Berjibaku MelawanKemiskinan, Di Tengah Laut yang Kaya.

 

Indonesia merupakan negera kepulauan dengan bentangan laut yang sangat luas, dari ujung Sabang hingga pelosok Merauke sana, kita memiliki laut yang sangat kaya dengan segala isinya. Sayang, situasi ini tidak berbanding lurus dengan kondisi nelayan Indonesia. Nelayan kita masih berjibaku melawan ancaman kemiskinan, apa masalahnya ? Momen Hari Nelayan 6 April Media Tadulako menyajikan pandangan salah satu guru besar Universitas Tadulako terkait masalah ini.

Prof. Ir. BurhanudinSundu MSc, Ag,Ph.D

Di lain kesempatan, Prof BurhanuddinSundumengatakan, bahwarealitanya, 2/3 % areal Indonesia adalah laut yang merupakan areal bagi nelayan. Sementara sebagian besar kondisi nelayan kita saat ini cukup memprihatinkan.

Ada ketimpangan dalam hal ini, sebab Luas laut kita cuku pbesar, dengan garis pantai yang panjang bahakan terpanjang kedua di dunia. Tetapi orang-orang yang bergerak disektor nelayan hanya sedikit, sekitar 2,17 juta jiwa dari jumlah sekitar 257 juta 900-an jiwa total penduduk Indonesia.

Dibandingkan dengan sektor Pertanian. Dengan luas areal daratan kita yang hanya 1/3 dari total wilayah keseluruhan indonesia, itu pun tidak semua bias dimanfaatkan untuk lahan bercocoktanam. Sebab syarat-syarat tertentu yang tidak terpenuhi pada daerah tersebut, sehingga sulit utuk tanaman tumbuh. Namun jumlah petani kita mencapai 30 juta-an jiwa. Terjadi selisih yang sangat menonjol dalam hal ini, yang itu tidak sesuai dengan lahan garap yang tersedia.

Dekan FAPETKAN ini memamparkan, ketika rezim naik dengan mengangkat “Poros Maritim” sebagai isu utamanya. Tentunya terbayang oleh kita ujungnya adalah terjadi peningkatan pada ksejahteraan para nelayan.

Tapi faktannya berbeda. Tidak terjadi seperti apa yang kita bayangkan tadi. Sebab seperti yang disaksikan saat ini, tingkat kesejahteraan nelayan masih sangat rendah dan bahkan ada masuk dalam kategori hidup dibawah garis kemiskinan. Pendapatan yang tidak pasti, sementara beban hidup kian bertambah belum lagi ketidakjelasan akan jaminan kesehatan bagi mereka. Sungguh memprihatinkan.

“Menurut saya, kebiajakan yang dicanangkan oleh pemerintah saat ini belum menyentuh sampai pada akar kebutuhan nelayan yang sebenarnya.

Pemerintah dengan kebijakannya itu sebagian besar hanya berbicara pada level makro, sementara di level mikro masih sangat kurang, padahal di level mikro ini yang harus diakomodir dan harus lebih diprioritaskan,” tuturnya.

Misalnya saja masalah akses. Nelayan seakan kian kecil ruang gerakn akbibat adanya privatisasi wilayah pesisir dengan berbagai macam tujuan. Ada yang yang dijadikan tempat tuwisata, dibangunkan hotel, dan kepentingan-kepentingan yang lebih besar manfatnya hanya dirasakan oleh tataran atas semata, pihak-pihak besar yang melaksanakannya. Sementara nelayan semakin terbatsi dalam aktivitas utama dalam mencari penghidupannya.

Juga adanya kegiatan reklamasi, pengerukan pantai dan sebagainya yang berpotensi merusak ekosistem laut. Kemudian hal ini membuat daerah penangkapan ikan semain jauh karena ikan telah bermigrasi menacari habitat yang masih terjaga dan menujang kebutuhan hidupnya. Ini perbedaan antara ikan dengan ternak.

Jika ternak, misalnya terdapat 300 ekor, maka jumnlah real-nya adalah 300 ekor ternak tersebut. Lain halnya dengan ikan, yang sulit untuk diprediksi jumlah pastinya.  Hari ini banyak, belum tentu besok masih akan sama banyaknya dengan hari pertama. Terlebih jikal ingkungannya sudah rusak.

“Harus juga kita akui, walaupun wilayah kita besar, tetapi populasi penduduk kita pun kian hari kian meningkat dan itu terjadi secara drastis tanpa butuh waktu yang lama.

“Berkenaan dengan hal ini, saya melihat dua hal yang saling mengait dan ironis,” terang guru besar Fapetkan ini.

Prof Burhan menambahkan, ketika jumlah populasi nelayan meningkat, kita berharap bahwa suplai ikan pun akan semakin meningkat, dan kebutuhan akan ikan laut pun perlahan-lahan akan menurun.

Namun Saya melihat yang terjadi saat ini adalah sebaliknya. Logikanya, ikan yang dibudidayakan ini membutuhkan tepung ikan sebagai bahan pakannya. Sementara tepung ikan berbahan dasar ikan laut. Artinya, dalam hal ini kebutuhan ikan laut tetap terus meningkat.

Hal ini juga berdampak pada kondisi ikan diwilayah-wilayah pesisir kita yang semakin lama berkurang atau bahkan akan habis. Sedang kita ketahui wilayah pesisir adalah wilayah para nelayan tradisional, yang perahunya hanya sebatas menggunakan perahu dayung, sehingga akan kesusahan mencari daerah penangkapan yang beradapadawilayahlautjauh.

Olehnyaituperlu, perlu dicarikan solusi berupa kebijakan, tentang pembagian spot bagi nelayan. Di buat kebijakan zonasi daerah penangkapan ikan yang jelas mengenai batasan-batasannya dan bagaiamana upaya yang dilakukan agar daerah-daerah khusus tersebut bisa terjaga sehingga bisa suistainable.

Adapula kebijakan terhadap aktivitas penambangan yang seringkali membuang limbahnya kelaut. Ini tentunya bukanlah sesuatu yang baik untuk laut kirta. Olehnya itu Saya kira ini perlu ditegaskan. Dan yang tak kalah pentingnya, upaya untuk meningkatkan kualitas SDM nelayan kita, agar mereka bisa menyesuaikan diri dengan dinamisnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta drastisnya perubahan lingkungan.

“Moment hari nelayan ini saya kira menjadi ajang evaluasi. Evaluasi tentang langkah-langkah yang telah dilakukan selama ini sudah tepat sasaran atau masih jauh dari harapan,” tutupnya.