Insiasi Komunal Sukses di Bumi Paneki

Komunitas Mahasiswa Antropologi (Komunal) FISIP gelar “ritual” penyambutan mahasiswa. Kegiatan yang diberi nama Inisiasi i­­­­­­­­­­­­ni merupakan acara tahunan sebagai bentuk pengsakralan mahasiswa baru yang akan bergabung dengan komunitas Antropologi. Sudah menjadi tradisi seluruh mahasiswa Antropologi yang tergabung dalam Jaringan Kekerabatan Antropologi Indonesia (JKAI) dari seluruh kampus diwajibkan mengikuti acara pensakralan semacam ini. Mahasiswa yang telah mengikuti Inisiasi kemudian dinyatakan sah sebagai seorang Antropolog di komunitas JKAI.

Walau tak semeriah di tahun-tahun sebelumnya akibat bencana alam yang melanda Palu. Kegiatan yang dilaksanakan di Bumi Perkemahan Paneki, Pombewe Kamis – Ahad (10-13/1) ini tetap berlangsung penuh khidmat dalam nuansa kekeluargaan civitas Antropologi. Selain dihadiri oleh Alumni Antropologi, acara ini juga dihadiri Mahasiswa Antropologi dari universitas tetangga, Unhas.

Efrianti Mahasiswa Antropolgi Unhas itu mengaku sangat bahagia bisa ikut bersama-sama dalam kegiatan yang sejatinya juga rutin setiap tahun dilakukan di kampusnya. “Ini adalah kesempatan yang sangat langka bagi saya bisa bersama-sama tema-teman di Tadulako. Walau berasal dari Unhas, saya merasa seperti berada di lingkungan keluarga sendiri,” tuturnya.

Efrianti menambahkan, dengan kehadirannya dalam kegiatan tersebut ia bisa melihat hal-hal positif yang bisa ia bawa ke Makassar nanti. “Saya melihat ada hal-hal baik yang bisa kami contoh untuk saya bawa pulang ke Unhas nantinya,” tutup mahasiswa angkatan 2015 ini.

Kegiatan yang dilaksanakan selama 3 hari ini ditutup dengan acara malam budaya. Di acara malam budaya itu, masing-masing mahasiswa yang telah dibagi ke dalam beberapa kelompok menampilkan atraksi seni, baik musik, tari, drama, dan sebagainya.

Ketua Program Studi Antropologi M Junaidi, MA dalam sambutannya saat menutup acara tersebut mendorong agar acara-acara kemahasiswaan semacam ini terus ditingkatkan. “saya kira kegiatan seperti ini memang harus tetap dipertahankan agar mahasiswa bisa belajar bagaimana berorganisasi, karena memang pada dasarnya pembelajaran seperti ini tidak akan ditemukan di bangku perkuliahan,” jelasnya. (AF/NIK)