Harapkan Pengoptimalan Pengelolaan Zakat Di Untad BAZNAZ Sulteng Gelar Sosialisasi

Rabu (10/05) Untad kedatangan BAZNAZ sulteng dalam rangka mensosialisasikan INPRES No. 3 Tahun 2004 tentang optimalisasi pengumpulan zakat dikementrian/lembaga.Kegiatan yang dibuka Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan tersebut, dihadiri langsung oleh ketua BAZNAZ sulteng Prof. Dr. Hj. Dahlia Syuaib, MA. Dalam sosialisasi yang dilaksanakan di gedung IT Center tersebut, turut hadir juga para Dekan, Kabag, Kasubag dan beberapa pejabat tinggi Untad lainnya.

Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAZ) provinsi Sulawesi Tengah, Prof. Dr.Hj Dahlia Syuaib, MA, dalam sambutannya menjelaskan bahwa sosialisasi zakat hanya dilakukan selama setahun sekali dan hanya berkaitan dengan pembahasan mengenai zakat fitrah. Padahal syariat agama mengenai zakat telah jelas dan Indonesia telah memiliki UU sendiri yang mengatur tentang perzakatan, sehingga perlu adanya pelatihan mubalig zakat.

“Syariah sudah jelas, bagaimana ilmu masyarakat ini bagus, maka kita lakukan pelatihan mubalig zakat. Selama ini orang-orang hanya tahu pelatihan mubalig belum ada mubalig zakat, yang artinya harus fokus persoalan zakat yang akan dibicarakan dan disosialisasikan kepada masyarakat.” jelasnya.

Adapun masyarakat yang dimaksud adalah secara umum, termasuk masyarakat kampus. Kampus juga merupakan salah satu bagian dari tatanan masyarakat, tak terkecuali Untad yang notabenenya bukan merupakan universitas agama, tentunya tidak terlalu terfokus dalam urusan keagamaan terutama zakat. Maka dirasa perlu untuk melakukan sosialisasi mengenai zakat.

Lebih lanjut Dahlia juga mengungkapkan bahwa sebagai perpanjangan tangannya, BAZNAZ sulteng telah membentuk sebuah tim yangdiketuai oleh bapak Dr.Amiruddin Kasim, tugasnya untuk mengumpulkan dan mengelola zakat di Untad. Sosialisasi zakat tidak akan pernah terhenti, karena zakat tidak hanya dikeluarkan pada saat Ramadhan saja, pada waktu dan keadaan tertentu seseorang bisa saja akan wajib untuk mengeluarkan zakat. Sedangkan di Untad sendiri, dirasa telah memiliki potensi yang besar untuk pengeluaran zakat, namun belum dikelola dengan baik.

Prof. Dr. Ir.Mahfudz, MP,selaku wakil rektor bidang umum dan keuangan pada kesempatan yang sama, menyampaikan bahwa ia sangat mengapresiasi tentang apa yang disampaikan ketua BAZNAZ Sulteng, karena zakat merupakan hal yang sangat penting baik dari sisi dunia maupun akhirat. Dengan adanya UU yang mengatur tentang perzakatan akan lebih memperbaiki sistem pengelolaan zakat, sehingga sangat patut untuk diapresiasi.

“Kalau berkaitan dengan sosialisasi saya lebih prospek ke Prof. Dahlia,yang menyampaikan aturannya dulu kemudian disampaikan ayatnya, karena ini masalah yang sangat penting dari 2 dimensi yang pertama dari sisi akhiratnya dan yang kedua dari aspek umat. Saya kira zakat ini, khususnya warga Untad saya yakin semua membayar zakat, dengan adanya peraturan atau UU, menurut saya sangat penting kita lakukan yang berkaitan dengan pengelolaan zakat” terangnya.

“Saya sebagai wakil rektor yang diamanahkan untuk keuangan dan administrasi, saya sepenuhnya mendukung apa yang diprakarsai oleh Prof. Dahlia yang telah membentuk tim khusus secara internal di Untad. Memang kalau kita kelola dengan baik potensi yang ada di Untad ini saya kira cukup besar dengan jumlah dosen sekitar 1.138 orang, kemudian jumlah tenaga kependidikan 490, yang insya Allah kalau kita kelola dengan baik akan berpotensi sangat besar untuk pengelolaan zakat. Saya kira dengan kehadiran bapak-bapak Dekan, Kabag dan Kasubag akan mendukung kegiatan ini, insya Allah pada saatnya akan terealisasi, karena sudah ada tim yang terbentuk,” harap Prof. Mahfudz.

Dalam materinya pada sosialisasi tersebut Prof. Dr. KH. Ahmad Satori Ismail, MA menyampaikan bahwa zakat merupakan sesuatu yang dibawah oleh Rasulullah sebagai simbol kepedulian sosial yang tidak hanya memberikan kebaikan pada penerima tetapi juga dapat membersihkan hati dan harta pemberinya.

“Selain dalam Al-Qur’an, zakat juga diatur oleh negara. Menunaikan zakatsendiri juga erat kaitannya dengan rasa takut kita kepada akhirat. Sedekah yang bisa membersihkan hati dari kekikiran, membersihkan dan menyucikan harta. Kewajiban pengumpul zakat bukan hanya bagaimana mengambil dan mengelola zakat, tetapi juga bagaimana agar hal itu bisa menenangkan pemberinya.”tuturnya.Vv