Usia 36 : Sebuah Harapan untuk Universitas Tadulako

Muliati Supandi, S.Pd Anggota Forum Lingkar Pena Sulawesi Tengah

Tahun ini, Universitas Tadulako memasuki usianya yang ke 36. Usia 36 tahun bagi sebuah Perguruan Tinggi, tidak lagi tepat dikatakan muda, melainkan harus dipandang sebagai kurun waktu yang cukup panjang dalam proses menapaki sebuah perjalanan yang syarat dengan berbagai rintangan alam, kadang mendaki, kadang menukik dan menurun lalu mendatar, menuju suatu titik akhir tanpa batas untuk menjadi Perguruan Tinggi yang mendapat kepercayaan dari masyarakat dalam mendidik putra-puteri bangsa agar bermartabat serta berguna bagi bangsa dan agamanya.

Jika kita melihat ke belakang, 36 tahun lalu kondisi Universitas Tadulako tidak seperti sekarang yang sudah bisa dibilang mampu bersaing dengan universitas lain, baik dalam skala nasional maupun internasional. Sejauh ini, sudah banyak prestasi dan pencapaian yang didapatkan oleh Universitas Tadulako. Ini semua berkat kerja keras dan kerjasama yang baik dari seluruh civitas akademika untuk mencapai suatu tujuan. Dengan segala prestasi yang telah diraih, kini saatnya Universitas Tadulako menjembatani, menjadi solusi bagi persoalan bangsa Indonesia. Sesuai dengan tema yang diangkat pada dies natalis tahun ini, Kerja Bersama Satu Untad, Satu Nafas, Satu Keluarga Menuju Untad yang unggul dalam pengabdian pada masyarakat.

Saat ini, bangsa Indonesia sedang menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), dimana bangsa luar dapat masuk dengan mudah ke Indonesia. Dengan adanya arus bebas tenaga kerja terampil dapat dipastikan akan terbuka kesempatan kerja seluas-luasnya bagi warga negara dari negara-negara ASEAN karena dapat keluar dan masuk dari satu negara ke negara lain untuk mendapatkan pekerjaan tanpa adanya hambatan di negara yang dituju.

Kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang berlaku mulai akhir tahun 2015 kemarin, memberi peluang sekaligus tantangan dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Diantara kemelut persoalan bangsa, semakin meningkatnya pengangguran yang lulus dari perguruan tinggi menjadi alasan bahwa bangsa Indonesia belum dapat bersaing secara kompetitif dalam MEA. Lulusan-lusan dari perguruan belum mampu bersaing dengan pekerja dari luar. Hal ini, sudah pasti menambah persoalan bangsa Indonesia dimana seluruh aspek kehidupannya banyak dikuasai oleh bangsa luar ketimbang bangsanya sendiri.

World Economic Forum merilis Global competitiveness Report 2015-2016 yang menunjukkan penurunan peringkat daya saing bangsa Indonesia. Indonesia berada pada peringkat ke 37 dari 140 negara.

Kunci keberhasilan dalam implementasi kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah sumberdaya manusia dan pengembangan riset melalui pendidikan yang berkualitas dan berkesetaraan. Indonesia perlu meningkatkan produktifitas dan mutu produk dan jasa untuk tidak saja mampu memenuhi kebutuhan dasar dalam negeri, namun juga berorientasi pada pasar ekspor. Tantangannya adalah bagaimana mempersiapkan sumberdaya unggul yang siap bersaing secara global.

Peningkatan kapasitas dan kualitas suatu bangsa melalui pembangunan SDM yang unggul merupakan tugas bersama dalam menciptakan bangsa yang kuat dan Negara yang makmur. Melalui SDM yang unggul, tangguh dan berkualitas baik secara fisik dan mental akan berdampak positif tidak hanya terhadap peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa, namun juga dalam mendukung pembangunan nasional.

Dalam kaitan ini, terdapat beberapa hal yang harus menjadi prioritas utama dalam pembangunan kualitas SDM antara lain, pertama adalah sistem pendidikan yang baik dan bermutu. Untuk mencapai hal tersebut, maka diperlukan penataan terhadap sistem pendidikan secara menyeluruh, terutama berkaitan dengan kualitas pendidikan, serta relevansinya dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

Daya saing sumber daya manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi yang masih rendah menjadi persoalan serius bangsa menghadapi era pasar bebas MEA. Karenanya, upaya peningkatan daya saing bangsa penting dilakukan.

Tumbuh kembangnya suatu Negara dipengaruhi oleh Perguruan Tinggi dengan kualitas yang baik, agar dapat bersaing secara global dengan negara maju lainnya dalam bidang pendidikan. Sebagai sebuah perguruan tinggi yang melahirkan generasi bangsa, Akademisi Universitas Tadulako di umur yang ke 36 ini harus memiliki 3B, yaitu berdaya saing global, berwawasan kebangsaan dan profetik.

Berdaya saing global

Sebuah perguruan tinggi memiliki peranan penting dalam mempertahankan serta meningkatkan mutu pendidikan bangsa dalam rangka mewujudkan lulusan yang unggul dan kompetitif yang diharapkan berdampak pada peningkatan daya saing lulusan di tingkat global.

Beberapa hari yang lalu kita telah memperingati hari kemerdekaan yang jatuh pada tanggal 17 agustus. Ini seharusnya dijadikan moment untuk berbenah diri. Marilah kita mengisi kemerdekaan dengan komitmen dan semangat untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan serta menciptakan ragam inovasi sebagai bekal bangsa Indonesia untuk mandiri dan berdaya saing di era globalisasi. Bekarya nyata dan inovatif melalui bidang keilmuan masing-masing. Inovasi sangat penting untuk mengantarkan bangsa kita agar perekonomian nasionalnya membaik. Oleh karena itu, perguruan tinggi harus mampu menghasilkan inovasi yang berguna bagi penguatan perekonomian nasional.

Pengembangan inovasi yang dilakukan oleh perguruan tinggi juga harus aplikatif dan secara nyata berkontribusi pada penyelesain persoalan yang ada di masyarakat.

 

Berwawasan Kebangsaan

Esensi pendidikan di kampus adalah untuk menciptakan lulusan yang kompeten dalam bidang akademik, namun sangat perlu juga untuk menciptakan lulusan yang memiliki kemampuan bela negara, sebagai bentuk partisipasi aktif dalam pembangunan nasional. Sebuah perguruan tinggi harus menyadarkan mahasiswa bahwakondisi bangsa Indonesiamasih jauh dari kata maju. Mahasiswa harus terlibat dalam berbagai kegiatan untuk meningkatkan kesadaran bahwa masa depan Indonesia bergantung pada kesiapan pemuda sebagai agen perubahan. Poin-poin penting yang haris ditekankan adalah bahwa setiap Perguruan Tinggi mampu mengembangkan kecerdasan (civic intelligence), tanggung jawab sosial (civic responsibility), serta partisipasi dan kontribusi sebagai warga negara.

 

Berkarakter Profetik

Dalam mendorong budaya unggul yang inovatif, pribadi unggul harus mengedepankan nilai luhur dan budaya maju, memiliki semangat scientific nationalism dan scientific patriotism.  Insan unggul dan berdayasaing perlu memiliki semangat kejuangan, kebangsaan, keberanian dan patriotisme. Semangat tersebut adalah kunci kekuatan dalam menghadapi era global yang sangat ketat persaingannya.  Seluruh elemen perguruan tinggi harus memiliki semangat ini dan menularkannya kepada para mahasiswa agar kita dapat mengejar ketertinggalan dari negara maju.

Kita harus keluar dari kondisi nyaman dan segera masuk ke  zona kompetitif. Kita harus menyadari kemungkinan berjangkitnya penyakit mediokrasi yang sering hinggap di kalangan bangsa-bangsa yang kaya sumberdaya namun tidak memiliki sumberdaya manusia yang mumpuni dalam mengelola.  Sifat-sifat kurangnya empati, kurang kompehensif dalam menilai, terlalu banyak menuntut, dan kedangkalan berpikir haruslah dihindari.  Insan unggul dan berdayasaing global lulusan perguruan tinggi kita harus memperkuat karakternya dengan adab, moral, budaya dan tanggung jawab.

Upaya membangun institusi yang unggul adalah Institusi dengan kepemimpinan yang kuat, tidak hanya sekedar memiliki individu yang cakap, tetapi juga anggota yang berkontribusi, manajer yang kompeten, dan pemimpin yang efektif, serta pemimpin yang mengantarkan kejayaan institusi jangka panjang.

Pemimpin yang sukses dan bertahan lama merupakan pemimpin yang memperhatikan fungsi yang ada yaitu sebagai perintis, penyelaras, pemberdaya dan panutan. Selain itu juga, seorang pemimpin harus mempunyai sifat visioner, berkemauan kuat, mempunyai integritas, memegang amanah, mempunyai rasa ingin tahu, menguasai perubahan, mampu merancang organisasi, memiliki inisiatif, mampu menjaga interdependensi, memiliki standar integritas yang tinggi, dipercaya, senang mendengarkan, dan mendidik kadernya.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here