POLITIK MENGGELITIK MAHASISWA

Pesta politik demokrasi sebentar lagi mencapai puncaknya di bulan April 2019 mendatang. Pemilu yang diadakan setiap 5 tahun sekali itu selalu diwarnai oleh bumbu-bumbu pedas menjelang pelaksanaannya. Tidak sedikit masyarakat menjadikan momen tersebut sebagai ajang kompetisi untuk mendukung kubu sang jagoan. Baik dengan angka maupun tunjuk jari adalah semiotika yang menunjukkan keberpihakan mereka.

Salah satu media yang digunakan untuk menunjukkan posisi mereka sebagai pendukung adalah sosial media sekaligus menjadi sarana komunikasi yang digunakan pendukung militan capres-cawapres. Tidak hanya pendukung nomor urut 1, nomor urut 2 pun juga demikian. Bagi sebagian besar pendukung militan yang mengorasikan dukungannya, sosial media dinilai mampu menggiring opini publik. Entah untuk meraih simpati masyarakat awam, menaikkan citra elektabilitas hingga menyudutkan lawan dengan berbagai strategi dan trik.

Menunjukkan  kontribusi terhadap masyarakat, menyodorkan ide, gagasan yang akan menjadi program capres-cawapres pilihannya baik dalam bidang ekonomi, infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan sektor lainnya, merupakan cara-cara terhormat yang disodorkan baik pihak pendukung maupun yang didukung, melalui media daring. Sebaliknya, cara-cara kotor juga tak luput ditampilkan di ruang maya atau pun media massa seperti televisi dan media cetak.

Sebut saja, perkara saling serang dengan kata-kata yang menyudutkan bahkan tidak jarang fitnah tanpa data, yang seringkali berujung hoax dan tak mendidik. Selanjutnya, menarik suara dengan uang, adalah rahasia umum yang tidak mendidik dari upaya politik praktis yang dilakukan pihak-pihak tertentu. Ini bukan hal baru. Di zaman serba cepat ini, semua keburukan semacam itu, sangat mudah terekspos bebas di sosial media. Hal-hal yang disebutkan tadi seringkali menjadi bahan pemicu perang antar kubu di ruang maya.

Para pendukung fanatik semacam ini, biasanya tidak saja datang dari kalangan manusia gagap kabar yang mudah menshare atau berkomentar tanpa pikir panjang. Tidak jarang, di ruang-ruang obrolan publik di sosial media, fans militan macam ini diisi pula oleh barisan orang-orang berpendidikan yang seharusnya pandai menelaah dan memfilter berita.

Terkontaminasinya orang-orang terdidik untuk ikut memberi bumbu pada kegiatan politik praktis, terlebih pada pesta demokrasi tahun ini, disinyalir telah merambah pada elemen penting di negeri ini. Mahasiswa adalah elemen penting yang dimaksudkan penulis. Keterlibatan mahasiswa dalam politik praktis terasa kurang elegan untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Mereka, mahasiswa yang tidak sadar akan perannya. Tidak heran jika seringkali ditunggangi untuk kepentingan tertentu. Seperti partai dan golongan tertentu yang menginginkan adanya kerusuhan, dan lainnya yang seringkali tak terkendali.

Padahal sejatinya, keberadaan mereka sebagai aset bangsa berfungsi sebagai penyambung aspirasi dan penyampai pesan kritik tentang kondisi masyarakat awam yang biasanya merasakan ketidaksejahteraan akibat kebijakan rezim penguasa. Posisi mereka sudah tidak lagi ideal sebagai “agent of change” karena tindak tanduknya berbau kepentingan, beralih menjadi agen-agen politik. Sungguh sangat disayangkan.

Tidak ada yang memungkiri bahwa peristiwa reformasi berpusat pada gerakan mahasiswa nusantara. Semua energi dicurahkan hanya untuk kesejahteraan rakyat. Kecerdasan dan suaranya tak bisa dibeli dan dibungkam oleh kediktatoran. Pola pikir mahasiswa selalu mengarah kepada perubahan positif, dengan tekad berani menolak intervensi mereka bersuara lantang dihadapan hidung rezim, menuntut agar kebijakan selalu mendahulukan nasib umat yang sudah lama tersakiti. Itu peran mahasiswa, itu mahasiswa dulu.

Tidak habis diperbincangkan, kelakuan beberapa oknum mahasiswa hari ini seringkali mencoreng nama mahasiswa secara umum, dengan muncul di berita, mereka mengatakan itu sebagai bentuk kontribusi nyata, sayangnya fakta sering mengungkap bahwa motif yang dikatakan itu dusta, selain ingin dikenal dan menumpang nama, pasti ada udang di balik itu semua, mengorbankan isi kepala hanya demi meraih rupiah dan media.

Ini seruan untuk mu yang menyebut diri  “Mahasiswa”. Kembalikan fungsimu dahulu dengan niat ikhlas membantu mencerdaskan generasi muda, membawa perubahan dengan melakukan pemberdayaan pemikiran bangsa, ingatlah bahwa setiap kepemimpinan rezim punya corak janji kepentingan semata. Sudah menjadi tugasmu membongkar kebobrokan kebijakan-kebijakan selama ini yang polanya selalu sama. Sibuklah memberi pencerahan di tengah-tengah masyarakat tentang arti politik yang membawa sejahtera, bukan malah sibuk memakan umpan-umpan politik yang disebarkan oleh masing-masing kubu dengan janji manis kata-kata, sampai-sampai kau menceburkan diri dalam kubangan lumpur kemudian menjadi korban politik yang tak tertata.

Bangkitkan suara dan kekuatanmu wahai mahasiswa, tegap berdiri sebagai representasi pemuda pilar-pilar negara bangsa, sungguh kelak kau akan diberikan tanggung jawab berat, menjadi pemimpin juga mengontrol jalannya perubahan. Belajarlah dari sejarah kesalahan pendahulu-pendahulumu agar tak berulang dan jatuh kedalam lubang yang sama. Manfaatkanlah waktumu yang tengah muda, yang juga adalah puncak kekuatan diantara dua kelemahan periode usia. Sehingga terciptalah semua cita-cita bangsa dengan kontribusi penuh dari para penggerak peradaban, menuju gemilangnya masa depan yang pada saatnya nanti bukan lagi mimpi belaka.

*) MUAMMAR IKSAN lahir pada tanggal 26 November 1992 di Bima, NTB. Tercatat juga sebagai alumni Kesehatan Masyarakat di Universitas Muslim Indonesia (UMI)-Makassar. Pengalaman kerja, pernah menjadi tutor  speaking program di Still School course Makassar (2016), Pembina UKS di MTs Alam Sayang Ibu, Lombok Barat, NTB (2017), tutor Speaking Program di Mr.Alex Course Pare, Kediri,  tutor IELTS di ngIELTS course di Jakarta Selatan (2018). Saat ini sedang menunggu untuk melanjutkan studi S2