Dr Harifuddin Thahir SH MP, Jalani Lika Liku Kehidupan, Bulatkan Tekad Untuk Memberi Manfaat Kepada Sesama

Pria kelahiran Palandro, 11 september 1960 ini baru saja dilantik menjadi Dekan Fakultas Ekonomi (Fekon) periode 2017-2021. Kebiasaan kecilnya yang selalu mengikuti orang tuanya mencari nafkah, mendorongnya menggeluti bidang ekonomi. Hal ini pula yang mengantarkannya menjejakkan kaki di kota Palu, dengan mangawali kariernya di PT. Bosowa Berlian Motor Palu hingga akhirnya menjadi dosen di Universitas Tadulako. Dengan sikap ramahnya, Baharuddin, sapaan akrabnya, berkisah tentang perjalanan hidupnya hingga menjadi salah satu dekan di kampus Tadulako ini. Kurang lebih 30 tahun yang lalu, Harifuddin menginjakkan kaki di Untad, setelah beralih dari pekerjaannya sebagai direktur cabang dari di PT. Bosowa Berlian Motor Palu.

Harifuddin yang merupakan anak ke-3 dari 12 bersaudara itu, harus berusaha untuk mencari biaya tambahan untuk membantu meringankan beban kedua orang tuanya yang harus menyekolakan mereka. Hingga saat kuliah ia banyak melakukan beberapa usaha, dari menjadi seorang penjual emas, membantu orang tua bertani dan beberapa upaya lain yang dapat membantu biaya pendidikannya. Hingga akhirnya, penderitaannya benar-benar berkurang saat diangkat menjadi direktur cabang di PT. Bosowa Berlian Motor.

“Saya 12 bersaudara dan saya anak ke-3, alhamdulillah semua sudah selesai kuliah. Waktu sekolah dengan banyaknya kami, maka kami disamping itu juga kerja, saya perna ikut menjual emas dengan teman-teman. Dan yang paling banyak memberikan hasil bagi saya untuk membantu membayar sekolah yaitu saya pelatih bela diri kempo dan juga saya sebagai asisten dosen di sekolah tinggi perpajakan. Dan saya juga kerja di PT. Bosowa Berlian Motor  mulai dari karyawan biasa, menjadi kepala perencanaan keuwangan sampai menjadi direktur cabang.Tapi, alhamdulillah pada saat bekerja di Bosowa penderitaan sudah mulai berakhir karena pendapatannya lumayan apalagi sampai diangkat menjadi direktur cabang,” tutur Baharuddin mengawali kisahnya.

Kesibukan mencari biaya tambahan untuk membiayai kuliahnya, tak lantas membuat Harifuddin menjadi mahasiswa kuker (kuliah kerja). Selain bekerja, saat kuliah Harifuddin juga sangat aktif dilembaga kemahasiswaan internal maupun eksternal kampus. Bahkan perna mengemban amanah sebagai pemimpin dibeberapa organisasinya.

“Saat kuliah alhamdulillah saya sangat aktif, saya perna bergabung di senat dan dipercayakan menjadi ketua departemen, saya juga bergabung di DPM (dewan perwakilan mahasiswa). Dan untuk kegiatan luar kampus saya ketua komisariat pergerakan mahasiswa Islam Indonesia di UNHAS dan ini sampai saya selesai kuliah. Begitu juga saya sebagai ketua PERKEMI (persaudaraan bela diri kempo) kebetulan saya dipercayakan oleh untuk membuka perkemi di Sulawesi Tengah dan sampai sekarang di PERKEMI saya menjadi penasehat,” ungkap Harifuddin.

Berniat untuk mengabdikan diri dan menjadi lebih bermanfaat untuk orang lain, setelah lulus kuliah, meskipun telah mengemban jabatan sebagai direktur cabang yang memiliki gaji yang dapat dikatakan cukup besar, Harifuddin memilih untuk mengabdikan dirinya sebagi dosen di Universitas tadulako pada 1987 dan meninggalkan jabatan direktur ditempatnya bekerja saat itu. Namun, gaji pegawai negeri yang terbilang cukup rendah itu, membuatnya benar-benar harus menyesuaikan diri demi tekadnya yang ingin memberikan manfaat besar bagi banyak orang.

“Setelah itu kehidupan saya pada saat pindah dari PT. Bosowa beralih penuh ke dosen, saya harus menyesuaikan, karena saat di PT. Bosowa alhamdulillah dari segi finansial sangat baik. Tapi saat menjadi dosen, harus menerimah gaji sebagai pagawai negeri Rp. 64.500 yang tadinya ratusan bahkan jutaan rupiah saat di PT. Bosowa, tapi harus menyesuaikan,” lanjut pria yang perna 6 kali pindah sekolah itu.

Namun, karena telah terbiasa bekerja saat di bangku perkuliahan, membuat jiwa wirausaha telah melekat pada dirinya. Tidaknya hanya menjadi seorang dosen, Harifuddin juga mendirikan beberapa usaha untuk mendapatkan penghasilan tambahan dan mengasah jiwa wirausaha yang dimilikinya.

“Namun demikian, karena darah pengusaha telah melekat pada saya, saya mendirikan usaha mulai dari tokoh kelontongan di jalan Imam Bonjol, ada percetakan, juga penjalan baju-baju kaos, usaha-usaha yang lain seperti beternak yang lama saya geluti mulai dari 2000 sampai 2009. Selain juga usaha peternakan ayam dan ada usaha tromol juga,” tuturnya.

Dengan penghasilan yang diperoleh dari usaha-usahanya, tak membutnya lengah akan tanggung jawab yang telah diembannya sebagai seorang tenaga pengajar. Dan keaktivannya selama kuliah tak hilang begitu saja saat menjadi seorang dosen. Tapi, justru membuatnya semakin menjadi orang yang proaktif, dengan berbekal sebuah hadist “orang yang baik itu adalah orang yang bermanfaat bagi sesamanya”, membuat Harifuddin selalu berusaha mengambil peran agar dapat memberikan menfaat yang lebih besar lagi bagi orang-orang disekitarnya. Dengan kemampuan dan keahlian yang dimilikinya, Harifuddin berusaha memberikan yang terbaik kepada orang lain. Hingga hal itu pula yang mendorong dan memotivasinya untuk menjadi seorang Dekan, seperti yang telah ia capai saat ini.

“Nah, dibidang dosen saya pertama perna menjadi Sekretaris Jurusan di Majanagement saat masih bergabung dengan Akuntansi. Selain itu, saya juga  perna jadi ketua Jurusan, lalu ketua prodi D-3 marketing, ketua Centra bisnis, direktur Pusat Pengembangan Usaha dan baru-baru ini terpilih menjadi Dekan Fakultas Ekonomi yang sekitar satu bulan yang lalu dilantik bersamaan dengan Dekan Hukum dan Dekan FISIP. Nah, motivasi saya menjadi dekan karena ada hadist yang mengatakan “orang yang baik itu adalah orang yang bermanfaat bagi sesamanya”. Jadi, saya rasa agar saya bisa memberikan manfaat yang lebih baik dari sebelumnya, maka saya berniat menjadi Dekan. Meskipun  juga sebenarnya lain, sejak 15 tahun lalu sampai saat ini saya juga menjadi ketua komite di MAN 2 Model Palu yang juga memberikan manfaat. Tapi, saya rasa saya harus memberikan manfaat yang lebih lagi. Dan insya Allah 2 bulan yang akan datang bukan saya lagi, karena saya takut kalau misalnya nanti dipanggil untuk pertemuan, sementara saya juga harus ada di sini,” ucapnya dengan ramah.

Pria yang terlahir dari keluarga ulama itu, mengatakan bahwa apa yang dilakukannya saat ini, terinspirasi dari kakek dan kedua orang tuanya yang selalu berusaha mendakwakan dan berusaha menebarkan kebaikan kepada orang lain. Meskipun dengan hal itu, ia harus 6 kali berpindah sekolah untukmengikuti kedua orang tuanya yang menyebarkan dakwah Islam ke Desa-desa yang berbeda.

“Orang tua saya adalah pegawai departemen agama di Kodya Pare Pare dan kakek saya salah satu pendiri pesantren. Jadi saya dibesarkan dengan didikan agama. Jadi waktu saya di Soni, Dampal Selatan bersama orang tua mendirikan DDI, banyak SD yang saya tempati, di mana orang tua saya mendirikan DDI di situ saya ikut, kurang lebih 6 SD yang saya tempati sekolah. Walaupun sebenarnya pendidikan agama saya sangat terbatas berbeda dengan saudara-saudara saya, bahkan kakak saya ada yang hakim agama,” ungkap ayah dari salah satu dosen Teknik itu.

Dinamika perjalanan hidup yang selama ini dilaluinya membuat Harifuddin benar-benar sangat bersyukur, karena apa yang dicita-citakannya sejak kecil akhirnya dapat tercapai dengan menjadi seorang dosen sesuai dengan keilmuan yang diinginkannya, keilmuan ekonomi pertanian yang dimulai sejak kedua orang tuanya harus berjuang untuk menjadikan Harifuddin dan 11 saudaranya bisa mengeyam pendidikan yang baik.

“Saya memang bercita-cita dibidang ekonomi, karena melihat orang tua saya yang menggeluti ekonomi untuk bisa menyekolakan anak-anaknya. Namun, pada dasarnya bidang ekonomi yang saya inginkan benar-benar tercapai yaitu ekonomi di bidang pertanian, karena saya mengambil S-2 dan S-3 itu ekonomi pertanian karena dari kecil saya memang mau, karena selain sebagai pegawai negeri, orang tua saya juga selalu mengajak saya untuk bertani, sehingga saya mau menggeluti ekonomi yang ada dibidang pertanian,” ujarnya penuh syukur.

Lebih lanjut, ia juga sangat bersyukur, karena bukan ia saja yang berhasil menggapai keinginannya. Yang lebih membanggakannya lagi, 2 dari ke-3 anaknya, telah berhasil menjadi dosen Teknik dan dosen Ekonomi. Sedang putra bungsunya, sebentar lagi juga akan segera lulus dari Jurusan Teknik Sipil. Tak hanya untuknya dan keluarga, Dekan yang baru dilantik 1 bulan yang lalu itu, juga sangat menyimpan harapan besar akan kebaikan fakultas Ekonomi yang tengah di pimpinya itu. Salah satu harapannya adalah agar fakultas Ekonomi dapat segera mendirikan Jurusan Ekonomi Pariwisata dan Perhotelan yang sangat berpotensi terutama di Sulawesi ini.Vv