Nur Soima Ulfa, Awalnya Coba-coba, akhirnya jadi kerja

ka uki

Menekuni dunia Jurnalisitik sejak duduk di bangku semester 3, memberikan banyak pengalaman pada wanita kelahiran 13 Mei 1986 ini. Terakhir ia menulis reportase tentang sosok Santoso yang sempat menghebohkan orang se-Indonesia. Kecintaannya pada dunia jurnalistik membuatnya betah hingga sekarang di kantor redaksi harian radar sulteng.

Nur Soima Ulfa, akrab disapa uki ini pertama kali jatuh cinta pada dunia jurnalistik saat ia dan teman-temannya aktif “mengotori” dinding mushollah MPM Al-Jihad. Ia dan dua orang rekannya saat itu membidani lahirnya majalah dinding mushallah.

“Yang urus madding ini hanya dua orang, saya dan sahabatku anak Komunikasi juga, yang bernama Eyn (satu kelas dan satu angkatan). Bahu membahu kami terbitkan Mading. Mulai dari pemilihan isi madding sampai dekorasinya. Uangnya masih pake uang pribadi. Awalnya kami dianggap hanya bikin kotor dinding teras mushala sama pengurus senior, tapi lama- lama kelamaan Mading kami diterima dan sudah masuk program muslaha secara resmi dan akan dibuatkan papan khusus jadi tidak perlu tempet di dinding musala,” terang gadis berkaca mata ini.

Menurutnya, hari bersejarah yang membuatnya hingga kini duduk di jajaran redaksi radar sulteng itu bermula di suatu sore, kala sedang asyik menyiapkan dekorasi tema madding yang baru, ia disodorkan undangan pelatihan Jurnalistik.

“Seingat saya, waktu itu hendak buat dekorasi untuk tema Madding terbaru, muncul teman saya pengurus MPM. Dia kalo tidak salah pengurus inti. Ada lembaran undangan di tangannya. Nah, undangan itu ternyata undangan pelatihan jurnalistik dasar. Saya pun diminta ikut pelatihan itu dengan harapan bisa meningaktakan kualitas isi Madding. Oh iya, yang ikut pelatihan ini hanya saya, karena hanya diminta satu orang per organisasi yang diundang,” tuturnya lancar.

“Singkat cerita, ternyata pemateri pelatihan ini hampir semuanya diisi oleh wartawan senior Radar Sulteng, meski penyelenggaranya bukan Radar Sulteng (saya lupa penyelenggaranya) Waktu itu masih tahun 2006 dan sy masih mahasiswa semester 3. Pelatihannya digelar di Mess Pemda Pos, Jalan Sam Ratulangi selama seminggu,” jelas Uki

Di akhir pelatihan itu, pemimpin redaksi Radar Sulteng mengumumkan kebutuhan tenaga wartawan oleh Radar Sulteng.  Ia berharap  dari pelatihan itu ada yang bisa magang di Radar Sulteng. “Karena itu dia meminta kami untuk mengikuti pelatihan tersebut dengan serius. Singkat cerita lagi, di akhir pelatihan saya terpilih dari 6 pesera yang mendapatkan kesemptan magang di Radar Sulteng. Maka hanya berselang dua tiga hari dari pelatihan, saya menginjakan kaki pertama saya di ruang redaksi Radar Sulteng sebagai anak magang,”

“Waktu hari pertama magang di Radar Sulteng, saya sudah punya ketetapan hati untuk menjadi karyawan organik (karyawan tetap). Karena dengan begitu, secara profesi sy akan diakui sebagai wartawan bukan anak magang yang menimba ilmu hanya untuk keperluan akademik semata. Meski begitu, awalnya, motivasi menjadi wartawan bukan karena kesadaran terhadap nilai-nilai idealis tertentu. Tapi hanya sebatas keinginan merasakan kerja-kerja jurnalistik yang sederhana; meliput, mewawancarai, menulis, dan melihat karya sendiri dibaca oleh orang banyak. Sebuah kepuasan dan kebanggan yang tak terbeli,”

Berawal dari keinginan sederhana yang hanya sekedar ingin merasakan sensasi wawancara, meliput, menulis dan dibaca banyak orang. Semakin lama gadis berhijab ini justru semakin menikmati kerja-kerja jurnalistik.

“Entah kekuatan apa, saya kemudian bisa bertahan selama tiga bulan. Masa magang terlah berarhir dan sejatinya saya harus kembali ke kampus. Oh iya, di masa akhir magang, hanya saya yang bertahan. Lima peserta magang lainnya “tumbang” pada minggu pertama magang. Satu persatu mengundurkan diri karena ternyata pola kerja di redaksi Radar Sulteng begitu keras. Kami, anak magang, meski harus bolak-balik kampus untuk kuliah, tapi diberikan tanggung wajab yang sama besarnya dengan wartawan tetap,”

Di penghujung masa magang, Uki ditawari untuk memperpanjang masa magang, kali ini statusnya bukan lagi sebagai peserta pelatihan, tapi sebagai calon reporter. Tiga bulan berselang, status calon reporter berganti menjadi wartawan tetap.

“Amboi, saya menjadi wartawan,” celetuknya mengulas kembali kisah awal ia menjadi wartawan.

Menjadi mahasiswa sekaligus wartawan muda di perusahaan sebesar Radar Sulteng tidak mudah. Di satu sisi Mahasiswa Komunikasi angkatan ke-2 ini dituntut memenuhi tugas dan kewajiban sebagai wartawan, di sis lain, urusan kampus juga tidak boleh terbengkalai. Ia mengaku bersyukur, dosen-dosennya mendukung penuh. Bila terlambat sedikit ia diberikan dispensasi asalkan karena liputan.

“Tapi sy juga tidak boleh memanfaatkan kebaikan hati dosen, jadi intinya, pintar-pintar bagi waktu. Kuliah dan pekerjaan sama kadar pentingnya, karena itu saya menyelesaikan semua mata kuliah tepat waktu (tidak ada error atau mengulang atau remedial mata kuliah). Begitu juga masa KKN, tapi terkendala saat masuk pada penyusunan proposal. Butuh waktu dua tahun untuk maju ke tahapan skripsi. Bukan karena saya tidak mampu, tapi urusan admistrasi di bagian BAAK Fakultas yang berbelit membuat saya muak dan merasa banyak waktu terbuang.”

“Di sisi lain saat itu, karir saya sebagai wartawan memasuki masa puncak. Ada begitu banyak pekerjaan penting dan jurnalistik bukan hanya sekadar aktivitas remeh temeh. Ukurannya tidak lagi sebatas mampu menyelesaikan tugas liputan tepat waktu tapi juga bagaimana berita yang saya tulis berdampak luas. Tugas mengawal liputan sekaligus isu membutuhkan saya harus lebih banyak di Graha Pena ketimbang di kampus. Sungguh tidak mudah, mengingat saya termasuk salah satu wartawan dengan usia muda dan masih berstatus mahasiswa. Oh iya, kala itu saya satu-satunya wartawan yang memiliki latar belakang akademik yang selaras dengan bidang jurnalistik. Rekan-rekan wartawan yang lain adalah sarjana ekonomi, pertanian, teknik, bahkan ada yang hanya tamatan SMA, tapi betul-betul hebat dalam bidang jurnalstik. Ini juga memotivasi saya untuk bekerja lebih baik dari mereka. Jangan sampai muncul kalimat, anak komunikasi masa kerjanya begini ?” tuturnya.

Soal suka duka menjadi jurnalis, Uki mengaku sudah tidak menghitung lagi. Baginya terlalu banyak suka dan duka menjadi seorang wartawan, tapi menurutnya sebagai wartawan ia merasa memiliki tempat luas di masyarakat, memiliki hak istimewa untuk bisa masuk kemana-mana tanpa ada yang menghalangi. Hak istimewa yang hanya dimiliki oleh wartawan.

“Ini  juga yang mendasari mengapa ada Kode Etik Jurnalistik dan perlunya kesadaran penuh si wartawan bahwa ada kekuatan besar digenggamannya, tinggal mau di bawa kemana aja: ke jalan yang benar atau ke jalan salah,”

“Misalnya, contoh kecil nih. Kalo kita yang bukan wartawan, masuk ke seminar harus bayar kan? Kalo wartawan tidak perlu. Bermodalkan kata liputan, kita dikasih masuk gratis dan makan kue pula. Pulang tinggal buat berita dan besoknya kita  dapat ucapan terima kasih dari panitia yang senang kegiatannya muncul di Koran.”

Bicara soal duka menjadi reporter, Uki yang telah sepuluh tahun lebih menjadi wartawan ini mengaku tidak mendapatkan banyak masalah selama menyampaikan berita ke masyarakat, kecuali pada saat ia pernah salah menulis berita yang merugikan narasumbernya.

“Rasanya kayak cemen sekali dan tidak berguna, karena kurang hati-hati dalam mengintrepretasikan informasi. Tapi kalo sampai beritaku berkasus dan bermasalah, alhamdullilah tidak pernah. Lebih banyak sukanya sih, karena menjadi wartawan itu setiap hari adalah hari yang betul-betul berbeda. Ketika kamu menjadi wartawan, kamu akan bertemu dengan orang yang berde dengan dunia mereka juga. Misalnya,, hari ini kamu akan membuat profil seorang atlet, besok kamu akan bertemu professor yang sukses meneliti tumbuhan, besoknya lagi kamu diminta ke pasar buat bertemu dengan pedagang yang terancam digusur, atau diminta wawancara dokter tentang penyakit tertentu. Jadi kita semakian kaya wawasan dan inilah yang memperkaya kita sebagai seorang manusia.  Kamu akan sadar kalau hanya sangat sedikit waktu untuk memahami dunia ini,” tutup Uki.

Kepada mahasiswa yang ingin meniti karir di dunia jurnalistik, alumni komunikasi angkatang 2004 ini berpesan Jangan malas. Jangan malas liputan, jangan masal berpikir, jalan malas menulis yang baik dan berkualitas, jangan malas menerapkan kode etik dalam setiap menjalankan tugas, jangan malas belajar dari yang lebih tahu meskipun dia lebih muda darimu, dan jangan malas untuk tetap rendah hati. (af/ash)

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here