Spirit Dialektis Umat Islam Menyambut Ramadhan

Penulis:

Muhammad Khairil
Penulis adalah Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Untad dan
Ketua Assosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi Wilayah Sulawesi Tengah

Marhaban Ya Ramadhan,
demikian dialektika umat Islam dalam
menyambut datangnya bulan suci
Ramadhan. Ungkapan dialektis ini
menjadi makna simbolik bagi umat
Islam di seluruh penjuru dunia sebagai
bentuk kesyukuran juga kebahagiaan
karena dipertemukan kembali dengan
bulan yang penuh berkah dan
ampunan. Menjadi berkah karena di
bulan ini begitu indah untuk saling
berbagi dan memberi manfaat
dengan penuh ketulusan. Bulan yang
penuh ampunan karena bulan
ramadhan menjadi wadah, sarana
b a g i s i a p a s a j a y a n g i n g i n
membersihkan diri, sujud simpuh
mohon ampunan-Nya. Penghujung
Ramadhan akan menjadi saksi, kita
terlahir kembali sebagai manusia fitrah.
Menyambut ramdhan tidak
h a n y a d e n g a n “ w e l c o m e t o
Ramadhan” tapi tradisi dialektis yang
terbangun diantara sesama muslim
terjalin begitu indah. Satu diantaranya
adalah pesan berantai untuk saling
memaafkan atas segala khilaf saudara
sendiri. Sakit hati, amarah dan
kebencian seketika sirna dengan
uluran tangan untuk saling membuka
pintu maaf. Indah bahkan terasa
begitu indah jalinan silaturrahim untuk
saling menguatkan ukhuwah.
Efek ramadhan ternyata tidak
hanya bagi sesama muslim. Banyak
dari kalangan non muslim juga turut
dalam suka cita ramadhan. Indahnya
toleransi beragama begitu terasa
ketika pemeluk keragaman agama
saling menghormati pemeluk agama
yang berbeda. Bagi non muslim,
penghargaan akan tolerasi itu juga
ditunjukan dengan pemberian
ucapan selamat menjalankan ibadah
ramadhan. Tidak hanya itu, banyak
d i a n t a r a n o n m u s l i m y a n g
memberikan penghormatan bulan
suci ramadhan dengan menahan diri
untuk tidak makan dan minum di area
publik.
Menyambut ramadhan dan
mengisi ramadhan hendaknya
terbangun dalam dialektika santun
penuh hikmah baik antar sesama
muslim maupun dengan non muslim.
Keragaman pluralitas keagamaan kita
begitu berharga untuk kita jaga dan
pertahankan. Tidak mudah terhasut
o l e h i s s u r a d i k a l i s m e a g a m a ,
p r a g m a t i s m e p o l i t i k , s a l i n g
m e n y a l a h k a n d a n m e n e b a r
kebencian antara satu dan yang
lainnya.
B e r b a g a i k o n f l i k s o s i a l
bernuansa agama baik antar sesama
pemeluk ajaran satu agama maupun
yang berbeda keyakinan seringkali
mewarnai kehidupan setiap insan
b e r a g a m a . M a n u s i a s a l i n g
menyalahkan satu sama lain, klaim
kebenaran sebagai kebenaran
mutlak, hakim menghakimi hingga
saling membunuh satu sama lain atas
nama agama. Akar persoalan yang
sesungguhnya adalah hanya karena
keberagamaan yang bersifat subjektif,
menonjolkan nilai-nilai egoisme dan
arogansi, sehingga perspektif nilai
kebenaran dalam beragama hanya
dipandang dari satu sudut pandang.
Sesungguhnya dialektika dalam
moralitas agama yang paling
mengesankan bagi kehidupan
manusia adalah menolak kejahatan
dengan kebaikan. Etika ketuhanan
yang selalu tulus memberikan “air susu”
disaat orang suka melempar “air
tuba”. Kendati setiap hari orang
beragama disakiti, tetapi ajaran
a g a m a n y a m e m i n t a n y a u n t u k
bersabar dan kalau perlu memaafkan.
Dengan keyakinan bahwa sikap sabar
dan memaafkan itu justru akan
mendekatkan dirinya dengan cinta
k a s i h T u h a n d a n m e n j a u h k a n
musuhnya dari kasih sayang-Nya.
Ramadhan menjadi ajang
d i a l e k t i s i n t r a p e r s o n a l d a n
antarpersonal untuk meneguhkan
keyakinan akan hakekat kebenaran
mutlak yang hanya milik-Nya. Secara
intrapersonal, kita dituntut untuk
melakukan introspeksi spiritual tentang
penghambaan kita pada sang Khalik.
Benarkah kita hanya menyembah utuh
dan kaffah hanya pada-Nya ?
Ataukah kecintaan dunia dan syahwat
kita telah memudarkan pesona tauhid
yang begitu agung dan suci ?
Agama tidaklah cukup hanya
dengan introspeksi spiritual. Secara
antarpersonal, agama yang kita yakini
kebenarannya harusnya menjelma
d a l a m m e n e b a r r a h m a t d a n
kebaikan. Paduan ilmu dan iman
menjadi mutlak bagi umat beragama
untuk menjadi kekuatan dalam
menebar manfaat dan kebaikan.
Sesungguhnya antara Iman dan
Ilmu ibarat si buta dan si lumpuh. Ilmu
tanpa bantuan iman, akan terpaku
pada tempat duduknya. Ia hanya
mampu melihat apa yang berada
disekitarnya. Agar bisa berjalan, ilmu
harus berlandaskan iman. Iman telah
membawa ilmu pengetahuan pada
dunia yang lebih luas, dunia yang jauh
diluar batas-batas empiris.
Dalam pandangan Muthahhari,
bahwa sesungguhnya sejarah telah
membuktikan pemisahan sains dari
keimanan telah menyebabkan
kerusakan yang tak bisa diperbaiki lagi.
Keimanan mesti dikenali lewat sains.
Keimanan bisa tetap aman dari
berbagai takhyul melalui pencerahan
sains. Keimanan tanpa sains akan
b e r a k i b a t f a n a t i s m e d a n
kemandekan. Jika saja tak ada sains
d a n i l m u , a g a m a , d a l a m d i r i
penganutnya yang naif akan menjadi
suatu intstrumen ditangan-tangan
para dukun cerdik.
Falsafah Man Arafa Nafsa Fa
Arafah Rabbah (Manusia yang
mengenal hakekat dirinya, akan
mengenal hakekat Tuhannya) dan
ungkapan Socrates Gnothi Seauthon
(kenalilah dirimu) menjadi bagian dari
pengkajian dan perenungan diri umat
manusia sepajang sejarah untuk dapat
mengenal hakekat kehidupan,
substansi kemanusiaan dan nilai
Ilahiah. Pada akhirnya manusia mulai
mengenal hidup, kemanusiaan dan
Tuhannya. Proses inilah sebagai awal
dari pencerahan hidup manusia atas
kemanusiaannya dan manusia atas
keyakinan dan agamanya. Inilah
kekuatan ilmu yang terpadu dalam
dialektika iman.
Marhaban ya Ramadhan.
Menyambut ramadhan tidaklah
semata seulas senyum menghias bibir,
tidak juga cukup dengan saling
mengulur tangan penuh maaf namun
lebih dari itu, bulan ramadhan yang
agung nan suci harusnya menjadi
transformasi diri untuk manusia lebih
mengenal diri dan Tuhan-Nya. Totalitas
p e n g h a m b a a n y a n g h a n y a
menghamba pada-Nya akan menjadi
tonggak lahirnya diri yang fitrah yaitu
diri yang suci dan memberi kesucian
pada alam semesta.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here