Generasi TIK

Muliati-Supandi-photo.-jpg
Muliati Supandi, S.Pd (Guru SMA Negeri 1 Luwuk Timur dan Pendiri Rumah Baca Inspirasi)

Ujian nasional berbasis komputer (UNBK) semakin ramai diperbincangkan di dunia pendidikan. Pelaksanaannya sudah tinggal menghitung hari. UNBK yang beberapa kali dalam masa percobaan dinilai positif sehingga terus didukung pelaksanaannya. Pelaksanaan UNBK tersebut menjadi tanda bahwa pendidikan di Indonesia mulai bergerak ke arah modernisasi teknologi dalam rangka memenuhi tantangan globalisasi.

Pelaksanaan UNBK merupakan langkah perubahan yang tepat bagi bangsa Indonesia dalam mempersiapkan generasi bangsa menuju generasi emas di tahun 2045 mendatang. Pemanfaatan serta penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) oleh sektor pendidikan memang menjadi faktor pendukung dalam menciptakan generasi bangsa yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan sebagaimana yang disebutkan dalam Undang-undang.

Namun, sangat disayangkan ketika pelaksanaan UNBK tidak dilaksanakan secara menyeluruh oleh semua sekolah. Mengingat bahwa tidak semua sekolah memiliki komputer dan jaringan untuk mendukung pelaksanaan ujian tersebut.

Kondisi geografis Indonesia yang sangat luas, terbentang dari sabang sampai merauke membuat akses dan fasilitas pendidikan yang layak belum sepenuhnya dirasakan oleh mereka yang tinggal di daerah terluar, terdepan dan tertinggal (3T). Hal ini didukung dengan hasil temuan PBB UNICEF (2015), yang menyebutkan hampir setengah dari anggaran pendidikan di negara-negara berpenghasilan rendah, termasuk Indonesia hanya dinikmati sekitar 10% penduduknya. Akhirnya, munculah ketimpangan, antara mereka yang berada di desa dengan kota, antara mereka yang berada di wilyah Indonesia barat dengan wilayah Indonesia timur.

Ketidakadilan dalam pemerataan kesempatan menikmati akses pendidikan membuat persaingan di perkotaan dan desa terlihat kontras. Keberadaan teknologi informasi yang dibawa oleh arus globalisasi telah membawa pengaruh yang besar, termasuk memicu ketatnya persaingan di tingkat global sampai di tingkat lokal.

Dunia pendidikan adalah wujud sederhana dari persaingan tersebut. Dimana setiap siswa akan berlomba-lomba untuk mendapat nilai tertinggi, bersaing dalam kreatifitas dan inovasi masing-masing. Tentu saja persaingan tersebut berdampak positif bagi para siswa itu sendiri maupun bagi dunia pendidikan. Tapi, persaingan tersebut hanya memiliki hasil yang maksimal di kota-kota besar di Indonesia.

Ini merupakan masalah yang serius. Taruhannnya adalah masa depan bangsa. Angan-angan bahwa bangsa ini akan menjadi bangsa yang gemilang di tahun 2045 hanya menjadi mimpi belaka jika kondisi pendidikan di Indonesia masih belum memperoleh akses pendidikan yang merata melalui kelengkapan sarana dan prasarana. Masa depan bangsa akan dapat diwujudkan oleh segenap generasi penerus bangsa yang secara merata terdidik dan memiliki sumberdaya dengan kualitas sama dari sabang sampai merauke, dari pusat hingga ke daerah yang terpencil sekalipun.

Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, UNESCO (2015) menyarankan untuk negara-negara miskin dan berkembang termasuk Indonesia agar investasi dalam pendidikan tidak hanya berorientasi di wilayah perkotaan saja, tetapi didistribusikan secara lebih merata. Dengan kata lain, semua anak didik harus mendapat kemudahan akses, termasuk yang paling mungkin tertinggal (edukasi.kompas.com).

Hal ini sejalan dengan yang diamanatkan dalam UU Nomor 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional. Disebutkan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Untuk memenuhi hak warga negara, pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib memberi layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.

Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK atau ICT) jika dioptimalkan akan mampu memecahkan permasalahan yang meliputi akses, kualitas dan kesenjangan daerah. Ini yang diungkapkan oleh Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, pada acara Apkomindo Summit 2010 di Hotel Shangri-la Jakarta (teknologi.news.viva.co.id).

Penerapan TIK dalam pendidikan yang menyeluruh untuk semua tingkatan baik SD, SLTP maupun SLTA memang wajib diberikan. Hal ini akan semakin memperluas keterjangkauan pendidikan, sekaligus penguatan tata kelola kebutuhan akan penguasaan dan penerapan IPTEK dalam rangka menghadapi tuntutan global.

Semua itu semakin kuat memberi alasan mengapa pemuda yang merupakan generasi penerus senantiasa dituntut untuk menguasai TIK agar tidak tertindas oleh zaman bahkan oleh bangsa-bangsa lain di masa mendatang. Sesuatu yang tidak bisa dihindari bahwa sebuah bangsa yang mampu menguasai TIK, pasti akan memiliki kesempatan yang besar untuk dapat menguasai dunia.

Penerapan TIK  di dalam pendidikan bukanlah semata-mata hanya mengikuti trend global saja, melainkan merupakan suatu langkah strategis sebagai upaya meningkatkan akses dan mutu layanan kepada masyarakat.

Semakin meningkatnya aplikasi TIK dan internet dalam bidang pendidikan secara langsung atau tidak langsung akan meningkatkan kecepatan untuk berbagi informasi dan pengetahuan. Hal ini yang akan menghilangkan batas antar wilayah, dan penghematan waktu untuk melakukan komunikasi dan mengakses informasi yang semakin cepat, tepat dan berkualitas.

Oleh karena itu, pemerintah seyogyanya membangun investasi dalam bidang TIK di seluruh Indonesia dengan menyediakan tenaga listrik dan jaringan sampai ke pelosok-pelosok desa. Untuk mewujudkannya, pemerintah daerah dan pemerintah pusat harus saling harus saling bersinergi. Akhirnya, mewujudkan akses yang meluas, merata, dan berkeadilan adalah dengan mengoptimalkan peran TIK di sektor pendidikan.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here