Wisuda 86 : Prof Basir, Hidup adalah Sebuah Antrian

Rektor Untad Prof. Basir saat menyampaikan pesan Almamater (FOTO : Akhmad Usmar / Humas)
Rektor Untad Prof. Basir saat menyampaikan pesan Almamater (FOTO : Akhmad Usmar / Humas)

Sebanyak 1083 mahasiswa Universitas Tadulako (Untad) resmi merubah status mahasiswa mereka menjadi status alumni, pada wisuda 86 Rabu (3/03) bertempat di Auditorium Untad.

Rektor Untad, Prof  Dr Ir Muhammad Basir SE MS menyampaikan harapannya kepada alumni Untad yang diwisuda hari itu agar tetap menjaga nama baik almamater dan terus berkarya. “Pesan saya kepada para alumni yang telah diwisuda hari ini agar tetap menjaga nama baik almamater serta jangan pernah berhenti untuk terus berkarya dalam menanti waktu antrian kita berakhir. Karena sesungguhnya kita yang ada di dunia ini khususnya kita yang berada di ruangan ini adalah orang-orang yang sedang menunggu antrian. Saat kita masih bayi, kita mengantri untuk dapat masuk disekolah dasar, lulus sekolah dasar, kita kembali mengantri untuk masuk SMP, dan begitu seterunya hingga pada akhirnya kita akan mengantri untuk menghadap Sang penggenggam nyawa. Begitulah hidup, maka dari itu selagi kita masih memiliki waktu untuk mengantri maka kita perlu menggunakannya dengan bijak dan mengisinya dengan karya-karya terbaik kita,” tutur Prof Basir saat memberikan pesan-pesan almamater.

Gubernur Sulteng Drs H Longki L Djanggola Msi, yang pada saat itu di wakili oleh staf ahlinya menyampaikan bahwa Untad merupakan salah satu Universitas yang kwalitas lulusannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Sehingga diharapkan alumni-alumni Untad dapat lebih percaya diri dalam berkarya sehingga dapat mengharumkan nama almamater.

“sebagai alumni sebuah Universitas sudah sepantasnya kita untuk terus mengharumkan nama almamater, terlebih alumni Untad yang merupakan salah satu universitas yang sudah tidak perlu diragukan lagi kwalitas lulusannya. Sehingga kita tidak perlu merasa minder apalagi berkecil hati, malah kita harus berbangga diri, dan terus mengembangkan diri untuk dapat berarti bukan hanya bagi almamater tapi juga untuk negeri,” tutupnya. (Wrd)