Tingkatkan Pengolahan SDA Kimia FMIPA Gelar Kuliah Umum

Jurusan Kimia Fmipa kembali melaksanakan Kuliah Umum pada Sabtu (13/05) di Jurusan Kimia. Kegiatan yang dirangkaian dengan dialog mengenai teknik pengelolaan jurnal dan kurikulum berbasis KKNI tersebut menghadirkan Chief editor international Jurnal of Chemistry, Prof Drrernat Nuryono MS. Kegiatan yang berlangsung sehari tersebut mengangkat tema “Peran Kimia Dalam Pengolahan Sumber Daya Alam Lokal”.

Ketua jurusan Kimia, Dr. Ruslan SSi MSi, menjelaskan bahwa pihak jurusan mengadakan kuliah umum dengan menghadirkan seorang pakar sumber daya alam mineral dari Universitas Gadja Mada (UGM), adalah untuk memberikan pengetahuan yang lebih kepada mahasiswanya akan banyaknya sumber daya alam (SDA) yang dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai jual yang tidak terdapat di Sulawesi Tengah ini.

“Jadi yang di bahas adalah tentang SDA lokal yang bisa diberdayakan terutama yang ada di Sulteng ini. Dosen kemarin khusus kita datangkan dari UGM untuk memberikan pencerahan kepada mahasiswa tentang SDA yang betul-betul bisa dimanfaatkan di Sulteng ini karena Dr Nuryono adalah memang pakar SDA di UGM terutama mineral, jadi dia kita undang memberi pencerahan kepada mahasiswa yang ada di jurusan kimia ini,” jelasnya.

Ruslan menambahkan, bahwa selain itu ada alasan lain yang membuat ia memilih Prof Drrernat Nuryono MS, sebagai pemateri dalam Kuliah Umum Jurusan Kimia kali ini, yang juga dirangkaikan dengan teknik pengelolaan jurnal dan dialog kurikulum berbasis KKNI karena kedudukan Nuryono yang juga sebagai Chief editor international Jurnal of Chemistry satu-satunya di Indonesia yang terindeks kopus. Sehingganya menurutnya, Jurusan Kimia sangat penting untuk belajar lebih banyak tentang mengolah jurnal yang lebih baik lagi serta berbagi informasi tentang kurikulum berbasis KKNI dari UGM.

“Selain itu, kenapa kita memilih prof Nuryono? Karena meskipun di UGM juga banyak pakar yang lain, kelebihan Prof adalah dia juga sebagai chiefeditor International Jurnal of Chemistry,  yang satu-satunya di Indonesia yang terindeks skopus, sehingga ini bisa jadi ajang berbagi ilmu ke dosen Kimia, supaya kedepannya kita bisa mengembangkan jurnal Kovalen kita,”ungkapnya.

“Sekarang jurnal kita sudah online, tapi kita mau lebih bagus lagi, kita ingin menyamai dengan yang ada di UGM, karena di UGM satu-satunya jurnal yang terindeks kopus internasional,” imbuhnya.

Saat ditanya tentang harapannya, ketua jurusan kimia itu menyampaikan bahwa ia ingin dengan adanya kuliah umum mengenai pengelolaan sumber daya alam lokal tersebut, dapat membuka wawasan mahasiswanya untuk mendapatkan ide-ide penelitian baik untuk penelitian akhir maupun untuk mengikuti program kreativitas mahasiswa (PKM) dengan memanfaatkan SDA lokal yang ada.

“Harapan kami untuk mahasiswa agar terbuka wawasan berpikirnya tentang potensi yang ada di Sulteng ini, sehingga mahasiswa punya daya kreasi atau inovasi terutama untuk penelitian, apalagi dalam waktu dekat ini kita ingin mengembangkan penelitian untuk PKM, jadi ini merupakan langkah awal untuk membuka wawasan mereka, karena mungkin setelah lebaran kita mau adakan workshop bagaimana membuat proposal PKM,” jelasnya.

“Jadi itu merupakan langkah awal, agar mereka tahu ternyata banyak potensi yang ada di sulteng ini, yang bisa dijadikan proposal penelitian.Untuk aplikasi nanti dulu, yang penting wawasan berpikirnya. jadi kita membuka wawasannya dulu, baru kita melatih supaya mereka ada ide penelitian dan target pembuatan proposal dapat dicapai,” harapnya.

Prof Drrernat Nuryono MS, dalam materinya menyampaikan salah satu senyawa yang banyak di alam dan memilik ini laijual tinggi adalah silika. Namun, masih sulit di dapatkan di Indonesia, sehingga membuatnya berpikir bagimana untuk memproduksi silika, yang tentunya juga akan memberikan manfaat besar untuk Indonesia. Dan pada akhirnya ia menemukan bahwa tanah di atom, abu sekam padi dan pasir kuarsa merupakan beberapa SDA lokal yang sangat berpotensi sebagai sumber silika.

“Kenapa saya kemudian tertarik dengan silika? Karena kan sebenarnya silika itu banyak di alam dan itu mahal,hanyasajakitabelumbisabeli kalua di Indonesia. Jadi saya berpikir bisa ngga ya kita buat untuk kepentingan di Indonesia? Dan saya menemukan pertama tanah diatom yang kandungan silikanya 70% tapi masih kurang tinggi untuk silika, terus saya menemukan bahwa abu sekam padi mengandung sekitar 80%,” terangnya.

“Kita melihat bahan alam yang kaya akan silika itu apa? Lalu kita rekayasa dan kita desain untuk kita aplikasikan. Dan sampai sekarang saya masih menggunakan abu sekam padi, tapi selain itu saya juga menggunakan pasir kuarsa atau pasir besi untuk memper oleh silika,” jelasnya. Vv

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here