BRM FMIPA UNTAD Latih Kader Ilmuan

Latihan Kader Ilmuan (LKI) kembali diselenggarakan BRM pada Jumat sampai Minggu (08-10/12) di ruang senat FMIPA. Dalam pelatihan yang diselenggarakan untuk melatih kader barunya tersebut, BRM menghadirkan pemateri-pemateri yang memiliki segudang prestasi.

Ahmad Supriadi, selaku ketua BRM menjelaskan bahwa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada LKI kali ini mereka berusaha untuk membuat kegiatan lebih terarah pada bidang riset, sehingga para pengurus kedepannya dapat benar-benar menjalankan tugas BRM sebagai lembaga riset.
“Untuk LKI tahun ini, sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini kita lebih spesifik ke riset. Agar mahasiswa yang masuk di BRM bisa benar-benar menjalankan tugasnya dalam lembaga riset, bukan hanya namanya saja lembaga riset mahasiswa, tapi betul-betul menjalankan tugas sebagai lembaga riset,” jelasnya.
Adi melanjutkan bahwa sebagai pembuktian dan output dari kegiatan tersebut, para peserta LKI diwajibkan untuk mengikuti LKTI dalam beberapa bulan mendatang, dengan harapan agar anggota BRM dapat menunjukkan eksistensinya sebagai anggota dari lembaga riset dengan menunjukkan hasil karyanya dalam bentuk tulisan ilmiah.
Salah satu peserta LKI, Randi Rosihan mengatakan bahwa ketertarikannya mengikuti LKI dan sekaligus bergabung dalam BRM karena cara pengkaderannya yang lebih ke arah kepenulisan yang menurutnya sangat memberikan keuntungan baginya sebagai mahasiswa FMIPA.
“BRM itu bagus, dari segi pengkaderannya saja dia melatih kita untuk lebih banyak menulis sehingga itu yang membuat saya tertarik. Apalagi kita di MIPA cenderung ke riset, nah di BRM kita dibantu bagaimana cara menulis hasil riset secara benar. Kita melakukan riset dan harus ada buktinya dan buktinya itu dalam bentuk karya tulis,” terangnya.
Banyak hal yang ia dapatkan dari kegiatan tersebut terutama dalam mengenali potensi diri dan pengelolaan ide. “Setelah ikut, banyak sekali yang saya dapat terutama untuk memperbaiki diri. Apalagi ada salah satu materi bagaimana kita mengenal diri. Kita diajarkan bagaimana mencari tinjauan pusataka dan bahan untuk melakukan riset. Kebanyakan kita hanya memiliki ide tapi tidak kita keluarkan, di BRM kita diajarkan untuk menuangkan saja ide kita,” lanjutnya.
Ia pun mengungkapkan hal yang paling berkesan selama kegiatan tersebut adalah ketika mereka diminta untuk membuat projek dalam waktu yang terbilang singkat. “Yang paling berkesan, kita diberi waktu cuma 7 menit dengan anggota kelompok yang cuma sedikit, tapi kita bisa membuat projek, dengan waktu yang sedikit kita diajarkan untuk dapat melakukan banyak hal,” ungkap Randi.Vv

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here