Bedah Buku Filantropi Apresiasi Karya Sastra Anak Untad

Selasa (28/03), mahasiswa Universitas Tadulako yang tergabung dalam Notessa Bookstore gelar Bedah Buku Filantropi–Hukum 8 (Suatu Waktu), sebuah novel Karya Tari Akbar, Mahasiswa Universitas Tadulako, program studi PPKn FKIP. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Auditorium Untad.

Bedah buku ini dihadiri oleh Ketua dan Wakil Ketua BEM FKIP, Ketua HMJ P.IPS FKIP, Ketua DPM FKIP, dan para mahasiswa Untad, kurang lebih 100 orang. Saat bedah buku dimulai, peserta dan undangan yang hadir dikejutkan dengan penampilan Tari Akbar yang membawakan puisi karya W.S Rendra dan berhasil memukau seisi gedung auditorium.

Tari Akbar bukan mahasiswa Untad pertama yang berhasil menerbitkan buku, tapi selama ini belum ada perhatian atau apresiasi khusus atas karya-karya tersebut. Hal inilah yang mendasari terselenggaranya Bedah Buku kali ini. Seperti yang diungkap Mahfudz Mahdang, Direktur Notessa Bookstore dalam sambutannya sebelum membuka kegiatan.

“Bedah Buku ini murni bentuk apresiasi kami terhadap karya mahasiswa Universitas Tadulako. Makin banyak pula yang mengetahui bahwa kita juga punya penulis-penulis luar biasa di kampus ini, dan bisa memacu semangat mahasiswa Universitas Tadulako lainnya untuk tetap  berkarya,” ungkap Ketua BEM FKIP terpilih ini.

Filantropi-Hukum 8 (suatu waktu) adalah novel perdana karya Tari Akbar atau nama penanya Si-Fatra yang terbit pada agustus 2016 kemain. Tari menjelaskan latar belakang ide penulisan Novel Filantropi awalnya ia temukan lewat artikel.

“Saya menemukan istilah itu di artikel. Saya mencari maknanya secara akar kata. Menurut saya. Filantropi adalah kata yang universal dan saya suka mendengarnya. Kalau ide secara keseleruhan, saya memang berniat menulis sesuatu yang berbau fenomena sosial. Buku ini sebenarnya mengambil beberapa tema, Cinta, Hukum, Politik, Sosial, Perjuangan, Persahabatan, Waktu, dan Kematian,”

Lebih lanjut, Tari Akbar mengungkapkan alasannya menulis buku ini, untuk berbagi kisah dengan banyak orang. Tari juga menyebutkan telah berjanji pada salah seorang teman akan lebih dulu merampungkan buku karangannya dari pada skripsi.

“Saya ingin berbagi kisah dengan orang lain. Dan saya sudah berjanji dengan seorang teman bernama Darmanto bahwa saya akan lebih dulu menulis buku daripada menyelesikan skripsi. Tapi, perbuatan ini bisa saja alah, tapi menunda skripsi bukan berarti meninggalkannya. Kegiatan ini salah satu motivasi besar saya untuk tetap menulis,” ungkapnya.

Selain itu, Ketua panitia, Hikmawati Tadjuddin mengungkapkan harapannya agar lewat kegiatan ini makin banyak karya mahasiswa Untad, khususnya karya sastra yang mendapat apresiasi. Dan makin banyak yang mengetahui, bukan hanya penulis luar saja yang bisa diundang menjadi narasumber.

“Kami berharap semoga lewat kegiatan ini makin banyak karya mahasiswa Untad yang mendapat apresiasi. Dan makin banyak yang tahu, bukan hanya penulis luar yang bisa diundang menjadi narasumber, tapi, Untad juga punya penulis-penulis hebat,” ungkapnya.ndh

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here