BEDAH BUKU KARYA DOSEN FMIPA UNTAD, PERINGATI 90 TAHUN AIR LAUT BERDIRI

(4/12), Memperingati 90 tahun air laut berdiri di Teluk Palu, digelar bedah buku karya Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetrahuan Alam (FMIPA) Untad, Drs Abdullah MT yang bekerjasama dengan BPBD Provinsi Sulawesi Tengah.(4/12), Memperingati 90 tahun air laut berdiri di Teluk Palu, digelar bedah buku karya Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetrahuan Alam (FMIPA) Untad, Drs Abdullah MT yang bekerjasama dengan BPBD Provinsi Sulawesi Tengah.
Buku berjudul “Tsunami di Teluk Palu dan Sesar Palu Koro” itu disusun oleh Drs Abdullah MT atas kesadarannya sebagai pemerhati kebencanaan khususnya di Provinsi Sulawesi Tengah. “Scara khusus, buku ini  kami susun untuk memberikan inbformasi kepada warga kota Palu dan Kabupaten Donggala terkait penyikapan jika sewaktu-waktu terjadi bencana tsunami.” Tuturnya.Drs Abdullah MT dalam bedah bukunya memaparkan, telah banyak persitiwa bencana yang menelan korban jiwa. Karenanya jika terjadi bencana alam, langkah utama yang diambil untuk menyelamtkan nyawa adalah mengungsi. Namun sebgian besar masyarakat mengungsi dengan cara yang tidak tepat dan memilih tempat mengungsi yang tidak tepat. “ Paparnya.“Ketika terjadi gempa Bora Senin 24 Januari 2005 sekitar pukul 04.00 WITA dengan episentrum 16 km sebelah tenggara Palu, kedalaman 33 km, dan magnitudo 6,2 SR yang disertai 2 gempa susulan 30 menit berikutnya. Saat itu berdedar  isu tsunami. Sebagian besar warga Palu mengungsi dengan caranya masingh-masing menuju ke tempat yang mereka anggap aman dari jangkauan tsunami, bahkan warga yang rumahnya jauh dari pantai  juga ikut mengungsi. Ada yang mengungsi sejauh mungkin dari pantai dan ada pula yang menuju ke lereng perbukitan di sekitar.” Papar Drs AbdullahDrs Abdullah MT mengatakan, tindakan warga yang mengungsi sejauh mungkin dari pantai merupakan tindakan yang keliru, melihat topografi wilayah yang tidak memungkinkan arus tsunami menyapu seluruh wilayah Kota Palu. Cara tersebut hanya membuang tenaga, waktu dan biaya. Begitupun warga yang mengungsi ke lereng perbukitan. Tindakan ini tidak menjamin keselamatan atau bahkan sebaliknya, hal itu justru akan membahayakan keselematan. Dikarenakan adanya gempa susulan yang dapat memicu longsor di wilayah perbukitan tersebut. Buku karya Drs Abdullah MT ini juga memuat berbagi informasi terkait bencana, sumber-sumber gempa tektonik, penjelasan seputar karakteristik geo-hidrodinamika Teluk Palu serta gempa yang dapat membangkitkan gelombang tsunami.Mengenai “air laut berdiri” menurut Drs Abdullah, merupakan penggambaran mengenai besarnya air laut ketika terjadi tsunami yang terjadi sekitar 90 tahu lalu di Teluk Palu.  Kepala Bidang Pencegehan dan Kesiapan BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, Drs Irvan Aryanto, Msi dalam sambutannya mewakili Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Tengah mengungkapkan, air laut berdiri yang terjadi 90 tahun lalu itu tidak terlepas dari aktivitas sesar palu koro.“Air berdiri saat itu pukul 12.37 WITA akibat gempa bumi tektonik yang disebabkan oleh aktivitas Palu Koro. Gempa ini merupakan gempa cukup besar untuk wilayah Palu dan sekitarnya. Hal ini mengakibatkan perubahan pada morfologi pantai dan menimbulakan korban sebanyak 14 orang yang meninggal dan 50 orang yang luka-luka. Lalu ada gempa susulan pada 17 Desember 1927 di parigi. Olehnya itu, kita harus senantiasa waspada. Agar kita bisa meminimalisir korban atau bahkan mencegah adanya korban jiwa.” Ungkapnya.Beda buku ini dihadir oleh Dekan FMIPA Untad, Dr Muhammad Rusyidi Hasanuddin M.Si, Koordinator BMKG Sulawesi Tengah yang juga Kepala Station Geofisika Palu, Petrus Demon Sili Msi, serta dihadiri pula oleh akademisi, tokoh masyarakat dan mahasiswau. Wn

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here