WORKSOP PERSIAPAN KURIKULUM KKNI, DEKAN FKIP KUATKAN PROSES PEMBELAJARAN INOVATIF

Sabtu(19/8), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)  mengadakan Workshop Peningkatan Perangkat Pembelajaran. Acara yang digelar di ruang Senat Rektorat lama ini guna menindaklanjuti kesempatan replikasi kurikulum pada tahun pertama 2016.

Dr. H. Lukman  M.Hum, selaku Dekan FKIP mengungkapkan bahwa, aapresiasi yang tinggi kepada 80 dosen yang berperan aktif mengikuti workshop tersebut

“Kegiatan ini diikuti oleh 80 Dosen yang merupakan perwakilan dari program studi  yang ada. Saya melihat partisipasi mereka sangat luar biasa, karena dari awal kegiatan  berlangsung hingga akhir jumlah mereka tidak berkurang, dan terlihat sangat antusias,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan,  berdasarkan  penilaian Direktorat Pembelajaran, FKIP memiliki kompetensi untuk terus dikembangkan, hal ini mendapatkan apresiasi  melalui kesempatan mendapatkan peningkatan perangkat pembelajaran.

“Berangkat dari hasil penilaian oleh Direktorat Pembelajaran, dimana FKIP UNTAD masuk kelompok yang cukup bagus dalam hal pelaporan dan produk yang dihasilkan kurikulum. Oleh karenanya, kami mengundang  Ir. Syamsul Arifin M.T sebagai pemateri. Beliau merupakan tim penilai replikasi kurikulum, sehingga panduan yang  diajarkannya benar-benar sejalan dengan yang diinginkan Direktorat Pembelajaran,” jelasnya.

Masih dalam penyampaiannya, kurikulum berorientasi KKNI akan diimplementasikan pada tahun akademik 2017-2018, berlaku untuk semua angkatan. Mata kuliah yang sama akan disetarkan sehingga hanya ada satu kurikulum yang berlaku di FKIP.

“Kurikulum akademik 2017-2018 ini berlaku bagi semua angkatan dengan meakukan penyetaraan mata kuliah yang sama. Salah satu perangkat pembelajaran yang dimaksud, berisi buku ajar yang akan di distribusikan di tiap program studi. Setiap prodi akan didorong membuat minimal 5 buku ajar, isinya tentu saja harus relavan dengan mata kuliah perubahan kurikulum. Harapan kami ini dapat terwujud pada 2018, terlebih jika 1 diantara ke 5 buku tersebut dapat diterbitkan, sehingga tak hanya menjadi buku bacaan internal,” terang dosen sejarah tersebut.

Mengenai buku panduan yang dibuat, ia menjelaskan bahwa bukan satu-satunya sumber yang dijadikan acuan dalam proses pembelajaran. Hanya saja menurutnya,  buku panduan yang dibuat sendiri akan memberikan penajaman  dan arahan yang lebih fokus pada penguasaan materi yang dikehendaki.

Pada akhir wawancara Dr Lukman menyelipkan harapan, agar program peningkatan pembelajaran  akan terus ada kedepannya. Hasilnya diharapkan dapat menginspirasi yang lain.

“Harapan kami, program seperti ini dapat terus berkelanjutan. Hasil terbaik yang kelak diperoleh semoga dapat menunjukan bahwa ini adalah contoh pembelajaran inovatif yang berbasis pada mahasiswa, mereka akan terus  mempelajari materi ditempat dan di lain waktu,” tutupnya .

 

 

 

 

 

 

 

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here