Tiga Dosen Untad Manfaatkan Mikroba Tingkatkan Produksi Pertanian Kakao

“Indonesia dijuluki negara agraris, dengan sebagian besar penduduknya adalah petani sepantasnya Indonesia tidak usah lagi mengimpor beras, gula, kedelai, buah-buahan, daging sapi, dan lain-lain,itulah prinsip yang dipegang Dr Umrah MSi dan timnya untuk selalu meneliti.

Saat ditemui di Dekanat FMIPA, pada Jumat (18/08), Umrah mengungkapkan bahwa ia dan timnya merasa sangat miris melihat lahan pertanian yang semakin gersang akibat menurunnya kesuburan tanah yang disebabkan penggunaan  pestisida dan pupuk sintetik yang kurang bijaksana. Padahal hal tersebut sangat dibutukan para petani untuk meningkatkan hasil pertaniannya.

“Para petani sudah seharusnya menikmati ketersediaan fasilitas dalam upaya memaksimalkan produksi hasil pertaniannya. Namun, ternyata  sebagian besar petani,  tanah mereka semakin gersang oleh penggunaan pestisida dan penggunaan pupuk sintetik yang tidak bijaksana, kelangkaan pupuk yang layak untuk kesuburan tanah, demikian juga harga pupuk yang tidak terjangkau daya beli para petani. Ironis memang,” ungkap dosen Biologi itu.

Ia juga menjelaskan betapa ironisnya negara Indonesia yang kaya akan sumberdaya hayati. Namun, masyarakatnya yang mayoritas petani malah kesulitan memperoleh pupuk yang sesuai kebutuhan. Padahal Indonesia termasuk sepuluh besar negara magabiodiversitas di dunia. Sumber keanekaragaman hayati yang melimpah menjadi asset nasional yang sangat berpotensi untuk dikembangkan dan diberdayakan serta digali manfaatnya bagi kesejahteraan masyarakat.

Lebih lanjut, dosen yang telah beberapa kali mendapat hibah penelitian itu menuturkan bahwa hal tersebut memerlukan peran Perguruan Tinggi, sehingga hal itulah yang mendorong tim peneliti PENPRINAS MP3EI (Penelitian Prioritas Nasional Masterplan  Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) tahun 2017, yang terdiri dari Dr  Ir  Adul Rahim Thaha MP, Dr Asrul SP MP dan Dr Umrah MSi sendiri untuk melakukan penelitian tentang   Optimalisasi peran isolat mikroba lokal (Trichoderma sp)sebagai dekomposer dalam pengembangan pupuk biokompos bentuk sediaan pellet-granul.

Untuk mendukung pernyataan sebelumnya, Umrah juga menjelaskan Trichoderma sp dalam bentuk sediaan pelet-granul tersebut merupakan formula yang sangat tepat dan bersinambung dalam pengembangan teknologi industri pupuk organik yang akan mereka terapkan karena mikroba tersebut akan mereka kembangkan sebagai teknologi probiotik tanah, yang berperanan sebagai dekomposer dan pemacu pertumbuhan tanaman, serta melindungi sistem perakaran dari serangan penyakit akar. Biokompos tersebut diberi nama “Trichosubur Cacao”  sebagai produk Teknologi Tepat Guna dari hasil penelitian MP3EI 2017 mereka.

Dalam upaya penelitian tersebut target yang mereka usung adalah untuk meningkatkan produktivitas tanaman dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani. Karena Mikroba Trichoderma sp memiliki sangat banyak keunggulan.

“Target khusus yang ingin dicapai adalah untuk meningkatkan produktivitas tanaman dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani. Keunggulan jamur isolat lokal adalah lebih adaptif dalam penerapan di habitatnya dalam tanah, inokulum mudah diperoleh dan pertumbuhan cepat serta tersedia sepanjang tahun, tanpa tergantung pada musim, mikroba ini mampu berperanan sebagai penyubur tanah dan memacu pertumbuhan tanaman, produk lokal yang dapat digunakan secara nasional, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk sintetik yang harganya mahal dan berakibat pada penurunan kesuburan tanah dan potensi bahan baku sebagai substrat tersedia secara berkesinambungan,” imbuhnya.

Dengan lancarnya proses penelitian yang mereka lakukan, Umrah dan timnya juga tidak lupa mengucapkan terimakasi kepada pihak-pihak yang telah mendukung mereka, serta ia juga melaporkan bahwa hasil penelitian tersebut telah diterapkan sesuai target.

“Ucapan terima kasih kepada Kemenristekdikti atas dukungan pembiayaan dan Untad atas bantuan sarana serta fasilitas dalam pelaksanaan kegiatan penelitian ini.  Sehingga produk biokompos atau Trichosubur- Cacao dalam bentuk sediaan pellet-granul ini telah mampu  diterapkan pada pertanian tanaman kakao dengan metode Tekno-pori Probiotik Cacao milik petani,” tutupnya.Vv

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here