PENERAPAN HASIL PENELITIAN UNGGULAN STRATEGI NASIONAL (PUSNAS) 2017

PUSNAS Universitas Tadulako lolos seleksi KEMENRISTEK DIKTI 2017. Penelitian dengan dana hibah terbanyak ini diberi judul “Pengembangan pengelolaan tanaman kakao  organik melalaui penerapan mikro-bioteknologi biofertilizer dan biopestisida dalam upaya peningkatan produksi kakao (Theobroma cacao)”.

Dalam menerapkan  penelitiannya tersebut, Dr Umrah MSi sebagai ketua tim peneliti ini bersama Dr Sc agr Yusran SP MP dan Dr Lif Sc I Nengah Suwastika MSc Mlif Sc, serta beberapa mahasiswa bergabung dalam penelitian penyelesaian tugas akhir. Telah melaksanakan kegiatan Pelatihan/sekolah lapang di Kabupaten Sigi yang dipusatkan di Desa Makmur dan Desa Langaleso, yang dihadiri perwakilan kelompok tani kakao dan  Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dari beberapa desa.  Persiapan hingga pelaksanaan pelatihan atau sekolah lapang  tersebut, kemudian  dilanjutkan dengan monitoring dan evaluasi, berlangsung  dari bulan April sampai  Oktober tahun ini.

Saat ditemui di ruangannya pada Jumat (18/08), mantan Wadek Akademik FMIPA tersebut menjelaskan  pada reporter Media Tadulako bahwa banyak hal yang mendorong kegiatan penelitian itu dilakukan. Terutama karena negara ini merupakan negara produsen kakao ke-3 di dunia, saat ini sedang dirundu penurunan produktivitasnya akibat serangan hama maupun kesuburan tanah yang semakin memburuk.

“Indonesia sebagai produsen kakao ketiga di dunia mempunyai kontribusi sekitar 12% terhadap produksi dunia, setelah Pantai Gading dan Ghana. Kakao merupakan salah satu komoditas andalan nasional dan berperan penting bagi perekonomian Indonesia, antara lain mendorong perkembangan agrobisnis dan agroindustri berbasis kakao, serta sumber devisa negara nomor empat setelah kelapa sawit, kelapa lokal dan karet. Namun beberapa tahun terakhir, produksivitas kakao cenderung mengalami penurunan akibat serangan hama dan penyakit tanaman dan penurunan kesuburan tanah sehingga menyebabkan rendahnya kesejahteraan petani kakao,” jelasnya.

Menurutnya, keluhan para petani saat ini belum mendapatkan solusi, sehingga berakibat pada kecenderungan konversi lahan kebun kakao menjadi komoditi lain. Maka untuk meminimalisir dampak tersebut, perlu adanya pelatihan atau sekolah lapang  seperti yang mereka lakukan.

Selain itu, Umrah pun mengungkapkan kegiatan itu juga merupakan penerapan hasil penelitian tahun sebelumnya, yakni produk biofertilizer dan produk Biopestisida. “Fokus kegiatan pada tahun 2017 adalah penerapan hasil penelitian tahun pertama ditahun 2016 yakni produk biofertilizer “Tricho-subur Plus” dan produk Biopestisida “Tricho-protect Plus” melalui pelatihan/sekolah lapang di perkebunana kakao rakyat,” ungkapnya.

Dosen yang dikenal akrab dengan mahasiswanya tersebut berharap agar kegiatan mereka dapat berlanjut dengan lebih baik sehingga dapat menunjang keberlanjutan pendanaan program timnya. “Tim peneliti berharap, kegiatan ini akan berlanjut pada produksi biomassa biofertilizer dan biopestisida, kemudian rancangan perluasan kawasan binaan, kebun percontohan. Pelaksanaan sekolah lapang untuk perlakuan sistem intensifikasi terintegrasi, serta evaluasi indikator capaian hasil, serta rancangan komersialisasi produk untuk menunjang keberlanjutan pendanaan program,” harapnya.

Selain itu, ia juga berharap agar hasil penelitian mereka dapat membantu kebutuhan para petani kakao untuk meningkatkan kualitas hasil panen, untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan sekaligus upaya membina karakter bangsa.

“Potensi pasar dan pertumbuhannya dari aspek produksi biofertilizer dan biopestisida sebagai kebutuhan para petani kakao untuk peningkatan kualitas dan produksi biji, sehingga dapat juga meningkatkan pendapatan masyarakat, serta berpotensi menumbuhkan cluster produksi dalam rangka membina karakter bangsa,” tutupnya.Vv

 

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here