Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri, 2019 Banyak Sistem Yang Berbeda

Keterangan Foto: Prof: Sutarman didampingi Rudy Gosal, dan Dr. Darsikin saat menyampaikan informasi terkait seleksi masuk PTN. Foto: Ikerniaty Sandili/MT

Bertempat di ruang Chef Inaf, Universitas Tadulako kembali membuka pendaftaran seleksi masuk perguruaan Tinggi Negeri pada 2019 ini. Hal ini disampaikan Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi Negeri (LTMPT) Untad, pada Selasa (12/02).

LTMPT dilatarbelakangi beberapa hal, yakni (1) Peningkatan kualitas proses seleksi penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi (PT) telah menjadi kebutuhan dan kebijakan nasional. (2) Diperlukan satu sistem tes berstandar nasional dalam kesatuan sistem pendidikan nasional untuk masuk perguruan tinggi. (3) Diperlukan pengembangan model dan proses seleksi calon mahasiswa baru masuk Perguruan Tinggi yang sesuai perkembangan teknologi informasi, dan era digitalisasi serta tuntutan masyarakat. (4) Diperlukan model tes dan seleksi calon mahasiswa baru yang mengacu pada prinsip-prinsip adil, transparan, fleksibel, efisien, dan akuntabel. Dan (5) Diperlukan instrumen andal yang mampu mengukur potensi dan kompetensi akademik peserta.

Jalur dan kuota daya tampung penerimaan mahasiswa baru, program sarjana Perguruan Tinggi Negeri tahun 2019, untuk SNMPTN minimum 20 % dari kuota daya tampung setiap program studi di PTN, dan untuk SBMTPN 40 %, dan SMPTN 30 %. Berdasarkan hal tersebut, Untad menyiapkan kuota sebanyak 8.705 mahasiswa baru (maba), yang dibagi dalam tiga tahap seleksi yakni Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dengan kuota 1829, Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), dengan kuota 4265, dan sebanyak 2611 untuk Seleksi Mandiri Masuk Perguruan Tinggi Negeri  (SMMPTN).

Sistem seleksi SBMPTN tahun ini, terdapat beberapa perbedaan dari tahun kemarin. Hal itu disampaikan Prof Sutarman Yodo selaku ketua panitia Ujian Tulis Berbasis Komputer LTMPT Untad.

“Biasanya lulusan SBMPTN itu selalu kalah bersaing dengan lulusan SNMPTN. Karena itu pada tahun ini, sistem penerimaannya tidak seperti dulu. Beberapa pihak menganggap sistemnya seperti dulu. Tahun ini mahasiswa harus mengikuti tes seleksi dulu. Setelah nilainya keluar, baru boleh memilih jurusan atau program studi. Tahun kemarin kan, memilih program studi dulu baru tes seleksi,” terang Prof Sutarman.

Masih menurut Prof Sutarman, calon maba nantinya akan diberikan kesempatan tes seleksi beberapa dua kali. Secara otomatis, nilai yang tinggi itulah yang berlaku, untuk memilih jurusan atau prodi. Sehingga kemungkinan tidak diterima adalah standar nilai yang ditentukan pada tiap-tiap Prodi, atau kuota sudah terpenuhi.

Selain itu, lanjut Prof Sutarman, perubahan sistem lainnya adalah tes dilakukan berbasis komputer. Sehinga untuk memenuhi kebutuhan tes tersebut, Untad didukung beberapa sekolah di Kota Palu menyiapkan 900 unit komputer.

Pada kesempatan yang sama, hadir pula Sekretaris Panitia, Rudy Gosal SE MSi bersama kordinator Humas panitia Dr Darsikin MSi. Senada dengan Prof Sutarman mengenai adanya perbedaan sistem pada tahun ini dan tahun kemarin, Dr Darsikin menambahkan bahwa pergeseran jumlah kuota juga menjadi hal yang berbeda.

“Tahun kemarin kan kuotanya masing-masing 30%. Berbeda dengan 2019. Selain itu, hal yang berubah adalah jalur SNMPTN, pilihan program studi, dan sistem tes baik tes pertama maupun tes kedua. Tahun ini, pada pilihan program studi, Setiap siswa diperbolehkan memilih paling banyak dua program studi dari satu PTN atau dua PTN. Untuk jalur SNMPTN dengan ketentuan akreditasi, akreditasi A: 40 % terbaik di sekolahnya; Akreditasi B: 25 % terbaik di sekolahnya; Akreditasi C dan lainnya: 5% terbaik di sekolahnya,” imbuhnya.

Dr Darsikin juga menyampaikan pendaftaran pertama dibuka tanggal 1 s.d 24 maret, dengan jadwal tes tanggal 13 April s.d 4 Mei.

“Sementara gelombang kedua tanggal 11 s.d 26 Mei, dan tes gelombang kedua tanggal 11 sampai 26 Mei. Peserta yang mengikuti tes dua kali, harus mendaftar pada gelombang pertama dan kedua, lalu pasca 10 hari tes, akan diberikan hasilnya secara individu,” jelas Dr Darsikin.

Materi UTBK nantinya terdiri dari Tes Potensi Skolastik (TPS) dan Tes Kompetensi Akademik (TKA). TPS mengukur kemampuan kognitif yang dianggap penting untuk keberhasilan di sekolah formal, khususnya pendidikan tinggi. Dalam TPS yang akan diuji adalah kemampuan penalaran umum, kemampuan kuantitatif, pengetahuan dan pemahaman umum, serta kemampuan memahami bacaan dan menulis. Kemampuan kuantitatif akan mencakup Pengetahuan dan Penguasaaan Matematika Dasar. Pada TPS, sebagian soal disajikan dalam Bahasa Inggris.

Sedangkan TKA Mengukur pengetahuan dan pemahaman keilmuan yang diajarkan di sekolah dan diperlukan untuk seseorang dapat berhasil dalam menempuh pendidikan tinggi. TKA juga mengukur kemampuan kognitif yang terkait langsung dengan konten mata pelajaran yang dipelajari di sekolah. Penekanan tes adalah pada Higher Order Thinking Skills (HOTS).

Untuk kelompok ujian Sains dan Teknologi, Materi ujian TPS dan TKA Saintek (Matematika Saintek, Fisika, Kimia, dan Biologi). Dan untuk kelompok Sosial dan Humaniora, Materi ujian TPS dan TKA Soshum (Matematika Soshum, Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi).  ikr

 

 

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here