Prof. Dr. Ir. Mahfudz, MP: NAKHODA BARU KAMPUS KAKTUS

Prof Dr Ir Mahfudz MP, lelaki kelahiran tahun  1962, pada bulan keenam tanggal 29, kini resmi menjabat sebagai Rektor Universitas Tadulako (Untad), yang dilantik pada 6 Maret kemarin. Menjadi nakhoda Kampus Kaktus, setelah sebelumnya menjalankan amanahnya sebagai Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan. Prof. Mahfudz, sapaan akrabnya, juga tercatat sebagai dosen  di Fakultas Pertanian Untad, sejak tahun 1987 hingga sekarang.

Selain sebagai dosen, dan sebelum menjabat Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan, Prof. Mahfudz pernah menjabat Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan di Fakultas Pertanian, dan Ketua Dewan Pertimbangan Untad.

Alumni SMA Negeri 1 Palopo itu juga aktif sebagai anggota tim ahli di Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Petani Marginal sejak 16 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2003 hingga saat ini. Prof. Mahfudz, juga aktif di Pusat Asosiasi Weed Indonesia dan Tim Ahli di Pusat Studi Lingkungan dan Hidrologi (PKLH) dari Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako pada 2007 hingga sekarang.

Sederet aktivitas Nakhoda baru Untad ini, tidak hanya berhenti disitu. Ia juga tergabung dalam Center of Tropical Forest Margin (CTFM) sebagai tim management, yang  juga Secara aktif memberi informasi pada petani tentang Pengendalian Gulma.

Prof. Mahfudz yang menyelesaikan studi S1 nya di Universitas Hasanudin pada 15 April 1896, memiliki Visi: Membangun Universitas Tadulako berdaya saing Tinggi yang SMART. Sementara ada 4 poin yang terdapat dalam misinya yakni: (1) Menyelenggarakan Pendidikan, pembelajaraan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat  melalui perluasan akses, peningkatan mutu, penelitian dan inovasi; (2) Memperkuat kelembagaan dan tata kelola keuangan yang transparan dan akuntabel; (3) Menyelenggarakan sistem informasi berbasis IT yang terintegrasi, dan (4) Penguatan kerjasama nasional dan internasional dalam bidang Pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.  Visi dan misinya itu ia paparkan dalam penjaringan Rektor Untad memilih 3 dari 4 calon Rektor Perguruan Tinggi ternama di Sulawesi Tengah ini.

Alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1993, dan mendapat gelar magister, menyampaikan sederet idenya untuk Untad ke depan. Ia yang fokus pada Agronomy sejak S1, S2, hingga S3, mengurai program-programnya itu yang sebelumnya menyatu dalam Visi dan Misinya.

Dalam gagasannya, Rektor Untad yang aktif meneliti di tengah-tengah kesibukannya, menyampaikan kondisi Untad sebelum dan setelah musibah Gempa, Tsunami, dan Liquifaksi, yang juga berefek banyak pada sarana dan prasarana Untad yang tidak layak pakai. Tidak hanya itu, Prof. Mahfudz mengajak seluruh lapisan Untad untuk bernostalgia dengan Untad.

“Pada 1981 Untad mulai berdiri, dan menjadi Perguruan Tinggi terbesar di Sulawesi Tengah pada tahun 1985. Berjalannya waktu, tahun 2010, Untad menjadi Universitas yang unggul dalam managemen kelembagaan dan sumber daya manusia. Lalu tahun 2020, diharapkan Untad unggul di tingkat nasional dan diakui pada tingkat ASEAN. Sepuluh tahun kedepan, tahun 2030, Untad menjadi Universitas terkemuka di tingkat regional Asean. Lalu tahun 2045, Tadulako as world class university,” tuturnya yang meraih gelar akademik Doktor pada 3 Februari 2005 di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Dengan wajah serius tapi tetap menghadiahi senyum, Prof. Mahfudz mengatakan bahwa SMART adalah kepanjangan dari: Strengthen of Unit Service, Manpower Development, Adaptability of Policies , Reorienting of Vision, dan Total achievement. SMART ini melingkupi Dosen, tenaga pendidik, mahasiswa, dan alumni.

Ketika ditanya mengenai pengembangan Untad pada masa tampuk kekuasaannya, Prof. Mahfudz di tengah-tengah kesibukkannya mendatangi sejumlah berkas, dan menerima kedatangan beberapa mahasiswa, mengatakan bahwa ada beberapa pilar yang ia rancang untuk mengembangkan Untad pada masa kepemimpinannya, sesuai dengan misinya. Pilar tesebut yakni, Pembelajaran dan Mahasiswa, Inovasi, Penelitian dan Pengabdian pada  Masyarakat & Kerjasama  International, Kelembagaan, Sumber Daya, dan Tata Kelola.

Dosen yang sempat membagi ilmunya pada semester genap tahun 2012 di Universitas Al-Khairat, menyampaikan bahwa pilar pembelajaran dan mahasiswa meliputi beberapa hal, diantaranya Perluasan Akses dan APK, peningkatan kualitas lulusan, orientasi kegiatan mahasiswa dan kemahasiswaan (mahasiswa berprestasi, pengembangan lembaga kemahasiswaan, mahasiswa berwirausaha, pengembangan minat dan bakat, wawasan kebangsaan dan deradikalisasi, kerjasama dan kepemimpinan, serta intenship).

Profesor yang telah melahirkan sejumlah publikasi di jurnal terindeks scopus, bersama tim, melanjutkan penjelasannya mengenai pilar-pilar. Pilar kedua, Inovasi, Penelitian dan Pengabdia pada  masyarakat & kerjasama  International yang meliputi; Alokasi Pendanaan PNBP 10%-15%, Penelitian Kerjasama, Peneliti, Reviewer, Publikasi Nasional dan  Internasional, Buku/Bahan Ajar, Central HAKI, Pengembangan Inovasi, Monitoring dan Evaluasi, Peningkatan Mutu. Peningkatan mutu, akan dikembangkan dengan meningkatkan kolaborasi international, diantaranya: Aciar, UN , Jerman, U.S.A, Taiwan, Jepang, Kamboja, Thailand, Usaid, Australia, Praha, United of Kingdom, Korea, Kanada, Malaysia, dan Filiphina.

Pilar ketiga, Kelembagaan. Pada pilar ini, pria yang sudah menetap di lembah Palu sekian lama ini, menghimpun sejumlah rencana. (1) peningkatan akreditasi prodi dan Laboratorium yang ditargetkan 15% prodi terakreditasi unggul. Untuk mencapai hal tersebut, sembari tersenyum Prof. Mahfudz membeberkan strateginya. Yang pertama, perubahan alokasi anggaran 60:40. Kedua, penyusunan rencana kerja dan anggaran setiap Fakultas berbasis akreditasi. Ketiga, pembentukan Pusbang Khusus Akreditasi APT dan Prodi, dan terakhir, pemberian reward prodi terakreditasi unggul (A).

(2) Penambahan prodi baru sesuai kebutuhan. (3) Prodi luar kampus utama: percepatan akreditasi prodi, penyiapan SDM/dosen tetap berdomisili, dan peningkatan peran Pemda.

Pilar keempat, Sumber Daya. Dibagian ini, lelaki itu masih terus tersenyum. Sambil memperbaiki posisi kaca matanya, ia melanjutkan. Untuk sumber daya, peningkatan jumlah jabatan fungsional dosen, ditargetkan 10% bergelar profesor. Sementara peningkatan jumlah kualifikasi pendidikan dosen (S3); target Doktor mencapai 55%, memfasilitasi dosen lanjut studi S3, dosen muda (asisten ahli) dipacu dan difasilitasi untuk lanjut kuliah ke luar negeri.

Peningkatan jumlah kualifikasi pendidikan Tendik, sembari memperbaiki posisi duduknya, ke depannya, akan diwajibkan tenaga laboran dan pustakawan untuk mengikuti sertifikasi, mendorong tendik untuk melanjutkan studi S1 dan S2, kebijakan pengurangan tarif UKT maks imal kategori II (S1) dan S2 sebesar maksimal 50%, memberikan reward bagi tendik yang cepat menyelesaikan studi, dan tendik non fungsional mengikuti pelatihan dan workshop sesuai kebutuhan praktis.

Pilar kelima, Tata Kelola. Bagian terakhir, pilar kelima ini, dosen yang pernah membagi ilmunya di sekolah Tinggi Teknik Kelautan Balik Diwa pada 2010, merangkum beberapa hal, diantaranya (1) Reformasi birokrasi, dengan 8 area perubahan: manajemen perubahan, penataan peraturan per-UU, penataan dan penguatan organisasi, penataan tata laksana, penataan sistem manajemen SDM, penguatan akuntabilitas, penguatan pengawasan, peningkatan kualitas pelayanan publik.

(2) Sistem evaluasi dan monitoring Keuangan: program simonev kementerian, program simonika untad, program sirenang kementerian (pemantauan evaluasi kinerja secara real time  terhadap semua pimpinan unit, setiap triwulan pemaparan hasil kinerja keuangan dan capaian kontrak kinerja). Hasilnya diharapkan akuntabilitas-WTP (Wajar Tanpa Pengecualian). Untuk mewujudkan pilar keempat, seperti pada pilar-pilar sebelumnya, Prof. Mahfudz memiliki strategi yaitu Penambahan Bandwith secara gradual, Pengembangan sistem informasi administrasi umum dan keuangan, dan Pengembangan software non akademik (penetapan kategori UKT online).

“Sejumlah hal memang mesti kita rencanakan dengan baik. Karena meskipun gedung kita runtuh, semangat Berpacu untuk kemajuan Untad harus terus Bergelora, agar kita tetap menjadi satu Untad, satu Nafas, dan Satu Keluarga,” ujar nakhoda baru kampus kaktus, Untad, di Bumi Tadulako.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here