Ida Nur’aeni : Budaya Literasi di Indonesia, Sebuah Rancangan Baru Dalam Dunia Pendidikan

Di banyak Negara, Literasi adalah sebuah hal yang telah menjadi pusat perhatian, termasuk halnya Indonesia. Berbagai macam metode telah dicanangkan mulai dari meningkatkan minat baca hingga menganalisis dan menyaring sebuah kasus. Palu sebagai kota yang sementara berkembang, juga tidak ketinggalan mengambil bagian dalam proses literasi, orang-orang yang ikut serta dalam perkembangan literasi di Palu biasa di sebut ‘Pegiat Literasi’.

 Ida Nur’aeni dalam pengamatannya selaku dosen prodi (Program Studi) Bahasa Indonesia Untad menuturkan rancangan terbarunya bersama beberapa dosen di Kota Malang, merancang konsep baru mengenai perkembangan literasi yang nantinya dapat diterapkan oleh berbagai Universitas se-Indonesia. Konsep yang coba dirancangnya bersama beberapa teman tersebut berupa literasi lintas kurikulum.

“Sudah tiga tahun lamanya saya meninggalkan Kota Teluk ini, mungkin saja banyak hal yang telah terjadi dan membuat saya tercengang. Salah satunya adalah semakin banyak pegiat literasi di Palu. Hal ini menunjukkan Sulteng telah mulai memperlihatkan semangat mengejar ketertinggalannya dalam  hal membangkitkan semangat ber-literasi. Selama saya kuliah di Malang banyak hal baru yang saya dapatkan. Termasuk hal baru tentang perkembangan terbaru literasi di Indonesia. Jika saya amati, telah banyak mahasiswa-mahasiswa maupun masyarakat umum yang mulai sadar akan pentingnya perkembangan literasi, sehingga mulai muncul pegiat-pegiat literasi. Namun sayangnya hal itu baru dikhususkan untuk anak-anak yang duduk  dibangku SMP dan SMA, belum ada metode yang disusun untuk mahasiswa di Perguruan Tinggi. Sehingga saya dan beberapa teman saya mencoba membuat sebuah metode literasi lintas kurikulum, yang dapat digunakan untuk mahasiwa dari lintas prodi. Dan Insyaa Allah ketika studi telah usai dan dapat langsung mengajar kembali, maka saya akan perlahan-lahan mencoba untuk menerapkan metode ini di Untad” pungkas ibu 6 anak itu.

Dengan perkembangan media yang begitu peningkat seperti sekarang ini, berbagai informasi dapat diterima dengan cepatnya, maka perlu adanya sebuah konsep literasi yang membantu masyarakkat dalam menyaring informasi yang diterima, dan dapat memilah mana yang akan dijadian contoh untuk diterapkan dalam kehidupannya.

“Saya melihat dengan perkembangan media informasi yang begitu pesat, tentunya anak-anak kita mulai mengenal yang namanya gadget, lewat sebuah layar inilah, mereka dapat mengakses berbagai informasi serta berbagai situs, jika kita sebagai orang tua kurang pandai dalam masuk di dunia digital mereka maka sulit bagi kita untuk mengontrol berbagai informasi yang mereka terima.  Olehnya kini orang tua harus dituntut lebih pandai dibandingkan anak-anak, hal ini bertujuan untuk mengotrol informasi yang diterima dan mengarahkan prilaku-prilaku social yang dilakukannya agar masih masuk dalam norma-norma yang ada” Harapnya.

Di dunia ini ada sebuah negara yang telah lama mengembangkan konsep literasinya, negara tersebut adalah Inggris. Jika kita melihat negara Inggris sekarang, sangatlah maju dengan berbagai konsep literasinya, dimana mereka sangat fokus dalam hal baca, tulis, dan menuangkan kembali apa yang telah mereka baca. Bahkan di sana kini telah terdapat sebuah program membaca cepat dengan sekali tatap. Di Indonesia sendiri program membaca cepat ini telah mulai di terapkan di kota Bandung, dimana anak-anak diajarkan bagaimana belajar membaca cepat dengan sekali tatap.

“Literasi itu dapat menyangkut beberapa aspek kehidupan, diantaranya aspek dalam berfikir kritis, membaca, berbicara dan aspek mengolah informasi dari berbagai sumber. Nah lewat metode yang kami canangkan ini kami berharap kedepannya masyarakat, khususnya civitas akademika dapat menerapkan literasi yang sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk sekala internasional sendiri ada negara Inggris, jika kita melihat negara Inggris sekarang, sangatlah maju dengan berbagai konsep literasinya, dimana mereka sangat fokus dalam hal baca, tulis, dan menuangkan kembali apa yang telah mereka baca. Bahkan di sana kini telah terdapat sebuah program membaca cepat dengan sekali tatap. Di Indonesia sendiri program membaca cepat ini telah mulai di terapkan di kota Bandung, dimana anak-anak diajarkan bagaimana belajar membaca cepat dengan sekali tatap” Jelasnya.

Berfikir kritis namun tidak anarkis itulah yang diharapkan dapat dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa diberbagai Perguruan Tinggi, sehingga ketika terdapat masalah maka yang duluan diterapkan adalah system komunikasi bukan yang lainnya.

“Konsep yang kami canangkan tersebut ingin membuat mahasiswa kita dapat berfikir kritis namun tidak anarkis, sehingga jika ada sebuah masalah yang di temukan maka hal yang duluan mereka lakukan adalah mendiskusikannya, bukan malah sebaliknya. Interaksi bersama dosen pun termasuk dari salah satu literasi. Maka literasi lintas kurikulum tersebut dirasa penting untuk diterapkan” tutupnya.

 

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here