“Bahagia Melihat Pasien Tersenyum”

Sigit Nugroho Wicaksono, S.Ked, alumni Fakultas Kedokteran, kampus tercinta, Universitas Tadulako, yang diwisuda pada Januari kemarin dengan prestasi sebagai Wisudawan terbaik tingkat profesi, dengan IPK 3.91, yang juga didaulat membacakan kesan dan pesan mewakili ribuan wisudawan lainnya.

Pria kelahiran Toli-toli, 27 Desember 1994 tersebut merupakan sulung dari Anggita Enggar Pangastuti, yang menyelesaikan pendidikan SD hingga SMAnya di kota cengkeh, Toli-toli. Ia menyelesaikan pendidikan dokternya tepat waktu, selama 4 tahun, dan melanjutkan pendidikan profesinya kurang lebih 2 tahun.

Putra dari Wartinem (ibu) dan Ns. Saman, S.Kep., M.Kep (bapak) memilih melanjutkan pendidikan di dunia kesehatan karena termotivasi dari bapaknya yang bekerja sebagai perawat di Kabupaten Toli-toli. Sejak kecil, ia suka melihat bapaknya mengobati orang-orang, dan orang-orang senang. Bapaknya pun tidak minta bayaran.

“Awalnya saya menyukai dunia kedokteran, karena bapak saya perawat. Di kampung kan disebutnya mantri. Di Kampung waktu itu, dokter sedikit sekali. Di Kecamatan saya pas sekali tidak ada dokter, jadi orang-orang datang berobat ke bapak saya. Dan saya lihat, bapak saya tidak pernah meminta bayaran. Bapak saya senyum, dan saya senang melihat orang-orang datang pada bapak saya lalu pulang dan tersenyum juga,” tutur pria berkacamata tersebut mengawali percakapan.

Lelaki yang menyukai dunia travelling dan membaca mengaku ingin menjadi seperti bapaknya, mantri. Tapi bapaknya mendorong anak-anaknya agar lebih dari dirinya. Dari bapaknya, dr. Sigit banyak diberi penjelasan mengenai profesi dokter, yang akhirnya membuatnya membulatkan tekad untuk memilih Kedokteran.

Setelah menjalani status sebagai mahasiswa kedokteran, barulah pria yang memakai jam tangan di pergelangan tangan kirinya itu memahami, jikalau profesi dokter itu profesi yang mandiri, seperti disebutkan dalam undang-undang. Ilmu Kedokteran itu lanjutnya, adalah ilmu sains yang berbalut seni. Karena itu setiap dokter diagnosanya berbeda, meski ada 3 pasien dengan masing-masing keluhannya sama, tapi penanganannya berbeda. Termasuk saat memberi resep obat.

Sebagai salah satu alumni terbaik, penyuka terong balado ini pada awalnya memilih kampus di luar Palu, alias bukan Untad. Ia sempat tertarik mengikuti PMDK di UMM, dan lulus di Bahasa Inggris. Namun, karena ia sudah meniatkan belajar di Kedokteran, ia mengikuti SNMPTN dengan memperhitungkan peluang diterimanya di PTN. Hatinya sempat melirik UGM dan Unhas. Akan tetapi dari olah pikir bersama sang bapak, jika di UGM satu kursi akan bersaing sekitar 300 orang. Tidak jauh berbeda juga di Unhas. Sementara di Untad, satu kursi turut bersaing 20 orang. Sehingga peluang diterimanya lebih besar di Untad.

Sigit sempat ragu, karena saat itu di Untad masih terakreditasi C. Lagi, bapaknya terus memberikan pandangan-pandangan positif. Bahwa ilmu itu dimanapun posisinya pasti sama dengan dimana pun kita berdiri. “Guru SMA saya juga bilang, emas sekalipun ditaruh di ladang arang, akan tetap jadi emas. Dan arang ditaruh diladang Emas, akan tetap jadi arang. Jadi yang menentukan kualitas diri seseorang itu diri kita sendiri, bukan tempat dimana kita berada,” pungkasnya sambil tersenyum.

Berbekal pesan dari orang-orang disekitarnya, dr. Sigit memilih Untad. Opitimis dengan memaksimalkan seluruh yang ia miliki, ia berhasil selesai tepat waktu dan menghadiahi penghargaan untuk kedua orang tuanya. Saat pendidikan dokternya selesai, dan sedang melanjutkan pendidikan profesi, ia terlibat dalam penilaian untuk akreditasi jurusan. Ia dihubungi oleh supervisornya, dan diwawancara bersama beberapa alumni lain. Dua bulan setelahnya prodi kedokteran terakreditasi B.

Dalam perjalanan kehidupannya hingga saat ini, dr. Sigit mengaku lebih dekat dengan bapak dibanding ibu. Tapi baginya ibunya adalah perempuan penyabar yang selalu ia ingat. Ibunya yang kalau melakukan sesuatu harus memiliki orientasi adalah orang pertama yang menegurnya jika ia marah.

“Pernah waktu itu, karena saya sudah ngantuk dan nyetir mobil, mobilnya nabrak garasi, jadinya penyok. Mama marah-marah, mengomel. Katanya saya teledor. Tapi tidak lama saya ngeluh lapar, mama sambil ngomel tetap masak. Dan omelannya tidak mempengaruhi rasa masakannya, tetap enak. Di situ saya sadar, terlebih saat sudah dirantau, kalau mama itu meski kadang marah, cintanya dimana-mana,” kenang Sigit.

Sedang bersama bapaknya, ada pesan-pesan kehidupan yang selalu ia dapatkan. Bapaknya selalu menekankan bahwa nilai itu bukan orientasi. Jangan diburu seperti kebanyakan orang berburu peringkat. Hal itu kemudian melandasi cara pandangnya dalam belajar, yang tidak untuk dirinya sendiri.

“Saya belajar untuk pasien. Karena menjadi seorang dokter itu bukan hanya persoalan profesi atau pekerjaan kita ke depan, tapi kita akan berhadapan dengan orang. Bahkan ada beberapa orang mengatakan dokter itu penghubung antara kematian dan kehidupan seseorang. Makanya belajarlah untuk pasien. Karena akan terjadi kecelakaan kalau, kita hanya mengejar nilai. Mengejar nilai itu mudah, belajar semalam selesai. Semua orang bisa.”

Selama menjadi manusia pembelajar, dr. Sigit pernah mengalami beberapa kali masa-masa sulit. Akunya, setelah ia hitung-hitung tiga kali ia merasa berada dititik sulit, tapi tidak sampai pada titik nol. Karena ia punya support system yang bagus, keluarganya.

Semua mahasiswa kedokteran punya titik jenuhnya masing-masing. Hal itu dirasakan dr. Sigit saat memasuki semester yang sudah fokus pada bidang Kedokteran. Ada semacam shock, karena dalam sehari, ia masuk tiga lab dan dua hari kemudian laporan sudah harus selesai. Sehingga pastinya, kurang tidur, dan itu berlangsung kurang lebih selama tiga bulan. Saat ujian semester ia malah drop, dan tidak fokus belajar dan mendapatkan nilai C. Ia mengejar lagi, karena ingat SPP yang lumayan tinggi, dan untuk kelanjutan studinya.

“Akhirnya saya kembali lagi ke prinsip, banyak belajar lagi. Saya ikut remedial. Meski tidak dapat A, tapi bisa dapat B. Itu yang pertama. Yang kedua, saat jadi coas. Susah-susahnya di pendidikan dokter, bagi saya lebih sulit saat jadi coas. Tapi syukurnya dapat saya lewati.

Yang ketiga saat gempa. Saya resmi menyelesaikan coas bulan September minggu kedua. Mau siap-siap ujian pada November, tapi sudah gempa. Komputer untuk ujian semua rusak. Saya dan teman-teman yang selesai pada periode itu, sudah pasrah untuk masalah ujian. Kalau tidak bisa ujian, mau di apa. Saya dan teman-teman ke Undata untuk jadi relawan medis. Tapi setelah kabar tidak ada ujian, kami dikabari lagi, bahwa ujian dilakukan di Unhas. Kami agak sanksi, antara pergi atau tidak. Karena pasti beda, ujian di rumah sendiri atau di rumah orang. Karena pengujinya juga beda. Tapi akhirnya berangkat juga, tinggal di rumah teman kurang lebih sebulan. Dan paling membahagiakan itu saat balik di November akhir, kita lulus. Itu suatu kesyukuran sekali. Saya bangga sekali, karena saya lagi-lagi membuktikan kualitas diri kita sendiri yang menentukan,” jelasnya yang lebih menyukai destinasi gunung daripada pantai.

Diakhir bincang-bincang sore itu, Sigit menyampaikan bahwa yang terpenting dalam dunia kedokteran itu adalah attitude