Mahasiswa Untad Kembali Berkompetisi di Lomba Karya Tulis Nasional

Suprianton, Dewi Khotibul Umam dan Ikram, Mahasiswa Program Studi Fisika FKIP yang kembali membawa nama Universitas Tadulako ke tingkat nasional pada Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional Pekan Riset Ilmiah Mahasiswa Nasional (LKTIN PRISMA) 2017 yang diselenggarakan pada  23-24 Desember di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat.  Suprianton, Dewi Khotibul Umam dan Ikram, Mahasiswa Program Studi Fisika FKIP yang kembali membawa nama Universitas Tadulako ke tingkat nasional pada Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional Pekan Riset Ilmiah Mahasiswa Nasional (LKTIN PRISMA) 2017 yang diselenggarakan pada  23-24 Desember di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Dari 567 tim yang mengkompetisikan gagasannya di ajang bergengsi  bertemakan “Optoimalisasi Potensi Daerah dalam Mewujudkan Nawacita untuk Mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs)” tersebut, Tim KTI Untad ini berhasil lolos dan akan bersaing dalam 10 besar, dengan gagasannya terkait “Desain Perangkat Energi Hibrid (Energi Surya Dan Energi Panas) Sebagai Sumber Energi Listrik Alternatif Di Sulawesi Tengah.”  Menurut Suprianton, salah satu anggota tim KTI, gagasan itu terinspirasi dari kondisi di Sulawesi Tengah khususya Kota Palu yang sering mengalami pemadaman lampu akibat dari pasokan daya listrik yang terbatas.“Secara nasional, energi ini sangat dibutuhkan. Dan kami juga melihat kondisi yang ada di Sulawesi Tengah khususnya di Kota Palu, sering mengalami pemadaman lampu yang diakbiatkan oleh pasokan listrik yg terbatas yang dikarenakan sumber daya listriok yang terbatas. Hanya mengandalkan dari PLN saja. Disamping itu, Palu juga dikenal dengan suhunya yang panas, baik yang bersumber dari panas bumi, maupuun dari matahari. Olenhya itu kita berinisiatif untuk bagaiamana manfaatkan sumber energi alternatif yang kita miliki itu”. Jelasnya.Menggunakan komponen utama termoelektrik, dengan prinsip perubahan energi, Suprianton, Dewi Khotibul Umam dan Ikram, mengubah energi air panas bora dan enegri panas matahari di Kota Palu menjadi sumber energi listrik alternatif bagi masyarakat yang dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari.“Komponen utama yang kami gunakan adalah termoelektrik. Baiasanya diguanakan sebagai pendingin minuman. Namun, dalam hal ini kami ubah fungsinya yaitu sebagi komponen peubah dari energi panas menjadi energi listrik. Ide ini bisa dikembangkan sebagai sumber energi listrik alternatif sederhana yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat bisa untuk memenuhi keperluan sehari-hari”. Papar suprianton.Dalam tes awal yang dilakukan selama 14 jam pengamatan, mulai pukul 10.00 sampai 24.00 WITA, desain energi hibrid ini mampu menghasilkan tegangan rata-rata 13 Volt. Gagasan Suprianton bersama tim yang mewakili Universitas Tadulako bersaing dengan 10 perguruan tinggi ternama di Indonesia, diantaranya Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Wn

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here