Kuliah Umum Kejahatan Jalanan “Mencegah Lebih Baik dari Mengobati”

Universitas Tadulako bekerjasama dengan Polda Sulteng menyelenggarakan Kuliah Umum ‘Kejahatan Jalanan’ pada Selasa (21/03), di Gedung Media Center Universitas Tadulako. Kegiatan yang diikuti oleh ratusan mahasiswa yang sebagian besar berasal dari Fakultas Peternakan dan Perikanan serta Fakultas Hukum tersebut menghadirkan Kanit I Subdit III Ditkrimum Polda Sulteng, Lexi Dj Gagola SH MH.

Berdasarkan pengamatannya selama ini, Lexi menyatakan bahwa kejahatan jalanan terus meningkat, terutama di Kota Palu. “Saya gambarkan di Kota Palu karena beberapa bulan lalu kota ini mencekam. Dimana-mana curanmor terjadi setiap hari. Beberapa bulan lalu TNI itu naik sampai 65 persen di Kota Palu yang menangani kejahatan jalanan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan, dari hasil studi program prioritas Kapolri, kejahatan jalanan menduduki peringkat pertama dalam kasus kejahatan dibandingkan dengan kasus-kasus lain seperti illegal fishing, illegal mining, narkoba, serta korupsi. “Setelah diurutkan dari yang lain-lain yang namanya ilegal, illegal fishing, illegal mining, narkoba, korupsi, yang paling pertama itu kejahatan jalanan. Karena memang sangat meresahkan,” ungkap Lexi.

“Mirisnya,” ia menambahkan, “usia rata-rata pelaku kejahatan jalanan adalah 25 tahun ke bawah. Padahal ini usia produktif, dan rentang pendidikan mereka adalah dari kelas 1 SMA hingga mahasiswa semester 4,” ucapnya prihatin.

Lexi memaparkan bahwa bentuk-bentuk kejahatan jalanan salah satunya adalah pembegalan, sementara kasus tabrak lari juga masuk dalam kategori kejahatan jalanan jika dilakukan dengan perencanaan serta terindikasi menggunakan obat-obatan dan semacamnya, “Misalnya dia dalam keadaan mabuk atau menggunakan narkoba,” imbuhnya.

Mengingat banyaknya korban dari kejahatan jalanan ini, Lexi menerangkan bahwa pihak kepolisian telah melakukan upaya untuk meminimalisir maraknya kejahatan jalanan ini, yakni dengan memberikan efek jera, “Kemarin efek jera yang coba kami lakukan untuk meminimalisir kejahatan jalanan itu adalah mencoba bekerjasama dengan CJS (Criminal Justice System), CJS itu adalah kerjasama antara penyidik, penasehat hukum, kejaksaan dan pengadilan. Kemudian supaya efek jera ada, itu maka hukumannya lebih diperberat. Tapi ternyata efek jeranya tidak terlalu besar, hanya 20%. Jadi memang mencegah lebih baik daripada mengobati,” terangnya.

Untuk itu, Lexi mengajak mahasiswa untuk turut serta dalam membantu memberantas kejahatan jalanan, “Undang-undang memperbolehkan siapa saja, meskipun memang garda terdepan adalah kepolisian. Tetapi ketika korban jatuh, terjadi di lingkungan kita, saudara kita, adik kita, nah yang begitu apa boleh dibiarkan. Mustahil polisi sebagai garda terdepan ini akan berhasil tanpa dukungan teman-teman, terutama mahasiswa. Mahasiswa adalah orang yang pertama memberikan kontribusi, bantuan untuk antisipasi dalam mencegah kejahatan jalanan  ini,” tutur Lexi.

Salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam membantu kepolisian, lanjut Lexi, adalah dengan menginformasikan hal-hal yang mengindikasikan kejahatan jalanan di lingkungan sekitar, “Kalau ada teman yang terindikasi sebagai pelaku kejahatan jalanan, informasikan. Selain itu kalau misalnya dia pengguna narkoba, kemungkinan besar mengarah kesana, karena itu tidak bisa terlepas. Orang-orang pengguna narkoba, kebanyakan dia juga tahu terhadap kejahatan jalanan, biasanya dia juga tahu, siapa saja pelaku kejahatan jalanan, maka informasikan ke kita,” imbaunya. Nr

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here