Hidden Curriculum yang Cantik untuk Menjadi Manusia Indonesia yang Baik

: Shofia Nurun Alanur.S.,S.Pd, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan di Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung

Indonesia adalah negara kesatuan sebagaimana komitmen yang sudah dibentuk bersama para pendiri bangsa. Bentuk negara kesatuan dipandang paling tepat untuk mewadahi ide sebuah persatuan bangsa yang majemuk yang ditinjau dari banyak aspek dan latar belakang. Mulai dari perbedaan suku, adat istiadat, RAS, agama bahkan perbedaan ideologi pada setiap manusia.

Pancasila sebagaimana ketika tanggal 22 Juni 1945, dirancang oleh Soekarno hingga terbentuk Piagam Jakarta, yang pada awalnya membuat polemik diantara para penggagas dasar negara. Bagaimana tidak, hanya sebuah kalimat tetapi menimbulkan kontroversi dan dianggap tidak dapat mewadahi kaum minoritas saat itu. Sehingga dengan hati dan jiwa yang bijaksana, Sokerno tampil dan memutuskan untuk menghapus kalimat tersebut dan menggantinya dengan kalimat yang mewadahi seluruh bangsa. Hanya membutuhkan waktu 15 menit, tiga orang penggagas menghasilkan keputusan yang mendamaikan hati seluruh elemen bangsa. Mendamaikan pluralitas yang bisa saja saat itu terjadi kekacauan. Karena apa ? karena hatinya yang begitu kaya dengaan nilai kebijaksanaan dan akan cintanya terhadapTuhan, bahwa negeri ini memang lahir dalam multikulturalisme. Saya yakin, jiwa pancasila sudah dimiliki Soekarno sebelum pancasila itu sendiri lahir pada tanggal 18 Agustus 1945.

Mari kita mengingat, Pancasila yang lima diambil soekarno karena mengingat angka lima sebagai rukun islam yang jumlahnya ada lima, angka lima juga diambil dari tradisi jawa “molimo” yakni ada lima larangan yang tidak boleh dilakukan karena menyalahi etika. Molimo itu adalah pantangan yang terdiri dari maling (mencuri termasuk korupsi), madat (mengisap candu dan mengabaikan akal sehat), main (berjudi dan berspekulasi), minum (mabuk-mabukan dan berfoya-foya) dan madon (main perempuan dan hedonistis). Alasan itulah yang dibentuk sehingga kita memiliki ideologi Pancasila. Bahkan, ketika Soekarno mengusulkan Pancasila, Soekarno sudah menyiapkan Trisila dan Ekasila apabila ada yang tidak menyukai bilangan lima itu.

Bagaimana dengan saat ini ? mari kita melihat kondisi bangsa yang sedang terjadi. Berbagai macam konfrontasi, percekcokan, perselisihan, seperti tidak ada lagi ruang untuk membahasnya dari hati ke hati. Kekacauan saat rapat dewan, penistaaan demi penistaan, saling adu mulut dalam diskusi, bahkan saling lapor melapor. Tidak hanya itu, anak muda tidak jarang melakukan trial by the press atau pengadilan media, menyatakan orang lain bersalah padahal hukum dan pengadilan belum memutuskan. Mengumbar kalimat penuh kebencian di media sosial. Padahal benar atau tidaknya kita belum ketahui. Jarang yang melakukan Presumption of Innocence . Atau berusaha mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Seharusnya tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, kebijakan dan sebagainya hingga jelas benar permasalahannya. Ini adalah akhlaq mulia yang merupakan prinsip penting dalam menjaga keharmonisan dalam pergaulan. Kalaupun itu benar ataupun itu salah, bukankah lebih baik melembutkan kalimat atau membuatnya menjadi positif ? bukankah ketika kita berpikiran positif maka yang positif pasti terjadi ? bukankah tujuan kita untuk membuat semua hal agar terjadi positif ? bukankah tujuan kita semua untuk menemukan kedamaian ? ataukah yang dicari sekarang adalah trend of status agar dikatakan keep up with developments ?

Ada banyak hal yang kita lupakan dari negara ini. Sering kita dengungkan Istilah Jasmerah “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”, semboyan yang terkenal yang diucapkan oleh Soekarno, dalam pidatonya yang terakhir pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966, tetapi apakah kita benar sudah mendalami sejarah ? sekali lagi, mari kita melihat dengan hati. Hati kita memang tidak dapat dirasakan oleh orang lain, tapi sikap dan perilaku kita yang mesti kita hadiahkan kepada orang lain, pribadi yang Pancasila itu. Kita boleh resah dan jenuh dengan segala kondisi bangsa yang carut marut, tetapi kita tidak boleh menyalahkan sepenuhnya kepada yang menurut kita memiliki tugas itu. Tetapi kita semua sebagai warga negara yang dijamin hak dan kewajibannya dalam konstitusi negara, harus mengintrospeksi diri. Sebagaimana dalam kitab Al-Qur’an Surah Asy Syura ayat 30 “dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tangan mu sendiri”.

Boleh jadi yang terjadi juga karena kita belum bisa menyumbangkan sesuatu untuk negara ini. Kita belum mengisi kemerdekaan dengan pengabdian yang sungguh-sungguh. kita mengandalkan “insan politik” sehingga kadang kita merasa lebih cerdas dari orang tua.

Mari mengingat lagi, Soekarno tidak pernah mengatakan bahwa beliau meciptakan Pancasila, tetapi sekedar memformuleerkan beberapa perasaan dikalangan rakyat indonesia yang 80 juta itu. Ia meyakini bahwa lima perasaan itulah yang dapat mempersatukan bangsa Indonesia. Oleh karena perasaan itu pula telah hidup berpuluh-puluh tahun lamanya. Ia meyakini pula bahwa lima perasaan itu diberikan oleh Allah SWT, demikian isi pidatonya pada tanggal 1 juni 1945. Bukankah itu begitu mulia ? sesuatu yag datangnya dari hati, maka akan kembali pula ke hati.

Lima perasaan itu saat ini harusnya kita genggam erat. Kita berupaya untuk menjadikan pendidikan yang berlandaskan pancasila, bukan ajaran pancasila tetapi bermodel liberal ataupun komunis. Lima perasaan itu seharusnya kita dengungkan kembali, mengembalikan jati diri negara kita. Sebagaimana kata Soekarno, kita mendirikan negara Indonesia yang kita semua harus mendukungnya. Semua umat agama, suku dan budaya ada di Indonesia. Semua memiliki hak untuk diakui sebagai warga negara Indonesia. Tetapi juga wajib mematuhi peraturan perundang-undangan negara yang disebut Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 29 UUD NRI 1945 telah menjamin bahwa dalam bertuhan menurut agama dan kepercayaan masing-masing, hendaklah dengan secara leluasa, berkeadaban, dan berkeadilan. Mengedepankan harmoni, berbudi pekerti yang luhur dan sikap saling menghormati satu sama lain. Tetapi dalam menjalankan kebebasan tersebut, kita perlu ingat bahwa kita harus tunduk kepada pembatasan yang sudah di tetapkan konstitusi atau undang-undang sebagai maksud menjamin penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain. Tidak boleh merasa pintar atas kepercayaan orang lain.

Apakah yang sebenarnya lima perasaan itu ? lima perasaan itu adalah kebangsaan Indonesia, perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial dan ketuhanan yang maha esa. Bangsa Indonesia harus selalu menjunjung musyawarah, diskusi. Sebagaimana contoh yang sudah saya sebutkan diatas tadi. Dalam bermusyawarah hendaknya memperbaiki lisan, berbicara menggunakan argumen dan analisis menggunakan fakta, data, konsep maupun teori, jangan membuat sesat orang lain. Apabila jalan musyawarah telah kita tempuh, maka boleh menggunakan alternatif lainnya. Nilai kekeluargaan mesti dibangun, karena sejatinya kita manusia terlahir fitrah dan hanif. Cenderung selalu melakukan kebaikan.

Jikalau saat ini kita sedang berjalan dalam kegelapan, kita hanya harus terus melangkah, sebab kita pasti akan bertemu fajar. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang multikultural yakni harus kita pahami bahwa ada perbedaan antara pemahaman orang lain dan pemahaman kita sendiri. Sebagaimana negara ini berdiri dengan atas  rahmat Allah Yang Maha Kuasa, maka kita harus yakin bahwa agama yang telah dan akan menolong kita sepanjang hidup ini.

Ketika kita menanam yang baik, maka kita juga akan menuai yang baik. Begitu pula siapapun kita, apapun jabatan dan pekerjaan kita, bukanlah masalah harta dan kekayaaan, tetapi kekayaan jiwa yang kita milikilah yang dapat menyelamatkan diri kita, agama kita, bangsa dan negara Indonesia. Jiwa yang bersatu atas nama Indonesia, bukan atas nama negara lain atau kepentingan negara lain. Kalau bangsa kita berhati emas, tak akan bisa dibeli walau oleh saudagar sekalipun. Sebaiknya juga kita tunjukkan Indonesia adalah kaum intelek. Yang memiliki etika amar ma’ruf nahi munkar. Sebagaimana saya sedang menulis ini adalah juga pesan buat diri saya sendiri. Sebagaimana imam Al-Ghazali berkata “semua manusia itu celaka, kecuali yang berilmu. Semua yang berilmu itu celaka, kecuali yang beramal. Dan semua yang beramal akan celaka, kecuali yang ikhlas”.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here