Dosen Untad Raih The Best Articles Muslim ASEAN

Keterangan Foto: Wahyuningsi. Foto: Dok pribadi

AMCA (Association Moslem Community in ASEAN), kembali menggelar kegiatan tahunannya memilih The Best Articles dari negara-negara ASEAN. Pengumuman artikel terbaik disampaikan melalui website resminya, pada Selasa (29/01).

Dalam pemilihan The Best Article yang diselenggarakannya kali ini, AMCA menetapkan  6 artikel terbaik, dengan awardees berturut-turut, Wahyuningsih et al., Retno Susilowati et al., Istiana Rahatmawati dan Sri Muryantini, Sukarsono, Lili Dahliani dan Maya Dewi Dyah Maharani dan Aman Suyadi.

Pada pelaksanaan International conference on Community Develoment ke-6 yang diselenggarakan AMCA, The Best Article yang terpilih akan dipresentasikan di Brunei Darussalam.

Wahyuningsih, ketua tim yang menempati urutan pertama The Best Article, mengaku memang sudah pernah meraih prestasi yang sama yang diselenggarakan lembaga lainnya. Namun, untuk kegiatan dari AMCA, ia baru kali pertama dan langsung menempati posisi teratas.

“Setiap tahunnya memang selalu ditetapkan the best paper yang dilaksanakan AMCA dan terus terang saya baru ikut untuk pertama kalinya di kegiatan yang dilaksanakan AMCA, meskipun ini sudah ke-3 kalinya meraih hal yang sama, tapi cukup menggembirakan juga,” ungkap Dosen FEKON UNTAD itu.

Artikel berjudul “Strategic Formulation of Resources Management To Reduce Poverty”, dosen yang akrab disapa Ibu Ayu itu bersama 3 rekannya, Husna, Rostiati Dg. Rahmatu dan Nilu Putu Evvy Rosanty berhasil mengalahkan sekitar 300 peserta  dari negara ASEAN yang tergabung dalam AMCA.

Ayu menjelaskan penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh kepedulian terhadap masyarakat SULTENG, terkhusus kabupaten Donggala dengan angka kemiskinan yang tinggi karena keterbatasan SDM.

“Di sana SDA pertanian terutama kelapa sangat melimpah. tapi, mereka hanya mengekspor bahan mentah, sehingga nilai jualnya rendah dan akibatnya masih sangat banyak kemiskinan,” tuturnya.

Dalam penelitian tersebut, mereka berupaya agar masyarakat dapat diberdayakan dan mampu mengolah sumberdaya lokalnya, guna menurunkan tingkat kemiskinan di kabupaten Donggala.

“Kami ingin mereka bisa mengolah sendiri, agar penyerapan tenaga kerja juga terjadi di daerah mereka dan tentunya akan mengurangi jumlah pengangguran di daerah tersebut, serta harga jual kelapa pun meningkat karena sudah diolah, sehingga dapat menurunkan tingkat kemiskinan,” terangnya.

Ia berharap masyarakat bisa bangkit dari kemiskinan, melalui pemanfaatan sumberdaya alam yang mereka miliki, yaitu keunggulan lokal yang tidak dimiliki daerah lain.

Ia menuturkan, namun penelitian tersebut merupakan penelitian konseptual, sehingga mereka masih akan melakukan penelitian lanjutan sebagai penerapan pnelitian tersebut. Vv