Yulizar Pramudika Tawil, S.Sos., M.Si. : Dosen Muda Yang Akrab Dengan Mahasiswa

Gayanya santai, ia biasa berbaur dengan kumpulan mahasiswa, berdiskusi, atau sekedar berbincang lepas. Dosen muda Program Studi Administrasi Negara ini dikenal dekat dengan kalangan mahasiswa. Kak Dika, begitu ia biasa disapa mahasiswanya. Di Universitas Tadulako ia mulai mengajar sejak tahun 2014 silam.

Dika memang meminta mahasiswa memanggilnya dekat sapaan kakak, hal itu dimaksudkannya agar mahasiswa tidak canggung dengannya, ia ingin menempatkan diri sebagai seorang pengajar yang mahasiswa bisa segan tapi cair dalam pergaulan.

Selama mengajar, mantan ketua Himan (Himpunan Mahasiswa Administrasi Negara) ini memang berusaha dekat dengan mahasiswa, ia berupaya mengikis sekat dosen-mahasiswa yang kerap membuat mahasiswa segan bertanya. Tak heran, Yulizar kerap dijumpa dalam lingkaran-lingkaran kecil mahasiswa saat jam senggang kuliah.

“Salah satu manfaat yang dapat kita peroleh jika kita, seorang dosen, telah dekat dengan mahasiswa, kita dapat mengetahui apa keluh kesah yang selama ini mereka rasakan, kemudian perlahan memahami situasinya. Selain itu kita juga dapat mendorong mereka untuk meningkatkan kreativitas dalam berkarya, sehingga mereka dapat memaksimalkan waktu muda mereka dengan baik, tentunya tanpa menyampingkan urusan kuliah,” ungkapnya.

Dosen kelahiran Palu 28 tahun silam ini menganggap, tantangan menjadi pengajar ialah, memahamkan materi perkuliahan pada seluruh mahasiswa tanpa terkecuali. “Ini berat, kita mesti bisa menyesuaikan, agar apa yang disampaikan dapat dimengerti dari yang daya tangkapnya lamban, sampai yang cepat menerima,” jelas Dika.

Ia berharap, relasi pertemenan dosen-mahasiswa yang dibangunnya dapat mempermudah transfer pengetahuan di kelas. Dalam setiap mata kuliah yang diampuhnya, Dika akan selalu berusaha mengkondisikan kelas agar tidak berjalan moton.

Menurut Alumni Pascasarjana Untad ini, tantangan terberat yang coba dipecahkannya hingga hari ini ialah, membuat materi perkuliahan yang tidak sekedar dimengerti oleh mahasiswa, tapi juga mampu dipahami dan melekat baik dalam benak peserta didiknya.

“Sejak saya mulai mengajar di Fakultas ini, saya sudah mulai mencobakan beberapa konsep pembelajaran, agar mahasiswa tidak hanya sekedar tau dan mengerti akan materi yang disampaikan oleh dosen, namun dapat pula memahaminya, sehingga materi yang diberikan oleh dosen tidak langsung menguap begitu selesai mata kuliah, namun materi itu masih tetap melekat di memori mereka” terangnya.

Bagaimana cara mengatasi kejenuhan kelas ? pria berkacamata ini punya resepnya sendiri. Ia memaparkan, bila dahulu setiap presentasi yang ia berikan dipenuhi dengan deretan tulisan-tulisan, maka kini ia mencoba memberikan penjelasan dengan gaya yang lebih fresh, slide presentasi biasanya akan ia isi dengan mencoba memberika visualisasi gambar atau bagan-bagan yang dapat mewakili materi yang disampaikan.

“Menurut saya itu terbilang efektif, penelitian juga mengatakan itu, orang akan lebih mudah mengingat gambar daripada sekedar tulisan-tulisan,” jelas Dika.

Selain sebagai dosen, Dika juga terlibat aktif di sejumlah komunitas, bersama teman-temannya ia menginisiasi komunitas Sahabat Beasiswa Palu (SBP). Menurutnya, komunitas ini didirikan sebagai wadah berbagi informasi bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan kuliah menggunakan jalur beasiswa.

“Di komunitas ini kita juga saling menyemangati, berbagi informasi, tentang cara dan hal-hal yang perlu disiapkan untuk mendapatkan beasiswa,” tuturnya.

Hingga kini, komunitas SBP telah mengantar sejumlah orang mewujudkan mimpi-mimpinya ke berbagai tujuan sekolah. “Ada bahkan yang terbang jauh ke Amerika,” cetusnya.

Dika menambahkan, komunitas yang didirikan bersama teman-temannya itu lahir dengan semangat berbagi. Ia percaya banyak orang yang memiliki keinginan kuliah namun terkendala dengan biaya, bagi teman-teman yang seperti ini solusinya adalah beasiswa. “Kita tentu tidak memiliki dana untuk membantu mereka, tapi bukan berarti kita tidak bisa berbagi, kita bisa share informasi, berbagi pengalaman, atau saling memberi semangat. Karena menurutku, hidup itu berbagi. Dengan berbagi banyak hal dapat terselesaikan.”

Bagi  Dika, semangat mengejar beasiswa bukanlah semata-mata semangat untuk mengejar dunia, ia menekankan bahwa mengejar beasiswa adalah untuk menambah pengetahuan dan pengalaman yang harus kembali pada masyarakat.

“Pada teman-teman saya selalu bertanya, apa tujuan kalian mendapatkan beasiswa ? Untuk pamer kah, atau untuk kembali mengabdi? yang paling penting adalah bagaimana kita fokuskan niat kita. Saya selalu berpesan, bagaimana gelar itu bisa bermanfaat bagi orang lain, bagaimana gelar itu dapat mengantarakan kita ke syurga-Nya.” (wrd)