Ikhwan 9 Detik

Oleh: Banua el Zafa

Tubuh Qonita seketika mematung, matanya menumbuk dinding kamar yang dicat putih. Biji-biji keringat melekat di wajahnya yang oval, hidungnya yang mancung kembang kempis mengatur nafas, jantungnya berdetak tak karuan. Seekor cicak yang beberapa saat lalu menyaksikan Qonita terjaga berlalu  di langit kamar, seolah hendak pulang ke peraduan setelah berhasil melahap nyamuk yang girang telah menyedot darah segar Qonita, tanpa tahu bahwa maut sedang mengincarnya.

“Mimpi itu lagi.” Qonita bergumam. Wajahnya pucat.

Rambutnya hitam legam, panjang ke pinggang, lembab oleh keringat nampak seperti orang baru saja keramas.

Telapak kakinya yang proporsional menyentuh lantai kamar. Putih kulitnya beradu dengan warna tehel putih. Ia beranjak dari kasur empuk tempatnya terbaring dan juga mendadak terjaga oleh sebuah mimpi iseng. Mimpi yang telah menemani tidurnya sebanyak tiga kali di pekan ini. Mimpi yang tiap munculnya selalu mengundang detak cepat di jantung, bulir keringat di wajah dan tubuh. Mimpi yang menimbulkan formasi pertanyaan di otak.  Mimpi yang membuat Qonita seketika merangkap profesi menjadi detektif mimpi. Mimpi yang bahkan hampir tak bisa dibedakan apakah itu hanya sekedar mimpi atau kode sebuah kenyataan. Kenyataan yang menyapa. Kenyataan yang melambai.

Tubuh Qonita sempurna berdiri, nampak ukuran tingginya kurang lebih 167 cm. berat badan ideal menyamai tinggi tubuh. Ia melangkah menuju kamar kecil dalam kamarnya. Berwudhu.

Jam 02.30

Weker berdering setelah 15 menit kemudian saat terjaganya Qonita dari mimpi buruknya.

Sajadah bisai yang tergantung di balik pintu kamar, melempar senyum ke arah Qonita yang menjulurkan tangan meraih sajadah tersebut. Wajahnya yang tadi basah oleh keringat digantikan air wudhu yang membuat Qonita tampak bercahaya.

Malam masih mengantung. Pekat. Bintang enggan mengintip seolah takut melawan kehendak malam yang tiba-tiba ganas merendam bumi.

Qonita sempurna membalut tubuhnya dengan sehelai kain putih berenda pink. Matanya menumbuk sajadah tua, kusam, tanda telah hidup selama puluhan tahun.

Yang namanya terselip dalam doa.

Yang wajahnya menyapa dalam mimpi.

Yang suaranya menggetarkan hati.

Yang hanya

Yang bisa

Yang selalu yang

Hingga kelak menjadi sayang

Diakhir penantian halal.

 

***

Di mesjid, beberapa orang berkumpul membicarakan entah apa. Sebagian memanggil sebagian yang lain. Seorang wanita muda melambaikan tangan memanggil temannya yang baru tiba. Ikhwan lalu lalang mengangkat perlengkapan ke atas mobil. 4 mobil berjejer di bibir jalan. Satu mobil paling depan berisikan soundsystem, mobil kedua adalah mobil medis, mobil ketiga memuat konsumsi, mobil keempat memuat air mineral kemasan.

Seorang amnia memberi aba-aba berkumpul, para akhwat diteras mesjid, beringsut, melangkah menuju sumber panggilan. Sabagian tetap santai dengan langkah manisnya, sebagian berlari nampak memikul semangat yang kian menumpuk di punggung. Semua telah siap untuk membelah medan.

“Yang belum dapat pita hijau…” seorang akhwat berteriak lantang mengangkat tangan kanannya  yang menggenggam pita hijau.

“Saya..”

“Saya, Ukh”

“Saya juga belum dapat.”

“Ukh, teman saya belum dapat.”

“Saya minta tiga pita, Ukh”

Sahut-menyahut beberapa akhwat menanggapi pertanyaan saudaranya.

Qonita berdiri paling depan, membelakangi barisan ikhwan dan berhadapan dengan barisan akhwat. Gamisnya putih, jilbabnya putih, di kepalanya melingkar pita merah putih, tanda bakti pada negara namun tak lupa pada Illahi. Di tubuhnya menggantung kamera single – lens reflex. Setiap moment yang layak untuk diabadikan, mata Qonita mengintip ke viewfinder, jarinya melekat di shutter, dan…

Jepret…” cahaya membias, menembus lensa, tersaring di miror, menari di sensor, menghibur procesor, melebur di penyimpanan. Qonita sibuk melukis dengan cahaya.

Bendera dikibarkan, pataga diacungkan, spanduk dibentangkan, takbir menggema merobek langit, surya ganas melototi bumi, aspal menjerit menguap kepanasan.

“Takbiiiiiiiiirrrrr…”

“Allahu Akbar…”

“Takbiiiiiiiirrrrr…”

“Allahu Akbar…”

“Takbiiiiiiiirrrr…”

“Allahu Akbar…”

Ribuan kepala yang berbeda isi menyatu dalam satu barisan di bawah satu komando.

Langit Jakarta mendadak ganas membungkam suara penghuninya, hanya syair para orator yang terdengar dimana-dimana. Ummat tahu bagaimana cara taat kepada ulama.

Setiba di titik kumpul,  orator mulai mengumandangkan kalimat-kalimat pembakar semangat. Kalimat kemenangan. Di bibir jalan aparat kepolisian mengelilingi masa aksi dari barat hingga timur, membentuk formasi mirip telur dengan masa aksi berada ditengahnya. Tangan mereka menggenggam senjata seolah siap menumpas masa yang ingin ribut.

“La illaha illallah” seru sang orator.

“La illaha illallah”  masa aksi mengikuti.

“Muhammadarrasulullah” lagi. Orator.

“Muhammadarrasulullah” susul masa aksi.

Matahari semakin dekat ke ufuk barat. Panas yang tadi menyengat perlahan bersahabat. Suara Bilalers abad 21 menggema di ruang bumi. Masa aksi bubar. Merapat ke sumber-sumber air, mengucap bismillah, mencuci tangan, berkumur-kumur, mencuci hidung, membasuh wajah, tangan hingga siku, kepala dan telinga, terakhir cuci kaki dan berdoa.

“Kita akan sholat di jalan ini” seru Korlap[1].

Jalan? Di sini? Yah, mereka akan melaksanakan sholat di atas aspal yang sejak tadi menjadi saksi kesungguhan tekad mereka menuntut keadilan. Tempat yang dengan sabar membiarkan mereka berpijak, meluapkan segala ketidak ridhoan seorang penganut agama ketika tauhidnya diusik. Disinilah rukuk dan sujud itu dilaksanakan.

Qonita terus membidik setiap moment yang layak untuk diabadikan. Setiap jepretan adalah emas sejarah.

Hingga semua jama’ah berkumpul. Imam mulai mengucapkan takbir tanda ritual ibadah mulai dilaksanakan. Para masa aksi mulai berlarian mengambil tempat, menutup shaf yang terbuka, melentangkan jaket, pataga dan spanduk dijadikan alas sujud. Hingga rakaat kedua seseorang dari kejauhan berlari. Tanpa melirik, ia menyambung shaf, merapatkan kakinya ke jamaah yang telah khusyu, tangannya terangkat, lirih bibirnya berucap takbir. Imam bergerak sujud, sontak para jamaah ikut sujud.

Dan pemuda itu…

Pemuda yang membuat Qonita mematung melupakan kamera di tanganya selama beberapa detik. Pemuda yang membiarkan wajah kuning langsatnya menyatu dengan debu. Hidungnya menurut khusyu mencium aspal. Ada keikhlasan di raut wajahnya. Ada cinta akan Rabb yang berparasit di matanya yang tawaddu. Hati Qonita bergetar kagum.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarhokatu” suara Imam.

Kepala jamaah menoleh ke kanan.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarhokatu” suara Imam.

Kepala jamaah menoleh ke kiri. Dan sempurnalah wajah itu dimata Qonita.

Usai sholat, tak sempat mereka berzikir, jama’ah langsung menghambur, ke kiri, ke arah Qonita. Masa aksi yang lainpun ikut berdiri.

Qonita yang sejak tadi sibuk memandang pemuda kuning langsat itu, duduk melutut, ada sakit di belakangnya yang membuat kakinya tak mampu menopang tubuhnya.

Pemuda itu memandang Qonita, keningnya bertaut gelisah, mulutnya berucap keras namun terdengar lirih di telinga Qonita. Tangannya mengibas, perintah untuk berpinggir.

“Awaaaassss…” suara itu berusaha dikeraskan namun tak terdengar oleh Qonita yang telah bersetubuh dengan tanah.

Masa aksi berhamburan, beberapa orang terluka dibopong team medis. Yang lain diangkut ke rumah sakit. Suara-suara panik tumpang tindih.

“Allahu akbar. Kami diserang. Allahu akbar. Kami ditembaki gas air mata oleh aparat. Allahu akbar. Kami ditembaki dengan peluru karet” seorang lelaki paruh baya merekam suaranya dengan ponsel genggam.

Qonita berusaha membuka matanya, pemuda itu telah berada didepannya. 9 detik ia memandang wajah itu lekat, 9 detik ia menatap mata itu dalam, 9 detik ia menghitung pertemuan yang singkat.

“Ini mimpi yang nyata” lirihnya.

Hingga 9 detik kemudian, sebelum matanya terpejam sempurna, ia menangkap rangkaian huruf di baju pemuda tersebut yang bertuliskan : “411, Satu Suara Bela Qur’an”.

***

Qonita beranjak dari tempat sujud menuju meja tua cokelat di kamarnya. Mengambil sebuah buku kusam, di sampulnya tertulis “Deary Masa Depan

Tangannya menggenggam pulpen tinta abu-abu. Lembut mengayun, ia melukis kata dengan tinta di atas kertas :

4 November 2008

Hari ini, mimpi itu kembali menggoda, seolah nyata namun gaib.

 

“Tamat”

[1] Koordinator Lapangan

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here