Catatan 3 Mahasiswa Untad, Menaklukan Eropa, Menembus Australia, Menjelajahi Korea

Lokasi lahir boleh di mana saja, namun lokasi mimpi harus di langit. Kalimat yang sering disampaikan Anies Baswedan, Gubernur terpilih Jakarta yang juga mantan menteri pendidikan itu, rasanya tepat menggambarkan ketiga mahasiswa Untad yang kini tengah menempuh pendidikannya di tiga negara berbeda. Apa yang mereka dapatkan hari ini adalah bayaran, dari semua kerja keras yang sudah mereka lakukan. Bagaimana kisah perjelanan mereka, berikut ulasan eksklusif Media Tadulako dengan ketiga alumni Untad ini.

Wiwik, Anak Petani Jajal Pendidikan di Negeri Kangguru

Ni Made Wiwik Astuti yang tak pernah membatasi target impiannya dalam mengejar cita-cita hingga ke negeri Kangguru. Keterbatasan ekonomi orang tua yang bekerja sebagai buruh tani dan lulusan SD tidak menjadi penghalang dan sebuah ketakutan baginya untuk bersekolah di luar negeri.

Jangan mengira gadis berumur 26 tahun yang berparas ayu ini lulusan sekolah ternama di jawa. Wiwik, sapaannya, telah menghabiskan masa SD hingga SMA di Kabupaten Parigi Moutong, dan ia dengan bangganya juga menyatakan sebagai alumnus S1 Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tadulako (2013). Saat ini ia tengah S2, membenamkan diri di jurusan Master of Education in Expert Teaching Practice, Monash University. Wiwik mendapatkan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui jalur beasiswa Afirmasi 3T Luar Negeri. Boleh dikata juga, ia adalah alumni Untad pertama yang berhasil menaklukan beasiswa LPDP ke luar negeri, karena alumni Untad lainnya yang juga penerima beasiswa LPDP tak seberuntung Wiwik. Mereka hanya melanjutkan pendidikan di dalam negeri saja.

Sebelumnya, Wiwik tak pernah menyangka impiannya untuk bisa S2 di luar negeri akhirnya terwujud. Ia mengakui terkadang suka iseng, nyeleneh ngomong ke teman dan orang-orang terdekatnya kalau dia ingin ke Australia. “Kalau saya suka sesuatu, kadang saya suka bilang ke orang. Nyeletuk aja sambil bercanda gitu. Saya bilang kalau saya Ingin ke Australia. Entah mengapa Australia yang saya sebut. Ya mungkin itu salah satu negara maju yang terdekat,” tuturnya sambil tertawa. Beruntungnya, siapa sangka candaannya menjadi kenyataan. Mungkin ini yang dinamakan Mestakung, semesta mendukung. Teori alam yang cukup sederhana yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, yang awalnya tak mungkin menjadi sangat mungkin untuk terwujud.

Bukan tanpa alasan perempuan yang pernah mendapatkan danah hibah Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) semasa S1 ini membidik kesempatan untuk studi di Kota Melbourne, Australia. Alasan pertama karena sekolah di luar negeri memberikan kesempatan yang lebih buat dia. Misalnya akses gratis jurnal yang tanpa batas, perpustakaan buka 24 jam, dan kemudahan dalam mnggunakan transportasi. Kedua, Kota Melbourne yang telah dinobatkan sebanyak 6 kali sebagai kota ternyaman se-dunia, menjadikan kota tersebut sebagai destinasi studi bagi banyak orang.

Kini mahasiswa yang diperkirakan akan meraih magisternya pada Agustus 2017 ini, tengah menyelesaikan tesis dengan judul “Investigating Indonesian pre-service teachers’ and students’ understanding of the nature of science”. Subjek penelitiannya merupakan mahasiswa Pendidikan Fisika Untad dan beberapa siswa di Kota Palu.

Wiwik berpesan kepada seluruh mahasiswa untuk tidak suka mengeluh pada keadaan. Segala kesulitan, hambatan, dan rintangan itu jika disertai dengan kesabaran dan kesungguhan, justru bisa menjadi pelecut untuk meraih kesuksesan yang luar biasa. Sebaliknya, berbagai kemudahan sering kali malah ‘membunuh’, dengan kata lain tidak kreatif dan produktif.

Berbicara soal karir ke depan, Wiwik berharap bisa menjadi seorang pendidik professional. Baginya menjadi pendidik adalah passion-nya. Ia sangat senang bisa mengajar, menolong orang tanpa menyampingkan passion-nya. Untuk tujuan korespondensi, Wiwik bisa dihubungi melalui instagramnya @dheewiwik.

Dari Benua Eropa Menuju Negeri Gingseng

Siapa sih yang tidak mau gratis keliling Eropa ? Semua orang pasti berangan-angan ingin menaklukkan benua Eropa yang dikenal sebagai lambang kemewahan dan simbol kemajuan zaman. Bangunan artistik yang berdiri kokoh dan beragam budaya yang turut mewarnai kehidupan bangsa Eropa menjadi daya tarik tersendiri bagi Edi Utomo Putra untuk menjejaki 11 negara di sana selama 20 hari. Mulai dari Portugal, Spanyol, Prancis, Belanda, Jerman, Belgia, Austria, Ceko, Slovakia, Hungaria, dan Swedia sudah ia sambangi.

Kesempatan mengelilingi Eropa secara gratis berawal dari keikutsertaan Edi dalam program ERASMUS+ Action 2; ALFABET. Program ini adalah program pertukaran pelajar yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa Untad untuk belajar di salah satu universitas ternama di Eropa selama 10 bulan. Setiap tahun Untad mengirimkan mahasiswanya untuk mengikuti program ini.

“Ketika mendaftar program ini, saat itu saya masih tercatat sebagai mahasiswa Agribisnis Untad semester 8. Nah, saat dinyatakan gol, saya ke Eropanya setelah saya Yudisium,” tutur Edi.

Bagi Edi, kuliah di luar negeri bukan sekedar ajang pamer atau gaya-gayaan semata. Namun ia mengakui bahwa di Eropa ia belajar memahami pola hidup orang asing mengapa mereka bisa maju, dan sebagainya.

“Jadi dengan mengetahui hidup mereka, kita bisa ‘nyolong’ sisi positif mereka lalu bawa pulang,” ujarnya. “Mengapa harus kuliah ke luar negeri? Ya saya balik lagi nanya, menapa harus di dalam negeri ?” tantangnya.

Kini Laki-laki yang pernah aktif menangani website anakuntad.com ini berhasil meraih mimpinya yang lain. Tak lama setelah pulang dari Eropa, ia lolos sebagai penerima beasiswa KGSP dari pemerintah Korea untuk melanjutkan S2 di Chonnam National University, Gwangju, Korea. Ia akan menempuh pendidikan selama 2 tahun yang akan dimulai tahun 2018. Meski demikian, ia akan segera bertolak ke Korea pada akhir Agustus 2017 mendatang untuk mengikuti kursus bahasa Korea terlebih dahulu selama setahun di Busan University of Foreign Studies, Busan.

Edi adalah sosok yang pandai mengambil peluang. Menurutnya, selagi buka pendaftaran jenis beasiswa apa pun itu, ia akan menyebar jaring, ia akan mendaftar program tersebut. Sebelumnya ia mengakui telah gagal pada beasiswa AAS, namun baginya itu rencana terbaik dari Tuhan untuknya karena selang beberapa hari ia mendapati kabar bahwa ia lolos program KGSP.

“Sekarang saya percaya diri (PD), kalo ketemu orang dari kampus atau negara lain, saya tak segan-segan mempromosikan kampus Untad.”

Sebagai alumni salah satu kampus terbaik di bagian Indonesia Timur, Edi menyarankan kepada seluruh pemuda kota Palu khususnya mahasiswa Untad sebisa mungkin pasang target “Go Internasional” sebelum lulus kuliah S1. Baginya, Kalau masih ada mahasiswa yang takut untuk mencoba kesempatan bersekolah ke luar negeri, berarti mahasiswa tersebut tidak mau maju.

Kutipan favorit Edi yang telah menghantarkan kesuksesannya yaitu “sukses dengan fasilitas yang lengkap atau tersedia itu biasa, namun dengan fasilitas biasa saja itu yang luar biasa”. Memang terkadang seseorang bisa maju ketika ditekan dan penuh tantangan dalam hidupnya.

Saat lulus Edi berhasil meraih 3 penghargaan sekaligus sebagai wisudawan IPK tertinggi (IPK 3,95), terbaik fakultas dan terbaik universitas,  akan menjadi hal yang perlu dilirik bagi mahasiswa lain untuk belajar dari laki-laki yang hobi Travelling ini. Edi bisa di-stalking di instagramnya @ediutomoputra.

Father Student, Why not?!

Kebanyakan mahasiswa pasca studi S1 yang sudah menikah terkadang mengubur impiannya untuk sekolah ke luar negeri. Namun berbeda dengan Fajar Joko Santoso, Pria kelahiran Palu 25 Februari 1989 ini dengan gigih mewujudkan impiannya untuk bisa mengenyam pendidikan di luar negeri. Sebelum S2 di luar, ia menuturkan harus pintar-pintar membagi waktu untuk keluarga kecil dan mempersiapkan rencana studinya. Beruntungnya, sang istri selalu mendukung cita-cita dan karir Fajar.

Saat ini Fajar tercatat sebagai mahasiswa Magister yang tengah duduk di semester 3 di jurusan Environmental Protection, Warsaw University of Life Sciences WULS – SGGW, Polandia. Ia adalah penerima beasiswa Erasmus Mundus, kategori beasiswa Master’s degree program. Selama 2 tahun jalur pendidikan tersebut akan ditempuhnya. Meskipun, anak dan istri tidak menemaninya selama kuliah di Polandia, tetapi hal itu tidak menyurutkan semangat Fajar dalam menyelesaikan studinya. Hal ini justru menjadi pemicu baginya untuk kuliah dengan hasil terbaik. Jika rindu dengan anak dan istri, tentu Fajar langsung menghubungi mereka via video call melalui internet. Ketika waktu libur tiba, sesekali Fajar pun pulang ke Indonesia untuk bertemu keluarga kecilnya itu.

Pria alumni jurusan Argotek Untad angkatan 2008 ini memilih Polandia, negara republik di bagian Eropa Tengah sebagai negara tujuan studi bukan tanpa alasan. Dia sudah jatuh hati pada Polandia, karena sebelumnya telah mengikuti program pertukaran pelajar ERASMUS+ Action 2; ALFABET selama 10 bulan. Fajar menjelaskan bahwa berkuliah Polandia memberikan banyak manfaat buatnya. Posisi Polandia yang berbatasan dengan Jerman di sebelah barat Perbatasan Oder-Neisse, Ceko dan Slowakia di sebelah selatan, Rusia (Kaliningrad), Lituania di sebelah timur laut dan Belarus serta Ukraina di sebelah barat (Garis Curzon), tentunya adalah hal yang sangat menarik baginya.

Tinggal dan belajar di Polandia merupakan pengalaman yang sangat berharga. Di Polandia, ia bisa melihat bagaimana typikal eropa yang sedang berkembang dan berubah dari sisi karakter dan kebiasaan penduduknya. Hal ini dapat terlihat dari perbedaan yang sangat mencolok antara generasi muda yang sangat terbuka dan generasi tua yang masih sangat tertutup. Sementara dari sisi pendidikan, sistem dan kualitas pendidikan yang  disediakan, bisa dikatakan universitas di Polandia merupakan pilihan yang baik bagi pelajar yg ingin meneruskan studi khususnya di bidang ekonomi, agriculture dan di bidang lingkungan.

Tinggal di luar negeri tentunya tak sekedar mengecap manisnya saja, akan ada banyak tantangan yang dihadapi, dan itu harus adanya penerimaan sepaket, segalanya harus dihadapi dengan bahagia. Bahasa dan makanan adalah dua tantangan terberat bagi Fajar. “Bahasa polandia menurut saya adalah salah satu bahasa di dunia yang cukup sulit untuk dimengerti dan dipelajari. Selain itu, makanannya yang hanya menggunakan garam (salt) dan merica (pepper) membuat saya rindu dengan makanan Indonesia yang sarat akan bumbu, terutama sambal,” keluhnya.

Pria yang tak hanya ingin sukses di karir saja tetapi juga sukses bahagia dalam keluarga kecilnya ini ke depannya bercita-cita ingin menjadi pendidik (educator) dan peneliti (scientific researcher) di bidang lingkungan. Harapannya, segala ide, pengalaman dan teknologi yang ia dapatkan selama di Polandia bisa diimplementasikan di Kota Palu agar lingkungan di Palu menjadi lebih baik.

Teruntuk mahasiswa Untad, terlebih mahasiswa baru, Fajar berpesan kepada teman-teman untuk bermimpi dan bertekad besar. “Dream big and aim big! Persiapkan dirimu dari sekarang. Jangan menunggu kesempatan, tetapi kejarlah kesempatan itu. Tak ada yang tidak mungkin kalau ada kemauan,” tutupnya bersemangat. Untuk komunikasi lebih lanjut, Fajar bisa dihubungi melalui instagram @fajar_joko_santoso atau facebook Fajar Joko Santoso.