Penulis Muda Palu Berbagi Tips Menulis

Jumat (15/12), Notesa Bookstore menyelenggarakan Talkshow Inspiratif bertajuk “Membagi Kisah, Membedah Karya” di Theater Room Untad. Talkshow yang dipandu Syarifah Suad Saleh Al Idrus, mahasiswi Pendidikan Biologi 2014 sebagai moderator ini menghadirkan tiga penulis muda Kota Palu yang juga merupakan mahasiswa dan alumni Untad, yakni Ikhwan Amirul Sunandar (Pendidikan Biologi 2014), Tari Akbar (PPKN 2012), dan Ari Fahry (Alumni Ilmu Komunikasi 2007). Dalam acara tersebut, ketiganya berbagi kisah serta tips-tips seputar dunia kepenulisan.

Ikhwan Amirul Sunandar atau Amirul Saad mengungkapkan bahwa ketertarikannya di dunia kepenulisan berawal dari kegemarannya membaca novel, hingga kemudian Amirul mencoba untuk menekuni dunia tulis-menulis.
“Saya sangat mencintai novel. Bahkan kalau misalnya ada uang saku saya lebih memilih menghabiskannya di toko buku. Jadi dari gemar membaca itulah dengan sendirinya saya bisa merangkai kata itu, karena banyak kosa kata yang ternyata saya temukan ketika membaca,” ujar Amirul.
Amirul menambahkan, buku karyanya yang berjudul ‘Esok’ merupakan rangkuman tulisan-tulisan di blog pribadinya, “Awalnya saya juga tidak ada ketertarikan untuk membuat sebuah buku, karena saya menyalurkan hobi lewat tulisan-tulisan saya di blog. Dan ternyata setelah blog saya itu banyak yang kunjungi dan diberikan saran bagaimana kalau tulisan-tulisan ini dirangkum dalam sebuah buku. Hingga jadilah karya ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Tari Akbar dengan nama pena Si-Fatra, bercerita tentang kendala yang dialaminya selama menjadi penulis. Fatra menuturkan bahwa genre tulisan yang diambilnya kurang menarik di pasaran. Namun, poin yang paling penting menurutnya ketika menghasilkan suatu karya itu adalah memunculkan kecintaan terhadap menulis. “Secara ide tulisan genre yang saya ambil adalah yang paling susah laku di pasaran. Tapi menurut saya poin yang paling penting itu adalah mampukah kita bertahan, bahwa karya itu sebaiknya yang dimunculkan adalah kecintaan terhadap menulis,”
Meskipun begitu, lanjutnya, jika diberi kesempatan untuk berkarya kembali, ia menyatakan akan tetap konsisten dengan genre yang diambilnya, bukan untuk komersil melainkan untuk diri sendiri, “Karena feel berkarya ini sudah tidak didapat lagi kalau komersil, orang sudah harus dituntut. Saya bukan menolak suatu ide, Tapi mengikuti pangsa pasar sekarang ya sudah ikuti saja Boy Chandra dan lain-lain insya Allah akan laku, tapi bagaimana dunia kepenulisan itu dikembalikan kembali. Kalau saya itu tadi saja, untuk diri sendiri,” ungkapnya.
Selain Amirul dan Fatra, penulis buku Kopi Pahit di Pantai Palu yang Manis, Ari Fahry juga bercerita mengenai buku yang ditulisnya. Ari berujar bahwa karyanya tersebut berawal dari postingannya di instagram. Menurutnya, masih banyak hal menarik yang bisa dieksplorasi di kota Palu untuk ditulis.
Berkaitan dengan kendala menulis, Ari mengatakan bahwa hambatan terbesar dalam menulis adalah kurangnya rasa percaya diri untuk mempublikasikan karya. Untuk itu, ia berpesan agar para penulis harus lebih banyak membaca, serta tetap berlatih menulis.
“Sebelum menulis kita harus punya banyak bacaan dulu. Kalau bagi saya tips menulis itu ada tiga, pertama menulis, kedua menulis, dan ketiga menulis. Menulis saja lalu edit kemudian. Itu tips yang paling klasik sekali untuk menulis,” tutupnya. Nr