Fahri, S.Si., M.Si, temukan Speasis baru Cacing Tanah

Mengawali tahun 2019, Media Tadulako berkesempatan bincang-bincang bersama  Fahri, S.Si., M.Si, dosen Jurusan Biologi FMIPA Untad, yang menemukan speasis baru cacing tanah pada penelitiannya. Dosen muda itu berhasil menemukan cacing jenis baru yang dapat menjadi acuan di bidang Pertanian, Farmasi dan Kedokteran.

  • Mengapa bapak memilih cacing untuk diteliti?

Jadi pada akhir 2017 kami melakukan riset di Gunung Torompupu, dalam riset tersebut kami mengoleksi hampir semua hewan. Semua tim peneliti dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengtehauan Indonesia) sudah mengcover semua taksa atau hewan yang akan diteliti, khusus untuk cacing tanah saya dan tim yang bertanggung jawab untuk mengkoleksi fauna tersebut. Di Gunung Torompupu, kami mengkolesksi satu jenis cacing tanah yang ukurannya sekitar lebih dari 30 cm dengan diameter 1,5 cm. Kemudian kami melalukan koleksi sampel di Luwuk dan mendapatkan spesies baru, lalu di Gunung Nokilalaki dan Gunung Toro kami mengambil koleksi sampel spesies cacing tanah yang besar berwarna biru dengan diameter sekitar 2 cm dan panjangnya sekitar 4 cm.

  • Sejauh penelitian yang bapak dan tim lakukan, sudah berapa speasis cacing yang ditemukan?

Cacing tanah sulawesi yang sudah dilaporkan sebelumnya hanya 11 spesies, dalam kurun waktu lebih dari 100 tahun lalu dan sekarang kami bekerja dalam kurun waktu tiga tahun sudah melaporkan 7 spesies baru. 4 spesies baru ditahun 2017 dan 3 spesies baru ditahun 2018. Tiga diantaranya adalah Pithemera suwastikai Fahri, Amaliah & Atmiwidi sp. n., Pithemera tadulako Fahri, Amaliah & Atmiwidi sp. n., Metaphire rusydii Fahri, Amaliah & Nguyen, sp. n.

  • Kalau dilihat dari nama cacing ini, ditambahkan nama peneliti, mengapa demikian?

Nama yang kami sematkan pada spesies tersebut merupakan dedikasi dan rasa terima kasih kami kepada orang-orang yang telah memberikan dukungan serta tempat untuk kami selama penelitian ini.

 

  • Butuh waktu berapa lama menentukkan fauna tersebut sebagai spesies baru dan menjadi jurnal?

Setiap spesies itu beda tantangannya, kami punya waktu berbulan-bulan untuk menentukan satu genus yang akan menjadi spesies baru. Pada genus Polyperetima, jenis ini sudah pernah dilaporkan hal ini sangat memudahkan kami untuk menentukkannya dengan waktu 2 sampai 3 bulan. Sedangkan untuk genus Pithemera dan Metaphir kami membutuhkan waktu selama 6-7 bulan untuk memutuskan apakah dia spesies baru atau bukan karena genus Pithemera dan Metaphir ini belum pernah dilaporkan ada di Sulawesi sebelumnya karena referensi atau jurnal yang kami butuhkan masih kurang untuk genus Pithemera dan Metaphir.

Untuk menjadi sebuah jurnal, saya dan tim membutuhkan waktu yang lama mulai dari proses seleksi, sortir, identifikasi, deskripsi, menggambar dan menyusun menjadi sebuah tulisan atau jurnal. Normalnya jurnal yang diriview oleh pembaca itu tiga tahun baru di accepted, akan tetapi jurnal yang kami tulis itu publish lebih cepat dari perkiraan yaitu sekitar satu tahun. Jurnal tersebut terbit di Jurnal Internasional yaitu ZooKeys yang terindeks Schopus reputasi Q2.

  • Apa sih, pentingnya mempelajari fauna?

Nah, sebenarnya secara umum masih keanekaragaman hayati di Sulawesi bukan hanya cacing seperti hewan-hewan tanah yang lain seperti serangga tanah begitu juga hewan-hewan air karena Sulawesi terdiri dari beberapa gunung dan kemungkinan gunung itu berasal dari proses geologi yang berbeda sehingga potensi untuk mendapatkan spesies baru itu sangat besar. Maka dari itu pentingnya peran ilmu pengetahuan untuk mengungkap keanekaragaman flora dan fauna yang masih tersembunyi di Sulawesi pada umumnya.

 

Kalau secara spesifik bagi orang yang melihat bahwa ada orang yang bekerja cacing tanah atau  bekerja taksonomi itu mungkin kurang menguntungkan atau berdampak ekonomi bagi sebagian orang. Akan tetapi,  penelitian taksonomi dasar atau mengungkap spesies baru itu ialah pintu gerbang bagi peneliti-peneliti lain seperti dibidang pertanian karena dibidang pertanian itu sangat penting untuk mereka ketahui bagaimana nutrisi atau hara tanah bisa ditingkatkan salah satunya dengan menggunakan cacing tanah kemudian dibidang kedokteran dan farmasi karena banyak hewan-hewan yang bisa di isolasi senyawa aktifnya untuk dijadikan bahan obat seperti itu jadi sangat besar peluang untuk riset masa depan jika jenis-jenis tersebut sudah diungkap atau sudah dideskripsi sebagai jenis baru.

  • Apa yang menjadi motivasi bapak untuk bekerja dibidang taksnomi cacing tanah ini ?

Sebelum berkecimpung pada taksonomi cacing tanah, saya lebih dahulu belajar mengenai taksonomi serangga. Akan tetapi, taksnomi serangga itu sangat complicated dan sudah banyak yang melaporkan mengenai serangga Sulawesi lebih dari 100 tahun lalu yang belum direvisi menjadi satu tulisan sehingga masih tumpang tindih antar beberapa jurnal dan itu merupakan masalah taksnomi serangga.

Jadi saya mencoba hal baru yang belum dikerjakan orang yaitu cacing tanah. Dulu waktu saya S2 sempat membantu seorang mahasiswa doktor yang mengoleksi cacing tanah, berangkat dari situ saya berusaha belajar secara otodidak mengenai cacing tanah sampai sekarang dan mengungkap 7 spesies baru.

  • Apa harapan bapak terhadap penelitian ini ke depannya?

Jadi harapannya bahwa penelitian ini tidak hanya sampai disini jadi kami masih punya mimpi-mimpi besar untuk mengoleksi diseluruh wilayah Sulawesi dan Indonesia diwilayah wilayah yang tidak tersentuh oleh manusia seperti dipuncak gunung,  di dalam goa atau di dalam hutan kami menargetkan untuk bisa koleksi sampai disana. Harapan besar kami dan juga prediksi kami cacing tanah sulawesi itu seharusnya lebih dari 200 atau 300 spesies dan saat ini kami baru melaporkan 7 spesies harapan kami ialah kami bisa mendeskripsi sekitar 200 spesies lagi sebelum pensiun dan harapan yang dengan penelitian kami ini semakin banyak mahsiswa yang tertarik untuk bekerja cacing tanah dan ada peneliti-peneliti dari bidang lain seperti pertanian dan farmasi yang ingin berkolaborasi dengan kami untuk riset cacing tanah apakah itu dampaknya bagi kesuburan tanah atau cacing tanah sabagi obat kami sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan peneliti-peneliti baik di universitas tadulako maupun universitas lain bahkan dunia internasional. Sr

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here