dengan 2 warna latar  dan sudah dilengkapi dengan beberapa fitur untuk memilih bahan obat sesuai perannya, tapi ia bersama timnya akan berusaha untuk lebih mengembangkannya lagi, dengan membuat level-level inkompabilitas pada aplikasi EXC-Sol tersebut.

“Untuk saat ini warna latar yang digunakan dalam aplikasi kami ada 2 yaitu hijau yang menandakan bahan yang dipengaruhi dan warna biru untuk bahan yang mempengaruhi. Tapi untuk kedepannya saya ingin membuat level inkompabilitasnya, saya mau bikin beberapa warna, yaitu untuk level yang pertama untuk bahan yang inkom tapi masih bisa ditoleransi, level kedua bahan yang inkom tapi masih bisa diakali dan level yang ketika yaitu bahan yang sama sekali tidak boleh dicampur. Di aplikasi ini, ada tempat untuk memilih bahan sesuai perannya seperti bahan penunjang pembuatan tablet, cara kerjanya adalah dengan memilih bahan yang akan kita gunakan, karena aplikasi ini, dilengkapi dengan kolom binder, ataupun diluen, intinya sesuai peran masing-masing bahan. Setelah semuanya telah kita pilih, kita klik tombol cek, setelah itu software akan analisis semua bahan yang kita pilih, dengan menampilkan warna latar, untuk mengetahui ada atau tidak bahan yang saling inkom. Inkom ini artinya ketidakcampuran, maksudnya tidak bisa tercampur baik secara kimia ataupun fisika,” imbuhnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa EXC-Sol memang baru dirilis tahun ini, namun aplikasi tersebut telah dibuat dan coba dikembangkan sejak 2015 silam, dan bahwa aplikasi ini sejak disosialisasikan telah banyak mahasiswa yang memesan untuk menginstalnya.

“Untuk pencetusnya saya sendiri dan pengembangan awalnya juga saya sendiri dan itu diawal tahun 2015, nanti diakhir 2015 saya mengajak teman-teman, yaitu Andi Fataudin, Yudha dan zubair. Andi dan Yudha membantu saya membuat data basenya dan Bair dibagian desain, seperti model backgraound dan lain sebagainya. Dan aplikasi ini dirilis tahun ini, dan tadi  kami sudah sosialisasi di 5 kelas untuk angkatan 2015, alhamdulillah banyak sekali yang pesan dan untuk itu, kami buka penginstalannya Senin (20/02) depan,” ungkap mahasiswa angkatan 2013 itu.

Selain itu Kahar juga berharap agar EXC-Sol bisa berguna untuk mahasiswa lain terutama mahasiswa farmasi dan juga bisa mendapatkan saran-saran yag membangun terutama dari ahli farmasetika.

“Harapan saya modal untuk fasilitasi bisa tercapai, teman-teman yang menggunakan EXC-sol ini bisa terbantu, saya juga berharap dari teman-teman atau ahli-ahli farmasetika bisa membantu dalam bentuk kritik dan saran, karena sebenarnya ini juga butuh pengembangan yang lebih jauh lagi,” harapnya. Vv

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here