Ramadhan anak-anak Kos

Bulan Ramadhan selalu dinanti oleh jutaan ummat Muslim
di dunia, kehadirannya juga mampu membangkitkan
rindu tentang ramadhan demi ramadhan yang pernah
terlewati. Ramadhan seringkali mengingatkan kita
tentang orang tua di rumah, tentang kehangatan
keluarga, tentang menu andalan kala berbuka, atau
ribut-ribut sebelum sahur bersama.
Tanyakanlah pada mahasiswa pendatang bagaimana
pilunya ramadhan di tanah rantau. Kala do’a buka puasa
terdengar menggema dari loudspeaker masjid, ketika
dari pengeras suara masjid terdengar suara
”sahur….sahur…sahur….waktu sahur telah tiba,” dan
mendapati kenyataan menu sahur yang apa adanya,
bahkan tidak jarang mesti harus menanak nasi dahulu,
membeli lauk di kios terdekat, kemudian sahur bersama
teman asrama.
Memasuki ramadhan tahun ini, tidak sedikit mahasiswa
Untad yang akan menghabiskan masa-masa ramadhan
di tanah rantaunya ini, jauh dari keluarga tercinta.
Bagaimana mereka mensiasati rindu yang akan muncul
jelang ramadhan, serta bagaimana mereka menjalani
sahur, buka puasa, juga tarawih di tanah tempat
menuntut ilmu. Media Tadulako khusus menemui
beberapa mahasiswa, mengorek lebih jauh tentang
pengalaman mereka menjalani ibadah puasa yang jauh
dari kampung halaman.
Novriandi, Mahasiswa Fakultas Teknik mengatakan,
disetiap Ramadhan ia biasanya selalu menghubungi
kedua orang tuanya, bertanya kabar serta memohon
maaf atas setiap salah dan khilaf. Menurutnya, momen
seperti itulah yang menghadirkan kerinduan pada
kampung halaman dan suasana rumah.
“Berbicara dengan orang tua melalui telepon disaat-saat
akan menyambut ramadhan itu selalu membuat
perasaan sedih, karena kita tidak bersama-sama dengan
keluarga. Di rumah kan biasa orang tua sudah akan
menyiapkan masakan paling enak di hari pertama
puasa,” terang mahasiswa angkatan 2014 ini.
Tahun ini Novriandi masih akan menjalani sebagian
rutinitas puasa di Kota Palu, ia akan menjalani ritual sahur,
berbuka, juga taraweh bersama teman-teman kuliah di
tanah tempatnya menuntut ilmu ini. Masa-masa begini
baginya adalah masa-masa rawan, apalagi di setiap
menjelang waktu sahur. Mau tidak mau ia harus mulai
membiasakan bangun lebih pagi dari biasanya.
“paling tidak alarm HP harus siaga, sebab kita masih harus
menanak nasi, kemudian jalan cari lauk. Kalau sudah
begini mengantuk terpaksa harus di lawan,” tambah
Novri
Bila sahur Novri harus berjibaku melawan kantuk,
menembus dinginnya malam mencari lauk, tidak
demikian dengan saat akan berbuka puasa. Menu
bukanya sering berlimpah, ada saja yang memberikan
makanan berbuka, baik undangan buka bersama atau
menu buka yang memang telah disediakan masjid.
“Mungkin ini yang namanya bersusah-susah dahulu
bersenang-sennag kemudian. Kalau subuh kita susahsusah
cari makan, maka saat berbuka kita senangsenang
dapat makanan,” terangnya.
Novri mengaku sangat merindukan bulan Ramadhan,
Ramadhan baginya adalah saat yang tepat
memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, juga
melakukan instrospeksi atas segala dosa-dosa yang
pernah dilakukan sebelumnya. Ia berharap bisa
menjalankan ibadah puasa tahun ini tanpa ada yang
terlewat seharipun.
Lain Novri, lain pula yang dirasakan oleh Farida, bagi
mahasiswa asal Thailand ini, Ramadhan nanti adalah
ramadhan pertamanya jauh dari keluarga. Bila Novri
akan melaksanakan ramadhan di kota orang, Farida
justru akan melaksanakan ibadah puasa di Negari orang.
Bagi Farida, ramadhan kali ini menjadi tantangan
tersendiri baginya untuk beradaptasi dengan kebiasaan
di Indonesia. Walau jauh dari Thailand, mahasiswi Fakultas
Ekonomi ini tetap antusias menyambut ramadhan, ia
ingin melihat dan merasakan langsung bagai mana
orang Indonesia menjalani ibadah puasa.
“Ini pengalaman pertama, kalau rindu pastilah, tapi saya
juga penasaran ingin mengetahui bagaimana rasanya
puasa di Palu.” Terang Farida.
Mahasiswi berhijab ini mengaku akan melaksanakan
puasa full di Kota Palu, ia baru akan mudik ke negaranya
setelah lebaran nanti. “Ini memang sulit, apalagi saat
lebaran nanti, pasti sedihlah, saya menggap ini bagian
dari suka duka menuntut ilmu,” ujarnya.
Selama Ramadhan Farida biasanya merutinkan
membaca, kebiasaan itu diupayakannya bisa
dipertahankan saat puasa di Palu. Ia berharap, walau
tetap kuliah di saat ramadhan, ia bisa konsisten
mengkhatamkan Al-qur’an selama ramadhan. “Minimal
bisa sekali khatamlah,” ungkapnya.
Farida menceritakan, di Negara asalnya ia biasa santap
sahur dengan makanan juga minuman yang masih
hangat, kemudian berbuka dengan kurma, ayam bakar,
serta makanan yang manis-manis. “Kalau saya dengar
dari teman-teman, menu sahur dan berbuka Thailand
dan Indonesia tidak banyak yang berbeda,” jelasnya.
Selain sebagai ajang introspeksi diri, Ramadhan bagi
Farida adalah sekolah yang mengajarkan tentang
pentingnya bersyukur. “Kita hanya tidak makan dan
minum dari pagi sampi magrhib, bagaimana dengan
mereka yang menahan haus dan lapar tanpa mengenal
kapan sahur dan kapan berbuka.” Tuturnya.
Di ramadhan kali ini, ia ingin diberi kesehatan, panjang
umur dan dapat kembali bertemu keluarga nun jauh di
Thailand sana.
Ramadhan memang selalu special untuk semua orang.
Ada banyak moment yang sayang rasanya terlewatkan
di masa-masa Ramadhan nanti. Ramadhan dari tahun ke
tahun adalah sejarah diri kita tentang seperti apa kita
menjalani ibadah nan mulia itu. Ramadhan telah
sebentar lagi, semoga kita bisa menjalaninya dengan
segenap taat, dan penghambaan total pada yang
maha kuasa.
Selamat menunaikan ibadah puasa 1438 H. semoga kita
berjumpa di hari kemenangan nanti kondisi yang benarbenar
bersih.